Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 366. Kebenaran.


__ADS_3

Sabrina menendang bagian inti seorang preman. Hingga preman itu berteriak keras. Tak lama kemudian sang preman menjatuhkan kedua lututnya di aspal. Salah satu dari preman itu tak terima, jika barang pusaka temannya ditendang dengan sangat kuat.


"Dasar jal*ng! Mat* lo!" Preman itu mengeluarkan clurit.


Wajah Aretha yang memucat saat melihat benda tajam itu, segera berteriak lantang memanggil orang-orang yang dekat dengan mereka.


"Tolong! Tolong! Tolong!" Teriakan Aretha mengundang para manusia yang lalu lalang di sekitarnya.


Membuat para preman itu segera berlari tunggang langgang. Aretha mendekati Sabrina. Melihat ke seluruh tubuh Sabrina.


"Syukurlah, kau tidak apa-apa. Aku benar-benar takut. Kamu kenapa nekat sekali? Mereka itu preman. Bukan warga biasa. Mereka yang memiliki wilayah di sini," kata Aretha.


Sabrina menatap dingin Aretha. "Mereka bukan bupati ataupun gubernur yang bisa memiliki wilayah! Mereka hanya sampah masyarakat! Kau jangan berpikir aneh-aneh. Takutnya kalau bukan kamu yang jadi korban, itu bisa jadi orang lain dan semakin meresahkan warga kompleks ini."


Aretha menggigit bibir bawahnya. Ragu-ragu untuk setuju dengan penuturan Sabrina. "Kami hanya rakyat miskin. Memangnya bisa membayar mahal untuk mengusir para preman itu dari sini?"


Kini Sabrina yang dibuat tertohok ke ulu hati. Apa yang dikatakan oleh Aretha ada benarnya. Biasanya hukum di Negara ini memang selalu tumpul ke atas. Akan tetapi tajam ke bawah. Sabrina hanya mampu menghela napas dalam-dalam.

__ADS_1


"Ya sudah. Di mana panti asuhan tempat tinggalmu? Apa masih jauh?" tanya Sabrina.


Binar bahagia tercetak jelas di wajah Aretha. "Sedikit lagi. Hanya beberapa meter saja di depan. Ayo."


Sabrina membiarkan Aretha menarik tangannya. Gadis itu hanya membisu dan mengikuti langkah kaki Aretha. Hingga kini keduanya masuk ke sebuah halaman yang banyak sekali anak kecil.


"Kak Aretha!" teriak anak-anak kecil itu. Mereka seolah sangat senang dengan kedatangan Aretha yang membawa satu temannya.


"Kak Aretha, siapa di samping kakak? Teman Kak Aretha ya? Cantik. Jika besar nanti, Indah ingin seperti kakak cantik ini," kata gadis yang bernama Indah.


"Ya ampun, kamu lucu sekali." Sabrina jongkok. Mencoba mensejajarkan tingginya dengan tinggi Indah.


"Nama kakak, Sabrina. Salam kenal, Indah." Sabrina mengukir senyuman. 


Tiba-tiba Indah mendaratkan kecupan di pipi Sabrina. Kemudian gadis kecil itu berlari menjauh. Indah telah kembali bergabung dengan teman-temannya. Dahi Sabrina mengerut.


"Anak perempuan, kenapa bermain sepak bola?" gumam Sabrina.

__ADS_1


"Biasa, Sabrina. Nggak ada uang buat beli boneka. Ayo masuk. Bunda Ratih pasti senang aku membawa teman," ajak Aretha.


"Aretha," sebuah suara memanggil nama Aretha.


"Bunda Ratih!" Aretha segera menyalami tangan Ratih. Perempuan paruh baya yang kini ada di hadapan keduanya. "Bunda, ini teman Aretha! Yang kemarin Aretha cerirakan. Em, satu-satunya teman Aretha."


Ratih mengusap pucuk rambut Aretha. "Buatkan temanmu minum ya. Udara sangat panas."


"Baik, Bunda. Sabrina, kau duduklah dulu. Ngobrol sama Bunda. Aku bikin minuman dulu," pamit Aretha. Gadis itu langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Sabrina.


"Silahkan duduk. Maaf ya, tempatnya agak sempit." Bunda Ratih segera menjatuhkan bokongnya di kursi kayu. Begitu pula dengan Sabrina.


"Maaf, Bunda Ratih. Saya datang mendadak seperti ini. Soalnya, saya tak sengaja melihat lengan Aretha lebam. Saya khawatir," ucap Sabrina.


Wajah Bunda Ratih nampak sendu. "Benar, kemarin Aretha pulang dalam keadaan yang miris. Bunda sudah memintanya untuk tidak masuk hari ini. Tapi, dia hanya mahasiswi dari jalur beasiswa. Apa yang bisa dia lakukan? Dia harus patuh terhadap peraturan agar beasiswa tetap melekat padanya."


"Maaf, Bunda Ratih. Aretha sudah berapa lama ya, tinggal di sini?" tanya Sabrina.

__ADS_1


"Aku harus memastikan kebenarannya!" batin Sabrina.


__ADS_2