
"Bagaimana dengan temanku, Ma?" tanya Sabrina.
"Dia dalam keadaan yang buruk. Mentalnya juga terganggu. Mama sudah membawanya ke dokter spesialis yang akan menanganinya. Nanti setelah kau sembuh, kau bisa menjenguknya. Lalu selanjutnya, anak-anak di panti asuhan akan kami pindahkan ke tempat yang layak. Mengingat keadaan mereka juga sedang terguncang. Kami akan memberikan mereka beasiswa yang full. Jangan khawatir juga dengan kehidupan mereka ke depannya. Keluarga Wijaya bisa menjamin mereka," papar Elena.
"Benarkah, Ma? Keluarga kita akan menjamin mereka? Semua anak-anak itu? Pasti mereka bahagia, Ma. Kata Bunda Ratih mereka sangat jarang mendapatkan bantuan. Aku yakin, setelah ini kehidupan mereka akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang mengusik mereka lagi," sahut Sabrina dengan senyuman menghiasi bibirnya.
William dan Artur hanya mematung di tempatnya. Keduanya cukup terharu karena keluarga Wijaya bahkan akan menjamin masa depan dari anak-anak yang tak bersalah itu. Sungguh keluarga Wijaya tak seperti yang mereka kira. Nyatanya justru mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak di panti asuhan.
"Pantas saja keluarga Wijaya melegenda. Ternyata mereka juga selalu mengulurkan bantuan tanpa pandang bulu. Ah, aku dulu memiliki pikiran yang begitu picik." Artur membatin.
__ADS_1
"Terima kasih, Ma. Aku benar-benar kecolongan. Tidak menyadari tentang Aretha yang diculik. Saat aku mengingat-ingat tingkah Aretha ketika pertama kali bertemu. Sangat berbeda jauh dengan yang sekarang. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Aretha yang palsu? Apa Amelia telah berhasil membekuk Aretha palsu?" tanya Sabrina.
"Eh, aku lupa memberikan kabar!" celetuk Elena.
Dengan cepat ia segera mengambil ponselnya. Elena mencoba menghubungi Amelia. Sayangnya, telpon yang tersambung itu justru tak segera diangkat oleh si empunya ponsel. Hingga tiba-tiba pintu kamar Sabrina terbuka lebar. Muncullah Amelia tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hem. Kau pikir aku tidak bisa melacak di mana kalian berada? Itu bagiku sangat mudah. Kau terluka?" balas Amelia. Ia berjalan mendekati ranjang pesakitan Sabrina.
"Aku hanya sedikit ceroboh. Bagaimana Aretha palsu?" Sabrina tak sabar untuk segera mengetahui kabar itu.
__ADS_1
"Kau tidak sabar rupanya. Tenang saja. Semua baik-baik saja. Setelah kau pulih, kau bisa menyiksanya tanpa ampun. Makanya, cepatlah pulih. Aku hanya membuat dia lumpuh saja. Supaya dia tidak bisa kabur," sahut Amelia.
Gadis itu mengatakan hal yang mengerikan dengan santai. Membuat Artur dan William meneguk salivanya. Keduanya benar-benar merasa ngeri. Sedangkan Elena dan Rendy hanya mampu menggelengkan kepala. Mereka berdua tak habis pikir. Dua anak gadisnya memiliki kemampuan untuk menyiksa musuh. Sungguh berbanding terbalik dengan Steward. Pria itu memilih untuk melanjutkan bisnis kian melebar ke negara sebelah. Itu adalah pencapaian yang luar biasa.
"Bagaimana rencanamu selanjutnya, Honey? Aku rasa sebaiknya menunggu kau sehat kembali. Jangan sekarang. Kuharap kau tidak terburu-buru, Honey," ujar William.
"Aku akan menunggu setelah keadaanku lebih baik. Kau tenang saja, Honey. Aku tak menyangka, kau akan ikut bersamaku untuk berjuang bersama, Honey. Kau tidak menyesal bukan? Aku minta maaf karena telah menyeretmu ke dalam masalah ini." Wajah Sabrina berubah menjadi sendu.
"Honey, jangan berkata begitu. Aku tidak pernah menyesal. Aku dan Artur saja tidak protes dan memilih untuk bergabung bersama keluargamu. Pikiranmu kenapa selalu aneh sih? Sekarang kau lebih baik fokus pada kesehatanmu. Kau sudah berjanji kepadaku. Untuk jalan-jalan menikmati masa-masa indah ini," tukas William.
__ADS_1