
"Sabrina, kau sangat lucu," ungkap William blak-blakan. Sabrina hanya tersenyum kecut. Benar-benar memalukan. Ingin rasanya dia segera kabur dari sini.
"Em. Aku rasa tadi anda tidak disini?" Sabrina mencob mengalihkan topik.
"Hahaha kau terlalu sibuk berdebat dengan Artur. Sepertinya aku juga berfikir yang sama dengan Artur. Jika kau itu adalah gadis yang blak-blakan." William terkekeh.
"Hehe. Paman, apa kau tau jika hari ini kau sangat tampan?" tanya Sabrina tanpa sadar. Bahkan gadis itu tersenyum bak mentari yang sedang bersinar. Tetapi saat dia menyadari ada sepasang mata yang mengintainya dengan tajam, Sabrina segera menyadari apa yang telah dia ucapkan.
"Ma-maaf," ucap Sabrina canggung. Sembari mengumpati kebobrokan mulutnya yang tidak bisa diajak kerja sama.
"Hahaha, kau benar-benar menggemaskan, Sabrina. Kau polos dan bisa memberikan aura yang positif. Baik-baik dengan Artur ya? Kalau begitu aku pergi dulu," ucap William sembari melambaikan tangannya menjauh dari Sabrina.
"Yah ... kalau oppa tampan yang mengatakannya, hatiku siap untuk menerima Artur yang bobrok deh." Sabrina menatap lekat punggung kokoh milik William.
"Sa bri Na!" tentu saja, sepasang mata yang membuatnya merinding tadi adalah milik Elena. Siapa yang tidak tau betapa wanita itu mengerikan?
Ha, mati kau Sabrina! Sabrina mengumpat dalam hati.
"Katakan!" bentak Elena sembari menatap tajam Sabrina.
"A-apa maksudnya, Ma?" tanya Sabrina dengan senyum kaku.
"Kau masih bertanya lagi? Apa dia oppa trampan yang sering kau sebut-sebut? Astaga! Kupikir kau mencintai Artur! Sabrina aku tau, ini adalah cinta pertamamu. Tetapi kau juga harus mengingatnya. Dia duda dan anaknya adalah teman seumuranmu. Apa kau tidak bisa mencari bocah yang seusiamu?" Elena mendesah gelisah. Tak disangka kisah cinta anak gadisnya harus serumit ini. Padahal dulu dirinya hanya bermimpi untuk membalaskan dendam kedua orangtuanya. Siapa sangka ia jatuh cinta pada ketua mafia. Mimpi buruk yang sekarang menjelma menjadi mimpi indah.
"Ma! Aku mencintainya. Dan aku tidak salah, karena cinta itu datang tanpa permisi. Kemudian mencuri hatiku. Memangnya dimana salahnya orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Sabrina.
Cinta datang tanpa permisi. Memang, tidak ada salahnya mencintai seseorang. Bukankah itu hanya masalah hati dan perasaan. Sabrina juga tidak bersalah. Masa harus menyalahkan hatinya karena salah memilih tuan? Elena mendengus kesal. Ditatapnya sekali lagi anak gadisnya. Sabrina adalah seorang gadis yang cerdas. Cepat dalam bertindak, memiliki pemikiran terbuka dan memiliki instituisi yang tajam. Lagi-lagi Elena mendesah panjang. Dalam sekali bicara, Sabrina mampu membalikkan keadaan. Benar-benar keturunan anak mafia. Menyeramkan. Dengus Elena dalam hati. Tunggu, bukankah dirinya juga mantan ketua mafia?
"Ahem. Baiklah, aku mengerti alasanmu. Toh itu hanya cinta monyet. Siapa tahu minggu depan kau akan berubah mencintai anaknya mungkin! Hihihihi." Elena terkekeh geli sendiri.
"Tidak, Ma! Aku akan tetap mencintai uncle William! Dan itu tidak akan berubah sampai kapanpun!" tegas Sabrina.
"Hei kepala batu, kau itu masih belum bertemu dengan banyak pria tampan yang lainnya. Mungkin saja, pengawal aunty Rianna ada yang tampan. Kau belum lihat semua pengawalnya kan?" goda Elena. Wanita paruh baya itu, menaik turunkan kedua alisnya.
