
"Panggil tiga orang pengawal kemari," Rangga segera melesat pergi. Kemudian kembali lagi bersama tiga orang pengawal lagi.
"Kalian lihat wanita sialan itu?"
Mata Intan membulat Smith mengatakannya wanita sialan. Dalam satu malam saja laki-laki paruh baya itu telah berubah. Kelima pengawal menganggukkan kepala dengan cepat.
"Aku berikan wanita sialan ini pada kalian. Nikmatilah tubuhnya sesuka kalian. Aku akan mengawasi kalian dari tempat lain. Buat dia menderita dan mendesah penuh kenikmatan. Kalian juga boleh memanggil teman kalian kemari,"
"Sayang, kenapa kau seperti ini kepadaku? Aku kekasihmu bukan?"
Perkataan Smith membuat mereka semua saling berpandangan. Bukankah wanita itu adalah wanita bosnya.
"Tapi..."
"Aku sudah membuangnya. Berikan aku pertunjukan yang menarik," Smith mendekati intan yang menggigit bawah bibirnya. "Aku yakin kau akan membuangku begitu aku sudah tidak berguna lagi. Maaf aku tidak sebodoh itu. Nikmatilah dan mendesahlah,"
__ADS_1
"Ingatlah permainan kalian akan terlihat dalam video itu. Jadi jangan kecewakan aku," Smith kembali mendudukkan tubuhnya dikursi belakang kamera video itu. "Aku akan melihat kerja kalian dari sini. Aku berikan kalian bonus nantinya,"
Ucapan Smith semakin membuat intan merinding. Air mata mulai membasahi wajahnya. Bagaimana dia bisa dibuang begitu cepatnya. Padahal dia belum menikmati harta dari keluarga Wijaya. Seorang laki-laki menatapnya nyalang. Dia begitu tergiur dengan tubuh molek yang tergeletak di ranjang dengan kedua tangan terikat. Saat ini intan memakai terusan yang panjangnya sangat jauh diatas pahanya dengan sebuah tali kecil dikedua pundaknya. Menampakkan kemolekan tubuhnya yang putih bersih.
"Jangan mendekat!"
Seorang laki-laki kemudian mengambil sebuah sapu tangan dan menyumpalkannya dimulut intan. Membuat wanita itu tak bisa menyuarakan suaranya.
Kedua kaki intan diikat dengan sebuah tali. Hanya bisa menggerakkan sedikit kakinya. Dengan cepat tubuh intan sudah terekspose telanjang. Dengan dua buah dada yang menjulang. Mereka pun memulai aksi mereka. Satu persatu mulai menjamah tubuh intan. Wanita itu sedikit memberontak. Namun apa daya. Tubuhnya justru menerima setiap sentuhan itu dengan nikmatnya.
Tiga jam berlalu. Berarti sudah tiga jam intan melayani nafsu bejat kelima orang laki-laki itu. Matanya menatap nanar tubuhnya yang lemas dan telanj**** itu. Saat ini sudah laki-laki kelima yang menyentuhnya. Tubuhnya sudah sangat lemas. Air mata terus membanjiri wajahnya. Kelima orang pengawal itu telah selesai. Smith memandang tubuh telanj*** yang terpampang jelas di ranjang dengan jijiknya.
Video selesai. Durasi yang sangat panjang membuat Smith tersenyum puas.
"Rangga, bawa rekaman video ini salin sebanyak mungkin. Kita lihat apakah dia bisa melarikan diri atau tidak. Pergilah, buka penutup mulutnya,"
__ADS_1
Sumpalan dimulut intan dilepas. Membuat wanita itu bisa menyuarakan suaranya kembali.
"Kenapa kau melakukan ini?"
"Apa lagi? Bukankah kau menikmatinya? Kau seakan memberontak tapi lihatlah cairan kenikmatanmu tidak bisa membohonginya hahahaha,"
"Kau brengs**!!"
"Aku? Hahaha jangan harap kau bisa menjadi nyonya Wijaya. Kau perempuan kotor. Pergilah dari kehidupan keluarga Wijaya. Aku ada sebuah tempat yang cocok untuk wanita jala** sepertimu. Jika kau berani kabur dari sana. Ingatlah dengan video yang sedang dicopy itu. Atau aku dengan senang hati akan menyebarkannya. Ahahha,"
"Kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Kau memang pantas mendapatkannya. Kau ingin aku melenyapkan seseorang yang tidak berguna bukan? Tapi nyatanya dia adalah anak kandungku! Anak kandungku!"
Teriakan Smith menggema diudara. Membuat intan merinding. Apa katanya tadi anak kandung? Bagaimana bisa?
__ADS_1