Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 443. Kesabaran Artur.


__ADS_3

Kezio menatap interaksi tiga orang yang berkumpul di ruang makan. Mereka bertiga tampak saling menggoda satu sama lain. Sabrina sendiri juga menghidangkan sarapan pagi ke meja makan. Tentu saja dibantu oleh Bibi Rosi.


"Kezio? Kenapa berdiri di sana saja?" tanya Sabrina.


Kezio tersenyum tipis. Kemudian berjalan mendekati meja makan dan duduk tepat di samping Sabrina. Kezio menatap satu-persatu menu sarapan yang ada di meja. Kemudian tatapan beralih ke arah William yang duduk di tengah-tengah.


"Kau membiarkan Kakakku menyiapkan sarapan ini?" Pertanyaan bernada ketus itu disambut senyuman oleh William.


"Percuma meladeni bocah ini. Yang penting istriku tidak pernah protes. Sabar William. Kau tidak akan lupa 'kan wajah istrimu ketika masak? Dia sangat menyukai kegiatan memasak." William membatin.

__ADS_1


"Seperti yang aku bilang kemarin. Nak, kau ternyata sama sekali tak memahami Kakakmu. Dia ratu di rumah ini. Jadi, Kakakmu bisa melakukan apapun di istananya. Jangan protes lagi. Rasanya kau sudah membuat Kakakmu terusik," papar William.


"Ayah sepertinya sangat kesal dengan adik mama. Tapi harus aku akui. Jika dia benar-benar pintar memojokkan seseorang," batin Artur dalam hati.


Tatapan mata Artur terpaku pada Sabrina yang diam saja. Ia bahkan tak menyiapkan pirimg di depannya. Dalam hati Artur bertanya-tanya. Mengapa Sabrina terlihat santai.


"Ma? Kok nggak sarapan? Wajah Mama juga pucat?" Artur menghentikan sendok yang hendak masuk ke dalam mulutnya. Tatapan mata Artur mengunci wajah Sabrina. Mendengar kata-kata Artur, William bangkit dan jongkok di samping kursi Sabrina.


"Nggak usah. Aku hanya kelelahan. Kenapa panik begitu? Sudah ya? Mungkin, aku terlalu lelah kemarin. Kan aku penerus geng mafia milik mendiang Opa Ardan. Aku juga kan sangat dekat dengan opa. Aku ingin makan di kantin. Artur kan sudah berjanji akan mentraktirku makan sepuasnya. Honey kan tahu sendiri. Kalau Artur mendapatkan satu perusahaan." Sabrina memainkan kedua alisnya.

__ADS_1


Mendengar dijadikan kambing hitam, Artur mendelik. Saat ia akan bersuara, Sabrina justru menyahutnya, "Halah! Jagan pura-pura lupa, Artur. Kau sudah berjanji akan mentraktirku dan dua teman kita yang lain kan? Hish, aku sengaja lo. Tidak sarapan untuk menampung traktiranmu."


"Ya Allah! Punya mama tiri kok begini sih? Kenapa aku dijadikan kambing hitam? Ah, jahat sekali mama tiriku ini. Siapa yang mau traktir? Aku? Sebenarnya ini ada apa sih? Mata mama sampai melotot-melotot begitu kek Suzanna. Aku mau traktir orang acara apa?" Artur membatin kesal.


"Iya, Yah. Aku lupa. Jadinya sarapan. Karena terlanjur pegang piring, aku lanjutin aja. Ini juga nanggung," timpal Artur.


"Pastikan Mamamu ini sarapan, Artur. Wajahnya pucat sekali. Ayah takut dia sakit maag." William melirik Sabrina yang cengengesan.


"Ayah tenang saja. Ada Justin dan Dixton yang akan mengawasi mama di kampus. Pasti mereka mau jaga Mama," ucap Artur.

__ADS_1


"Benar. Lebih baik kalian jaga Kakak yang paling aku cintai ini dengan sepenuh hati. Jangan sampai aku mendapati jika Kak Sabrina terluka meski sedikit saja. Aku akan membalasnya dengan setimpal. Untukmu bocah. Jika aku tahu kau tidak menjaganya dengan benar saat di kampus, aku akan mencari perhitungan denganmu." Kezio berkata dengan nada yang tidak bersahabat di telinga.


Hal itu membuat Artur berkata dalam hati, "Bocah teriak bocah!"


__ADS_2