
"Menurutmu begitu?" tanya Ardi. Pria itu menatap Sabrina dan William dari kejauhan. "Bisa jadi sih. Melihat usia mereka yang begitu jauh. William kan usianya sama denganku. Semua banyak kemungkinan."
"Itu artinya, bukankah kita bisa menggilirnya? Dia saja jadi simpanan William. Seperti wanita yang selalu melayani di atas ranjang bukan? Kupikir, kita hanya perlu cara untuk mendekatinya. Bagaimana?" Dante tersenyum simple. Hingga senyumnya lenyap. Saat ia tahu seorang pria yang masih kerabatnya itu mendekati Sabrina.
"Siapa pria itu?" Ardi sepertinya masih saja mengamati Sabrina dengan William. Buktinya ia tahu jika seseorang mendekati Sabrina.
"Itu Lexi saudara sepupuku. Dia mengenal Sabrina? Wow! Bukankah alam semesta saja mendukung rencana kita?" Dante memekik.
Di sana Lexi terlihat akrab dengan Sabrina. William hanya menatap tajam interaksi keduanya. Sabrina sepertinya enggan untuk membuka identitasnya di depan Lexi.
"Kenapa Sabrina malah menanggapi pria muda yang mendatangi kami? Bukankah seharusnya dia memperkenalkan diri sebagai istriku? Kenapa Sabrina tak mengatakan apapun?" William membatin seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Kau di sini Lexi? Bagaimana bisa?" Sabrina tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
__ADS_1
"Iya. Aku di sini, karena ada sepupuku. Kupikir mataku salah melihat. Ternyata tidak. Em, dia siapamu Sabrina?" Lexi bertanya dengan hati-hati.
"Oh dia pamanku. Maklum saja, dia tidak memiliki pasangan. Jadi paman mengajakku. Oh ini ayahnya Artur." Sabrina memperkenalkan William.
"Paman? Beraninya dia! Awas saja nanti setelah pulang ke rumah. Aku akan menghukumnya! Keterlaluan sekali!" William membatin kesal.
"Oh ayahnya Artur? Hai, Paman. Perkenalkan aku Lexi. Teman satu kelas Sabrina dan Artur. Salam kenal, Paman " Lexi mengulurkan tangannya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Sudah dulu ya. Aku mau mencari sepupuku. Selamat menikmati Sabrina," ucap Lexi.
"Okay." Sabrina memperhatikan punggung Lexi.
Hingga seseorang menarik pinggangnya dan berbisik. "Sepertinya kau suka sekali untuk dihukum, Honey. Akan kupastikan aku menghukummu dengan baik dan benar."
__ADS_1
Bisikan William membuat wajah Sabrina merona. "Bisa-bisanya memikirkan itu di sini! Diamlah. Lihat pembaca acara telah menaiki panggung." Sabrina mendaratkan satu cubitan di perut William. Mengakhiri perdebatan di antara keduanya.
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam ketika mobil William memasuki halaman rumah. Sabrina dan William turun dari mobil saat mobil telah terparkir cantik di garasi. Rumah tampak sepi. Mungkin Artur dan Bibi Rosi telah tidur di kamarnya masing-masing. William dan Sabrina masuk ke dalam kamar. Sabrina membuang tas kecil miliknya ke meja belajarnya begitu saja. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kupikir acaranya akan cepat selesai. Nyatanya malah banyak sekali obrolan garing yang hanya pamer kekayaan saja. Astaga! Manusia-manusia mental serakah," gerutu Sabrina.
William mengunci pintu kamarnya. Sebuah senyum penuh kemenangan terbit di bibirnya. Perlahan, ia membuka jas mahal miliknya. Kedua matanya terus menatap tubuh yang terbaring di atas ranjang itu dengan seksama.
Setelah melepaskan jas, William membuka sepatu fantovel miliknya dan meletakkannya di sembarang tempat. Terakhir, ia melepaskan kemeja berwarna putih dan membiarkannya teronggok di lantai.
"Sebagai orang yang memiliki kesalahan, kau cukup santai ya?" William mengunci kedua tangan Sabrina ke atas kepala. Membuat Sabrina membulatkan kedua mata. "Wah, masih berani melotot kau hmm?"
"Astaga! Pria ini!" jerit Sabrina dalam hati.
__ADS_1