"Mama benar, entah bagaimana bisa para pengawal aunty Rianna tampan-tampan. Bahkan perut mereka keren-keren!" seru Sabrina antusias.
"Sabrina,kau! Dari siapa sih kau belajar mata keranjang begini?" tanya Elena kesal. Kedua iris birunya membulat.
"Dari Mama! Kan Mama yang melemparkan aku ke tempat berlatih itu. Masa Mama lupa kalau kita berdua selalu cuci mata melihat laki-laki tampan!" kini Sabrina melayangkan kata-kata yang menohok.
Elena menatap kesal Sabrina. Gadis itu benar-benar diluar dugaan. Memutar balikkan fakta yang ada. Jika Rendy sampai mendengar apa yang dikatakan oleh Sabrina, siapa yang tahu lehernya selamat atau tidak. Secara tidak langsung pemikiran dari lelaki yang terlalu posessive, pasti sudah mengarah ke arah perselingkuhan. Sedangkan kita semua tahu, seperti apa Rendy ketika marah.
"Sabrina, itu hanya cinta monyet! Ketika kau patah hati, jangan bunuh diri! Atau mama yang akan memutilasi jasadmu!" seru Elena kesal. Wanita paruh baya itu kesalnya bukan main. Terlihat dari tangannya yang sudah gemas sejak tadi.
"Cinta itu lahir dari hati dan akan berakhir di hati," cicit Elena.
Deg. Apa maksud ucapan dari Sabrina? Cinta memang lahir dari hati. Lalu apa maksud dari cinta yang akan berakhir di hati? Elena membatin frustasi.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Brina?" tanya Elena kesal.
Aku dipermainkn anak kemarin sore! Elena merasa semakin frustasi.
"Mama tadi bilangkan, jika nanti aku patah hati bukan? Seperti kataku tadi, cinta itu lahir dari hati, dan akan berakhir di hati juga. Kan patah hati. Masa Mama begitu saja tidak mengerti? Ah iya, jika Mama dulunya hebat, karena sudah tua, pasti sudah berubah. Hahaha," Ejek Sabrina penuh kemenangan.
"Sabrina! Kepala batu! Kalau begitu mari kita lihat, sejauh mana kau bertahan! Cinta monyetmu, atau kata-kata Mama! Dasar bocah!" Elena emosi.
"Oke aku terima tantangan Mama. Tapi ingat jika Mama mengatakannya pada papa, aku juga akan mengatakan, jika Mama begitu senang melihat roti sobek pria tampan!" ancam Sabrina.
A-anak ini, belajar dari mana dia mengancam orangtuanya? Bisa-bisa aku mati berdiri! mendadak, kepala Elena pening.
Sabrina pun berlari, sekuat tenaga. Ia harus menghindari Elena, agar tak semakin mengibarkan bendera perang. Gadis itu menjatuhkan bokongnya di pasir putih.
"Hai Brina, kenapa kau termenung disini?" tanya William tiba-tiba.
"Oh, uncle disini? Apa sudah selesai makan malam?" tanya Sabrina dengan hati yang berdebar.
"Ya, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau disini? Bukankah ada banyak laki-laki tampan disini? Memang rekan bisnis papamu semuanya tidak main-main ya? Kau rupanya bisa cuci mata sekalian! Hahaha." William terkekeh.
Ha? Aku yang cuci mata? Sebenarnya alasan mengapa aku berada disini hanya untuk formalitas saja. Sebenarnya ada maksud lain dari hal ini. Apa uncle William tidak tau jika papaku adalah tipe lelaki bucin? Alasan utamanya tentu untuk bulan madu, melewati malam yang romantis! Sedangkan aku, disini hanya formalitas saja. Sebagai umpan perhatian yang namanya liburan! kata Sabrina dalam hati.
"Yah, aku sebenarnya juga tidak berminat mencari yang seusiaku. Jadi melihat mereka adalah hal biasa bagiku, hahahaha!" pancing Sabrina.
"Lalu, bagaimana menurutmu tentang Artur?" tanya William.
"Oh, bukan tipemu ya? Kalau begitu bagaimana tipe laki-laki yang kau sukai?" William menggoda asal.
"Aku menyukai pria yang de-dewasa!" Sabrina tergagap.
