Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 325. Pepet Terus


__ADS_3

Sabrina mengetikkan beberapa pesan untuk Danar. Ia meminta izin untuk mengundur jadwal misi. Karena Sabrina harus menggantikan sekretaris, yang kemarin telah ia pecat. Sesekali nampak Sabrina berfikir. Usaha apa lagi, yang harus ia lakukan agar William bisa sedikit lebih dekat dengannya? Ah, Sabrina menjadi malas sendiri.


"Ini baru permulaan. Jangan sampai aku kalah sebelum peperangan. Toh, Uncle William tidak bisa menjauhiku lebih lama. Ya, selama satu Minggu ini, aku akan menggunakannya sebaik mungkin."


Sabrina bangkit. Ia harus segera membersihkan dirinya, mengingat akan pergi ke kantor William. Setidaknya, ia akan melakukan aksinya. Lima belas menit kemudian, Sabrina nampak keluar dari kamar mandi. Gadis itu berjalan menuju lemari pakaiannya. Saat ia pindah kemari, mulai saat itu pula tidak ada walk in closet miliknya. Terlebih, kamar ini jauh lebih sempit dari kamarnya yang dulu. Sudah sangat jelas, jika hanya bisa memiliki 2 lemari saja. Lalu 1 rak sepatu, disana.


Sabrina mematut diri di depan cermin. Cukup puas, karena setidaknya ia memiliki tubuh yang ideal. Ia kemudian menyambar tas, dan berjalan keluar dari kamar. Terlihat William sudah menunggu di meja makan bersama Artur.


"Selamat pagi," sapa Sabrina.


"Selama pagi, Sabrina," sahut William.



Pria itu melirik Sabrina. Mengawasi gerak-gerik gadis yang kini dibalut dengan pakaian yang terlihat berbeda dari biasanya. Sabrina kini berkutat di dapur. Entah apa yang sedang ia kerjakan. William melirik diam-diam, dari balik layar laptop miliknya. Tak berapa lama, Sabrina kembali, dengan membawa secangkir kopi untuk William, serta satu coklat hangat untuk dirinya. Diikuti Bibi Rosi dan Agni, yang membawa makanan.


"Kopi untukmu," kata Sabrina.


"Hmm." William seakan sibuk.


Sabrina sendiri memilih mulai menikmati sarapannya. Sesuai yang ia minta, beberapa kebab yang dibuatkan oleh Bibi Rosi. Sedangkan dua orang di depannya, sarapan dengan menu yang berbeda.


"Kenapa kau memakai baju itu? Sadar tidak, jika itu jelek? Sangat tidak cocok," ejek Artur.


"Cocok atau tidak, bukan kamu yang menilai." Sabrina acuh.


Memilih untuk menikmati kebab daging dengan beberapa sayuran segar di dalamnya. Artur menatapnya dengan sinis. Sedangkan William, memilih untuk bungkam diantara perdebatan kecil itu.

__ADS_1


Selang tiga puluh menit kemudian, mereka telah menyelesaikan sarapan. William dan Sabrina lekas memasuki mobil. Melihat itu, Arturpun tiba-tiba masuk ke dalam mobil. Remaja itu, tidak terima jika William dan Sabrina berduaan. Artur duduk di samping kursi kemudi.


"Kenapa kau ikut?" tanya Sabrina.


"Kau saja bisa ikut, kenapa aku tidak?" ketus Artur.


"Aku akan membantu ayahmu di perusahaan. Sedangkan kau? Apa kau mau luntang-luntung tidak jelas?" Sabrina menyindir dengan sangat jelas.


Artur mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar murka, karena Sabrina terus menjatuhkan harga dirinya. Semakin lama, Artur semakin tidak merestui pernikahan mereka.


Sabrina. Lihat saja. Aku tidak terima, kau menggantikan posisi ibundaku. Aku akan membuatmu, seperti hidup di neraka. Tega sekali kau, memanfaatkan kelemahan ayahku. Lihat, aku akan mengacaukan pekerjaanmu. Artur membenci hari dimana, William dipaksa menikahi Sabrina.


Kini mereka berempat telah sampai di perusahaan. Ryu membuka pintu mobil untuk William. Saat ia hendak membukakan pintu mobil untuk Sabrina, gadis itu justru telah keluar dari mobil.


