
Setelah aksi kebrutalan itu, Rendy dan Kei menuju ke perusahaan. Tentu saja untuk mengganti pakaian mereka yang telah bercampur dengan keringat dan bau anyir darah.
Mobilpun mulai membelah jalanan ibu kota yang mulai dipadati lalu lintas. Berikut dengan hiruk pikuk aktivitas di hari wekkend menambah padatnya jalanan ibukota yang panas dan berdebu.
Rendy kembali teringat hal yang membuatnya emosi. Mengapa orang telah dekat dengannya justru adalah anggota mafia The Queen? Apakah takdir tengah mempermainkannya? Bukankan geng mafia The Queen ini memiliki reputasi dan citra yang buruk? Mengapa gadis yang terlihat biasa itu justru menjadi anggota geng mafia yang memiliki banyak musuh? Lalu apa yang sebaiknya dia lakukan terhadap Elena? Kembali, Rendy mendesah frustasi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa waktu lamanya, kini sampailah mereka berdua di mansion milik Ardan Wijaya. Baru saja menginjakkan kakinya di teras mansion, Rendy sudah disambut oleh Ardan Wijaya yang tengah menatapnya tajam. Rendy memutar kedua bola matanya. Hal ini pasti berkaitan dengan dirinya yang pergi tanpa pamit. Ditambah dengan dirinya yang tak pulang selama dua hari.
"Dari mana saja kau?" suara bariton itu menghujam jantung Rendy. Pasalnya, Ardan Wijaya adalah orang yang disiplin. Pasti tidak akan bisa lolos dengan mudah.
"Aku ada urusan, Ayah. Maaf Ayah, Rendy lelah," ucap Rendy seraya hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
"Ayah tanya sekali lagi! Kau dari mana saja? Apa kau tidak tau jika bundamu mengkhawatirkanmu?"
"Bunda … Maafkan Rendy. Tapi Rendy mengatakan yang sebenarnya. Ada urusan yang sangat penting."
"Kalau begitu urusan apa?" tanya Ardan dengan nada yang kesal dan marah.
__ADS_1
"Sudahlah Ayah! Rendy lelah. Selamat malam." Rendy melangkahkan kakinya memasuki rumah.
"Dasar bocah kurang ajar! Sekarang kau mulai berani membantah orangtua?" Ardan mengepalkan tangannya.
"Tuan besar."
"Kei! Katakan dari mana saja anak kurang ajar itu? Dia bahkan berani untuk mengabaikan aku!"
"Mas Ardan tenanglah," pinta Mariani dengan lembut. Sejenak membuat emosi Ardan mereda.
"Katakan Kei!" titah Ardan.
"Sudahlah. Kau awasi Rendy. Ingatlah ayahmu yang bekerja padaku dengan segenap jiwa raganya." Ardan segera menarik Mariani menjauh dari Kei yang tengah membungkukkan badannya. Berbagai pertanyaan tentu saja berputar di otaknya. Apa yang dibisikkan oleh Kei, dan apa yang dikatakannya. Hingga membuat Ardan langsung menyurutkan lautan emosinya.
*****
Rendy baru saja membuka kunci kamarnya, tetapi lelaki itu langsung dihujani pertanyaan dari Elena. Sepertinya gadis itu benar-benar kesal lantaran ditinggal selama dua hari di rumah orangtua Rendy.
__ADS_1
"Paman, kau darimana saja? Mengapa kau meninggalkanku sendiri disini?" tanya Elena memberengut kesal.
Hening tiada jawaban. Rendy memilih bungkam dan segera memasuki kamarnya. Saat hendak menutup pintu kamarnya, Elena segera berlari masuk ke kamar Rendy.
"Paman! Kau kenapa?" tanya Elena sekali lagi.
"Elena keluarlah. Aku sangat lelah," kata Rendy dengan dinginnya.
"Tidak. Sebelum Paman mengatakan yang sebenarnya. Mengapa Paman waktu itu begitu terburu-buru? Lalu mengapa tidak pulang semalaman?"
"Elena, kau banyak bicara sekali! Keluar!" Rendy mengeratkan lehernya.
"Ish! Kenapa kau selalu marah-marah padaku? Apa kau itu tidak takut mati karena serangan jantung? Aku kan hanya bertanya saja. Jawab biasa kek. Kau meninggalkanku disini sendirian apa kau ingin aku mati kebosanan?" tanya Elena dengan kesal. Bukankah seharusnya dia yang marah? Karena ditinggalkan begitu saja? Lalu mengapa justru dia yang marah saat ini? Batin Elena dengan kesal.
"Elena … Aku peringatkan kepadamu. Keluarlah … Aku lelah."
"Tidak mau! Aku tidak mau! Bisa tidak kalau sedang berbicara dengan orang lain setidaknya menghargai orang yang sedang berbicara? Kau selalu saja membentakku, memarahiku, hendak membuangku. Kau benar-benar tidak takut akan mati karena serangan jantung?"
__ADS_1
"Elena!"