
"Rendy! Hari ini aku sangat bahagia sekali. Terima kasih atas kejutan-kejutan yang kau berikan padaku. Ini merupakan hari yang indah sepanjang hidupku," ucap Elena dengan meraba sebuah gelang tangan yang indah bermatakan sebuah berlian.
"Baguslah jika kau menyukainya. Selama ini aku kan selalu mengurungmu, jadi alangkah baiknya jika aku mengajakmu keluar dari mansion. Ingat, pakailah gelang itu kemanapun kau pergi. Jika kau melepasnya sedetik saja, maka aku akan menganggap jika kau telah melepaskan cintaku. Apa kau mengerti?"
"Baiklah." Ada perasaan bahagia menyelimuti hati Elena. Bahkn tak ayal lagi semburat rona merah muda memenuhi kedua pipinya.
Rendy yang melihat wajah wanitanya yang bersemu, tersenyum bahagia. Rasanya tinggal sedikit lagi maka Elena akan benar-benar terlepas dari masa lalunya.
"Baiklah, ayo kita pulang. Kei dan Danar sudah menunggu kita. Jangan biarkan jomblo ngenes seperti mereka makin ngenes melihat kita yang terlalu bahagia," kata Rendy sembari menarik tangan Elena agar Elena mengikuti Rendy.
"Hei, apa-apaan kau? Bukankah kau yang membuat mereka semua jomblo, Rendy? Kaulah yang tidak memiliki belas kasih pada mereka berdua!"
"Elena diamlah! Aku sudah memberimu hadiah. Tapi kau sama sekali tidak pernah memberiku apapun!"
__ADS_1
Sialan. Kau terkadang selalu.menjebakku, Rendy. Tapi kau jugalah yang selalu memberikan kabahagiaan kepadaku.
*****
"Lady! Kaulah yang bertugas mengawasi Elena. Mengapa kau bisa kecolongan? Aku harus menarik Elena kembali ke tanganku! Atau aku akan kehilangan pion terbesarku! Kalian jangan berhenti! Cambuk dia 15 kali lagi! Ini peringatan untukmu yang pertama dan terakhir kalinya, Lady. Aku harap kau tidak akan mengecewakanku kali ini. Jika tidak, aku akan melenyapkanmu."
Seorang wanita paruh baya berlalu begitu saja. Meninggalkan Lady dengan seorang lelaki yang masih mengayunkan cambuknya. Bahkan punggungnya telah bersimbah darah. Setelah sekian lama, 15 kali cambukan itu telah selesai. Menyisakan sebuah rasa sakit yang tiada tara hingga menyebabkan nafas Lady tersengal. Seperkian detik berikutnya gadis itu terjatuh tak sadarkan diri.
****
"Apa rencanamu selanjutnya, Elena?"
Deg.
__ADS_1
Jelas saja aku harus memutuskan untuk mundur dari The Queen. Baru aku bisa lepas seenuhnya dan bisa hidup berasamamu, Rendy.
"Aku ingin segera menikahimu. Bagaimana menurutmu?" tanya Rendy sekali lagi. Lelaki itu menoleh. Menatap iris mata milik Elena.
Apa yang harus aku katakan?
"Elena, apa kau keberatan jika aku ingin segera memantapkan hubungan kita berdua?"
"Tidak, aku tidak keberatan sama sekali. Tentu saja aku bahagia," jawab Elena dengan gugup.
Ada sesuatu yang Elena sembunyikan! Dan aku tau jawabannya. Apa kau tak ingin jujur padaku, Elena? Jika kau jujur padaku, maka dengan mudahnya aku mampu menggulingkan tangan orang yang ada di balikmu. Kata Rendy dalam hati.
"Elena, keinginanku terbesar adalah dirimu. Secepatnya membuatmu menjadi milikku tanpa adanya kesepakatan diantara kita itu. Bagaimana jika secepatnya saja kita menikah?" desak Rendy. Kedua netra matanya menatap sendu kedua iris mata milik Elena. Tatapan dari Rendy menghujam dalam hatinya.
__ADS_1
"Rendy, bisakah kau memberikanku sedikit waktu lagi?"