Mereka lalu memasuki kantor. Banyak pasang mata yang melirik kedatangan mereka. Terlebih ke arah Sabrina, yang berjalan dengan anggun di tengah-tengah para pria tampan. Sesekali kasak kusuk terdengar. Tentang Sabrina kemarin yang baru saja membuat keributan. Memecat seseorang, yang bahkan langsung disetujui oleh William.


Sabrina melihat-lihat meja kerja yang akan ia gunakan selama satu Minggu itu. Sesaat, Sabrina mengulum senyuman. "Kau hanya perlu, sedikit memberitahuku tentang keadaan perusahaan per hari ini. Aku sudah memahami etika di perusahaan." Sabrina membuka suara.


Kedua alis William menukik tajam. Pria yang berusia 32 tahun itu, baru menyadari jika Sabrina berbeda. "Baiklah. Aku yakin kau juga telah belajar bisnis, dari Rendy. Duduklah, dan ya. Sesuai janjimu kemarin, kau akan membantuku," pungkas William.


"Aku tidak akan mengingkari janji," sahut Sabrina.


Ia membuka dokumen-dokumen yang ada di meja. Wajahnya kali ini terlihat serius. William memilih beranjak, setelah ia mengamati dengan seksama wajah Sabrina. Diikuti Artur dan Ryu.


"Ayah, kenapa membawanya ke tempat kerja?" kesal Artur. Begitu mereka telah sampai di ruangan William.


William menoleh ke arah Artur. Pria itu lalu menghembuskan nafas dengan kasar. Pikirannya kembali kalut. Kenapa dengan cepat mengizinkan Sabrina, ikut ke perusahaannya? Ah, semakin lama William tak mengerti dirinya sendiri.

__ADS_1


"Itu karena Sabrina harus bertanggungjawab. Karena kemarin, dia membuat masalah. Sudahlah, Artur. Ayah tahu, apa yang kau pikirkan. Tidak perlu khawatir. Ayah bisa menjaga diri Ayah sendiri. Ngomong-ngomong, kenapa kau ikut kemari?" tanya William.


"Aku takut, Ayah pergi ke suatu tempat. Bersama Sabrina dan membohongiku. Siapa yang tahu, kalian akan bertambah dekat seiringnya waktu. Aku disini saja, Yah. Silahkan bekerja." Artur menjatuhkan bokongnya, di sebuah sofa panjang. Sebelum akhirnya terdengar pintu ruangan presdir yang diketuk.


Tok tok tok.


"Masuk," sahut William.


Terlihat Sabrina menyembul dari balik pintu. Segera, Artur menatapnya dengan tatapan mengejek. Sedangkan William, termenung di tempatnya. Bagaimana tidak? Bukankah kemarin, Sabrina membuka pintu tanpa mengetuk? Lantas mengapa sekarang gadis itu justru mengetuk pintu? William menjadi bingung.


"Maaf, Tuan William. Anda ada jadwal meeting, 30 menit lagi. Saya sudah menyiapkan berkas-berkas, yang akan dibawa," tutur Sabrina.


Hal itu membuat ketiga orang itu mematung seketika. William sendiri, hanya mampu mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Tak hanya itu, Artur bahkan melongo melihat perubahan Sabrina.


"Bisakah, kita segera bersiap? Sepertinya, waktu kita tidak banyak. Mengingat, saya juga harus mempelajari proposal yang akan saya pakai untuk presentasi," tegas Sabrina. Di wajahnya, jelas berbeda sekali dari biasanya. William dibuat salah tingkah.


"Ah, Ryu. Ambilkan segera proposal yang akan kita pakai untuk meeting. Berikan pada Sabrina." Seketika William menjadi gugup.


"Baik, Tuan." Ryu segera menyambar satu dokumen. Lalu memberikannya kepada Sabrina, untuk dipelajari.


Sabrina menerima proposal tersebut. Akan tetapi, dahinya justru berkerut. "Kenapa Anda berdua malah diam? Bukankah kita harus masuk ke dalam ruang meeting?" tegas Sabrina.


Lagi, Sabrina membuat William salah tingkah. "Baiklah." Pria itu bangkit.


Kemudian berjalan keluar ruangan. Di belakang, disusul Ryu dan juga Sabrina yang membawa beberapa proposal. Ia harus segera mempelajarinya, dalam waktu yang singkat.


William merutuki sikapnya yang gugup. Bagaimana bisa menjadi seperti ini? Batinnya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2