
"Pa ... Paman jangan bercanda. Aku mohon Paman. Aku ini hanya anak yatim piatu," ucap gadis itu dengan tubuh yang bergetar.
Drrttt drttt.
Ponsel milik Rendy bergetar. Menandakan sebuah panggilan masuk untuknya. Secepat kilat lelaki itu mengambil ponselnya. Dilihatnya ponsel miliknya itu. Seketika raut wajahnya berubah. Tentu saja karena yang menelfon adalah bundanya. Lelaki itu keluar dari kamar miliknya. Menyisakan sebuah tanya dikepala Elena.
Tiga puluh menit kemudian, Rendy telah selesai dengan telfonnya. Dengan mimik wajah yang sangat sulit untuk diartikan. Kei telah kembali mengekor dibelakangnya. Tanpa menoleh sedikitpun Rendy sudah dapat merasakannya.
"Shubuh kita langsung berangkat. Persiapkan semuanya, kita akan pulang ke Indonesia," ujar Rendy seraya hendak beranjak pergi meninggalkan kamarnya. Bukankah ada gadis itu? Lebih baik dirinya tidur di ruang kerja.
"Paman!" Panggil Elena dengan nada yang cempreng. Gadis itu turun dari ranjang dan segera menghampiri Rendy. "Paman akan pulang ke Indonesia? Bawa aku juga Paman! Aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian disini," pinta Elena dengan nada yang sumbang. Gadis yang benar-benar ketakutan itu seketika berlutut dihadapan Rendy.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya Rendy penuh nada marah.
"Aku mohon Paman, bawa aku. Aku takut kau lempar kejalanan. Aku hanya menemukan orang baik sepertimu Paman. Tolong bawa aku Paman. Kau beri aku makan sehari sekalipun tak apa. Asal kau membawaku Paman. Aku takut," ujar gadis itu dengan kepala yang tertunduk.
Aku takut ditangkap oleh ayahku. Sehingga aku dijual kembali. Susah payah aku kabur dari perjodohan itu. Aku tak mau menjadi penebus hutang ayahku. Sama saja dengan aku ini dijual bukan?
"Sebegitu takutnya kau aku lempar kejalanan? Kau tidak takut aku akan membunuhmu?" tanya Rendy.
"Tidak! Aku tidak takut. Paman orang baik. Aku mohon Paman, bawa aku. Kumohon," jawab Elena dengan suara seraknya.
"Tuan Muda, apa anda yakin? Membiarkan gadis itu ada disisi Tuan Muda. Bukankah itu sebuah kesalahan? Bisa saja dia salah satu dari musuh anda," Kata Kei mencoba mengingatkan Rendy.
__ADS_1
"Bukankah ada kau? Untuk apa aku membiarkanmu bekerja padaku jika kau tidak bisa menyelidiki siapa gadis itu?" Rendy segera menutup pintu ruang kerja miliknya. Membuat Kei berhenti tepat didepan pintu ruangannya.
"Dasar merepotkan! Jika aku tau dia berasal dari salah satu musuh tuan muda, aku akan menghabisinya ditempat saat itu juga." Kei mengepalkan kedua tangannya.
*****
"Kau yakin?" tanya Rendy penasaran.
"Benar Tuan Muda. Gadis itu tidak terlacak jejaknya. Seakan ada sesuatu yang membatasi kita untuk menggali informasi tentang gadis itu. Apa benar yang dia katakan pada Tuan Muda? Mungkin namanya salah." Kei mencoba untuk mencari setiap kemungkinan yang ada.
Brak! Rendy menggebrak meja kerja miliknya. Menatap marah kearah Kei. Bagaimana mungki telinganya salah dalam hal itu? Dia tak mungkin salah dengar. Rendy menatap tajam sosok Kei yang berdiri dengan tenangnya. Benar, dialah Kei. Kaki tangannya. Lelaki itu juga tak pernah gagal dalam misinya.
__ADS_1
"Jika gadis itu tak bisa dilacak, bisa jadi kemungkinan dia adalah orang penting dalam dunia politik. Jika bukan, maka bisa dipastikan gadis itu cukup rumit," ujar Kei dengan mantap.
Jadi ... Siapa gadis itu? Mengapa bisa ada dijalanan malam-malam? Bahkan saat hujan tengah mengguyur badan. Siapa Elena?