Arghhh bagaimana ini? Apa aku harus mengatakannya sekarang? Sabrina membatin gelisah.
"Pria dewasa? Waaah jangan bilang itu aku ya? hahahahaha," ledek William bercanda.
"Ehm, itu benar. Uncle, i love you!" teriak Sabrina sembari berlari meninggalkan William.
Astaga! Aku nggak mau tau sekarang! Aku harus egera masuk ke kamar! Jantungku rasanya mau copot! Sabrina malu bukan kepalang.
Ketika ia memasuki Villa, justru ia dikagetkan akan sesseorang. Dimana ia telah mengintai sejak beberapa waktu yang lalu.
"Waahh, kau bergerak lebih cepat dari dugaanku." suara itu muncul tiba-tiba.
"Uwaaaahhhh."
Plakkk!
"Anak brengs*k! Kau berani memukul mamamu?" tanya Elena dengan marah. Wanita itu menatap anak gadisnya dengan emosi. Seketika Sabrina mendongakkan kepalanya. Itu mama?
__ADS_1
"Itu salah Mama! Mama ngagetin aku! Aku pikir itu hantu atau orang brengs*k," kilah Sabrina.
"Kau mengatai mama brengsek? Beraninya kau!" teriak Elena.
"Ma! Ingat perjanjian kita! Mama jangan macam-macam! Sumpah Ma! Itu tadi nggak sengaja! Mama tiba-tiba ngagetin kayak hantu!"
"Dasar anak nakal! Setelah mengatai mama brengs*k, sekarang kau mengatai mama hantu? Kemari, lihat bagaimana mama menghabisimu!" Elena segera mengangkat tangannya hendak memukul Sabrina.
Plakkk.
Lagi-lagi Sabrina menepis tangan Elena. Kini emosi Elena semakin menggunung. Dari sorot mata Elena terlihat kilatan amarah.
"Ma! Hentikan! Aku udah bilang nggak sengaja! Lagian Mama tiba-tiba ada di belakangku! Tentu saja aku kaget. Udahlah Ma, Mama nyari aku ada apa?"
"Huh! Mama sudah dengar semuanya! Kau sudah menyatakan cintamu? Bah, secepat itu? Wah wah, aku tidak sabar mendengar jawaban dari calon mantan menantuku itu!" ledek Elena.
"Ma! Hentikan! Mama jangan keras-keras ngomongnya! Nanti kedengaran papa!"
"Kedengaran papa? Memangnya kenapa? Itu urusanmu kan? Bukan urusan mama. Kalau papamu dengar, mungkin kau disuruh berhenti sekolah dan dibuang ke markas The Dark Knight miliknya. Hahahaha! Daripada ke sekolah tapi malah menjadi simpanan om-om lebih baik menghafal senjata dan bubuk mesiu! Hahahaha, benar-benar berguna bukan dengan bakatmu itu? Ingat saat kau kecil kau sudah meledakkan gudang bawah tanah milik papamu! Sepertinya akan berguna untuk menangani organisasi gelap papamu," ledek Elena. Sedangkan Sabrina bergidik ngeri. Ia akan dilemparkan ke jalan kegelapan.
"Ma! Aku hanya menyatakan perasaanku saja! Itu bukan dosa!"
"Tapi kau mencintai seorang duda!"
"Tidak ada salahnya mencintai duda!"
"Itu hanya cinta monyet!"
"Cintaku ini bukan cinta biasa!" tegas Sabrina.
"Kalau kau patah hati, aku akan menguliti jasadmu!"
"Aku akan mempertahankan cinta ini sampai aku dewasa nantinya!"
"Kau akan sakit hati dengan tragis karena mencintai duda!" ejek Elena dengan kesal.
"Tapi cinta tidak memandang status!"
"Kau tidak akan kenyang hanya karena cinta!"
"Aku ingin seperti opa Ardan yang tulus mencintai oma Mariani!"
"Ya! Cinta mereka benar-benar indah. Karena saling menerima kekurangan masing-masing," kata Elena tanpa sadar.
"Mama kalah, aku akan tetap mempertahankan cintaku sampai kapanpun!" Sabrina pergi meninggalkan Elena yang baru tersadar dan termakan kata-katanya sendiri.
"Sa bri na!" teriak Elena kesal. "Aku dijebak!"
__ADS_1