
Hari ini pesta hari terindah untuk Monica dan Kevin Pasalnya mereka berdua hari ini akan mengucap janji suci pembuktian cinta dari keduanya.
Mariani sudah tampil dengan seanggun mungkin. Dengan drees panjang berwarna biru muda. Rambut pun tak luput dari tangan sang make over. Rambut Mariani pun disanggul dengan cantiknya.
Wanita yang tengah hamil itu terlihat begitu menawan. Ardan yang melihatnyapun, seakan tak bisa berpaling dari wajah menawan milik sang istri itu.
"Kenapa mas?" Ani menyadari jika pandangan suaminya kini terfokus padanya.
Ardan tersenyum saat tatapannya dengan sang istri tercinta kini telah terpaut.
"Kamu yang tercantik sayang," mendekati sang istri. Kemudian merengkuh dagu istrinya, memberikan kecupan hangat di kening milik sang istri.
Mariani kini tersenyum. Tatapan penuh mendamba suaminya kini membuat kedua pipinya merona merah muda.
"Jangan aneh-aneh mas Ardan. Hari ini hari penting," mendorong dada bidang milik suaminya agar sedikit menjauh darinya. Bisa habis dirinya nanti.
"Sayang, sebelum lanjut ayok kita main dulu yok," masih belum menyerah kini dirinya menarik tangan milik istrinya.
__ADS_1
"Ya ampun mas Ardan! Kita hari ini ada acara penting! Cepetan siap-siap," menghempaskan tangan kekar milik suaminya.
Ardan tak mau beranjak. Kini dia malah berdiam diri mematung sembari memanyunkan bibirnya. Sedikit kesal atas penolakan dari istrinya.
Saat Mariani sudah diambang pintu kamar, kini dirinya menyadari jika sang suami masih berdiri ditempatnya. Secepat kilat diapun menoleh mendapati suaminya sedang mematung.
"Mas," Mariani memanggil suaminya dengan lembut. Namun sang suami malah membuang muka kearah yang lainnya. Membuat Mariani memutar kedua bola matanya yang kesal akan suaminya yang merengek.
Oh astaga, bisa gila aku. Kenapa sikap suamiku bisa kayak anak kecil begini. Ratapnya dalam hati.
"Nanti malam aku kasih bonus mas," bidiknya ditelinga sang suami. Membuat suaminya menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Ayo kita berangkat sayang," menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Mengabaikan wajah istrinya yang sudah dipenuhi semburat merah muda dikedua pipinya.
*****
Sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Disusul sebuah hembusan hangat mengenai wajahnya. Membuat sebuah gelenyar aneh di tubuhnya. Suara detak jantung yang kian berpacu. Entah sudah semerah apa kini wajahnya. Tangan kekar yang dipenuhi otot-otot itu kini mulai menyingkap dibalik handuk kimono yang dia kenakan. Segera saja dia menepis agar tangan itu berhenti dengan aksinya yang semakin liar.
__ADS_1
"Bisakah kita melakukannya sekali lagi sayang?"
Deg. Sayang? Kenapa jantungku tak bisa berkompromi begini ya ampun. Batin Agnes dalam hati yang mulai frustasi dengan kelakuan suaminya yang semakin liar saja.
"Sudah, kita akan keacara penting hari ini. Ingat pernikahan sahabat kita," mendorong perlahan Dion yang semakin sulit diajak negosiasi.
"Tapi aku masih ingin," membisikkannya dengan lembut ditelinga istrinya. Mendaratkan sebuah gigitan kecil ditelinga istrinya. Membuat tubuh Agnes merinding karna ia tau suaminya itu sangat hebat dalam adegan ranjang.
"Kita sudah kesiangan mas. Aku belum siap-siap nih," melepaskan pelukan suaminya.
"Kamu tadi manggil aku apa?" membalikkan tubuh istrinya. Menatapnya lekat dengan senyuman yang mengembang dibibirnya.
"Mas ... mas Dion," kata Agnes ragu dengan kepala menunduk
"Bagus, kenapa malah menunduk begini?" mengangkat wajah sang istri tercinta dan memberikan kecupan hangat diwajah cantik istrinya. "Panggil aku dengan sebutan yang baru saja kau sebutkan mulai sekarang. Aku mencintaimu," meninggalkan istrinya dan berlaku kekamar mandi.
Arggtt aku malu. Aku sudah lelah karena perjalanan pulang dari Bali dan dia menjadi begini semenjak kami kembali dari berbulan madu. Agnes merutuki sikap Dion dalam hati. Kemudian menundukkan kepala dalam-dalam.
__ADS_1