
Sabrina terkungkung di bawah tubuh kekar milik William. Saat Sabrina hendak memprotes, bibirnya sudah diraup oleh William. Pria itu seolah tak sabar untuk memulai adegan percintaan mereka. Ciuman bibir William yang tadinya lembut, kini semakin lama semakin bertambah panas. Sabrina yang perlahan berontak, membut William melepaskan ciuman panas itu.
"Honey, kenapa kau terlihat tidak sabar?" tanya Sabrina.
Tak menjawab, William segera melepaskan pakaian yang dikenakan oleh Sabrina. Baiklah, sepertinya Sabrina paham jika William sedang berada dalam gairah yang besar. Tiba-tiba tubuh Sabrina terangkat. William mengangkat tubuh Sabrina dan menempatkannya di tengah-tengah ranjang.
"Malam ini kamu jalani hukuman yang berbeda. Ayo, kita pakai gaya baru dari bercinta!" Kata-kata William membuat Sabrina melongo.
Belum sempat Sabrina menyadari kata-kata William, pria itu justru berlari menuju lemari pakaiannya dan meraih dua dasinya. Lalu berjalan menuju ranjang kembali. William dengan cepat mengikat kedua tangan Sabrina ke sandaran ranjang.
"Ho-Honey? Apa yang kau lakukan?" Sabrina melebarkan kedua matanya.
__ADS_1
"Hei, aku sudah bilang. Kita akan memulai gaya baru, Honey. Jangan cerewet, Honey!" William kembali mencium bibir Sabrina. Tak membiarkan Sabrina memprotes apapun. Malam yang panjang pun mereka lalui dengan panas.
---
"Selamat pagi, Artur!" sapa Sabrina.
Artur yang sudah berada di kursi, menoleh sebentar ke arah Sabrina, "Selamat pagi, Sabrina. Bagaimana malammu? Kupikir kalian berdua pulang sangat larut sekali."
"Iya. Kami berdua pulang malam sekali. Di sana membosankan. Mereka hanya berbicara omong kosong saja. Hari ini presentasi tentang wawancara itu kan? Nanti biar aku saja yang presentasi. Kita semua sudah bagi tugas kemarin. Desain PPT dari Justin lumayan. Untuk ukuran anak yang badung. Kau sepertinya mengalami banyak peningkatan di pemahaman bisnis perusahaan Xander Grup yang baru, Artur." Sabrina mengoles roti dengan selai coklat.
"Ayahmu luar biasa. Begitu juga dengan Paman Danar. Pendidikan dari mereka membuatku sadar, Sabrina. Kekayaan tiada artinya. Hanya kemampuan dan attitude yang akan membuat seseorang besar. Bukan dari mana asal seseorang itu terlahir. Gila! Aku benar-benar semangat sekarang." Wajah Artur terlihat bahagia. Senyuman yang tulus juga bertengger di bibirnya. Akan tetapi, senyum itu perlahan memudar. Artur menatap Sabrina dengan sendu.
__ADS_1
Sabrina sibuk mengunyah sandwich yang ada di depannya. Padahal ia juga dengan cepat telah menghabiskan roti yang telah diberi selai coklat. "Baguslah, Artur. Setidaknya masa depanmu tidak akan suram lagi."
"Sabrina, aku minta maaf." Mendengar permintaan maaf dari Artur, Sabrina menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Artur dengan raut wajah yang bingung. "Di masa lalu, aku sangat berdosa padamu. Aku selalu saja merendahkanmu yang menggantikan posisi ibundaku. Aku emosi hanya untuk menutupi rasa kecewaku. Yang sedari bayi aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu," imbuh Artur.
"Aku bisa memakluminya." Sabrina menjawab dengan cepat.
"Kau memaafkanku?" lirih Artur.
Sabrina membalas tatapan Artur yang tertuju padanya. Gadis itu menghela napas. "Jika aku tidak memaafkanmu, aku tidak sebaik ini dalam memperlakukanmu."
"Aku sudah sadar, Sabrina. Hanya saja rasa bersalah itu terkadang datang tanpa diundang. Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Aretha? Kau tidak ingin menjenguknya?" Pertanyaan Artur membuat Sabrina membeku di tempatnya.
__ADS_1