
Like 300 author up lagi.
Rendy menatap tubuh polos yang kini tengah berada di bawah selimut. Kemudian lelaki itu menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan. Setelah puas menatap wajah yang tenang dalam buaian sang dewi malam itu, Rendy segera melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Diluar kamar, Kei dan Danar telah bersiap untuk mengikuti kemanapun langkah Rendy menjejak. Seperti yang dilaporkan Danar, lelaki yang bernama Steven itu telah berada di arena kasino terbesar di London. Jika ditilik dari situasi saat ini, Rendy ingin segera mengakhiri awal mula dendam di hidup Elena. Agar nantinya wanitanya itu terlepas dari jerat masa lalu yang membayanginya.
"Tuan, semua sudah siap." Kei dan Danar membungkukkan badannya menyambut Rendy.
"Hem."
*****
__ADS_1
Mobil kian menderu membelah jalanan kota yang mulai sunyi. Hanya sesekali mereka yang hidup di dunia malam yang berlalu lalang. Tak banyak memang, namun begitu sampai di tempat Kasino itu suasana berubah menjadi riuh. Seakan adanya sang dewi malam tak menjadi penghalang mereka untuk berada di sana.
"Good night, sir," sapa salah satu penjaga kasino itu.
Rendy, Kei, dan Danar terus menuju ke dalam. Saat berada di ambang pintu, Danar memisahkan diri. Sesuai rencana mereka mengambil posisi masing-masing. Setelah Danar memisahkan dirinya, Kei dan Rendy kembali berjalan masuk kedalam.
Aroma anggur dan berbagai minuman jenis Cocktail menyeruak pekat dihidung. Ditambah dengan wanita-wanita malam yang memakai pakaian seksi, menjajakan diri kepada para lelaki hidung belang. Suasana yang sangat kontras sekali dengan dunia malam sesungguhnya. Harta, tahta dan wanita. Jika bukan karena tujuannya, Rendy tak akan menginjakkan kakinya ke arena perjudian ini. Dari ujung seberang seorang lelaki yang usianya hampir seumuran dengannya menatapnya tajam. Seringai kecil terbit dibibir Rendy.
Bak pucuk dicinta ulampun tiba. Sesaat Rendy melangkahkan kakinya hendak menuju lawannya, lelaki itu juga berjalan mengarah padanya. Kedua lelaki angkuh itu saling bertemu dan saling menatap tajam. Kemudian Rendy mengulurkan tangannya utuk menjabat tangan lawannya itu.
"Selamat datang di kasino terbesar milikku Tuan." Lelaki asing itu menjabat tangan Rendy.
__ADS_1
"Ini pertama kalinya aku datang ke tempat anda Tuan ... Steven," bisik Rendy di telinga laki-laki yang bernama Steven itu. Sejenak Steven mematung saat identitasnya terkuak lebar.
Bagaimana dia tau nama asliku? Bahkan para penjagaku hanya mengetaui namaku ini adalah tuan S? Ckckck ini artinya dia memang bukan orang biasa. Ditambah, orang dibelakangnya sungguh memiliki aura yang menyeramkan. Semoga saja anak buahku tidak ceroboh. Rendy Saputra Wijaya, mari kita lihat seberapa pintarnya kau.
"Sepertinya nama panggungku sudah tidak berarti lagi ya? Baiklah Tuan. Mari kita bermain 3 babak. Jika kau menang, kau akan mendapatkan bnyak uang nantinya. Tetapi jika aku yang menang, bagaimana jika anda menyerahkan wanitamu?" tanya Steven dengan seringai yang menyeramkan. Seketika Rendy segera mengubah ekspresi wajah yang tidak suka. Sangat jelas diwajahnya tergambar aura yang mematikan.
"Sepertinya anda mengetahui sedikit atau banyaknya hal tentangku Tuan. Hingga membuat anda bisa tertarik dengan wanitaku. Sungguh, bukankah ini bukan suatu kebetulan anda tiba-tiba mengundangku kemari? Sepertinya anda begitu tertarik dengan wanitaku? Apa yang membuat anda tertarik pada gadis biasa sepertinya?" tanya Rendy dengan penuh penekanan.
"Gadis biasa? Ha-ha-ha, bukankah dia adalah The Queen yang dicari oleh banyak geng mafia di London?" Pertanyaan dari Steven membuat dada Rendy bergemuruh. Layaknya genderang perang, luapan emosi hampir saja terluapkan. Jika saja dia tidak mengingat ada sesuatu yang besar dibaliknya, mungkin lrlaki dihadapannya itu kini telah terjatuh karena pukulan yang akan membekas di pipinya.
"Sepertinya anda tak ingin membuang-buang banyak waktu rupanya Tuan Steven?" Rendy segera menggerakkan tangannya. Hanya dengan sekali gerakan, terdengar sebuah suara dentuman yang sangat keras.
__ADS_1
Boom.