
Maaf belum bisa nulis bab baru tentang pembantaian. Nnti aku kasih Flashbacknya. Karena author pulang kerja jam 7 jadi mata sudah ngantuk. Aku crazy up bab yang udah aku tulis ya. Kalau yang bab Collabs begini author nulisnya selalu mendadak 😂😂 Maaf oke? Nanti malam semoga bisa lanjutin. Terima kasih pengertiannya.
"Elena! Pahamilah batasanmu!" teriak Rendy.
"Batasan apa? Aku hanya bertanya padamu dan kau sudah memarahiku habis-habisan. Kemarin kau meninggalkan aku sendirian, sekarang kau kembali dan aku hanya bertanya padamu kau malah memarahiku. Katakan, batasan apa yang kau maksud? Aku sudah bersabar Paman!" Elenapun kini sepertinya juga dilanda emosi.
"Elena … Saat ini bukan waktunya untuk berdebat. Keluarlah, aku lelah. Kita bicarakan besok," ucap Rendy sembari berlalu membuka pintu kamar lebar-lebar. "Keluarlah, aku akan beristirahat."
Elena memilih bungkam, tetapi kedua alis gadis itu menukik tajam. Elena tak bergeming. Tetap menatap tajam Rendy yang sedang dilanda emosi entah darimana. Elena melangkah satu langkah, tetapi dengan cepat putar balik dan berlari menuju ranjang Rendy dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja diatas ranjang milik Rendy. Mengabaikan pemilik ranjang yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Elena!"
Hening. Elena justru berguling kesana kemari diranjang milik Rendy. Membiarkan Rendy mematung di ambang pintu kamarnya.
__ADS_1
"Dasar keras kepala! Jangan sampai kau menyesali pilihanmu ini!" Rendy pun segera mengunci pintu kamarnya. Dengan tenang Rendy berjalan santai menuju ranjang sembari melepaskan kemeja berwarna putih itu. Melihat hal itu kedua bota mata Elena melebar.
"Pa-paman, kau mau apa melepas bajumu?" tanya Elena sembari mulai beringsut.
"Kenapa? Kau sudah naik ke atas ranjangku bukan? Sepertinya kau punya maksud lain bukan?" tanya Rendy mulai mengintimidasi.
"Tunggu apa maksudmu maksud lain? Hei menjauhlah." Elena menyadari ada sesuatu yang salah. Selama dua bulan mengenal Rendy dan tinggal bersama di London, Rendy bahkan tak pernah melakukan hal ini. Bahkan saat dirinya kemarin menggodanya, Rendy bahkan masih bisa membatasi dirinya. Lalu mengapa sekarang Rendy justru bersikap seperti ini? Yang lebih aneh lagi adalah maksud dari pertanyaannya.
"Jangan berpura-pura lagi, Elena. Dengan kau naik ke ranjangku ini, kau pasti ingin menggodaku bukan?" tanya Rendy mulai merangkak naik ke atas ranjang.
"Elena, kau sudah menguji kesabaranku berkali-kali. Kali ini jangan harap kau bisa lolos dariku!" Rendy menatap Elena penuh amarah. Terlebih lagi Elena menyembunyikan jati dirinya yang masih dia rahasiakan. Kedekatan mereka berdua selama dua bulan seperti tidak ada artinya.
"Paman! Kau hari ini sangat aneh. Terakhir kali kita bertemu kau masih baik-baik saja. Mengapa pulang-pulang kau menjadi begini?" tanya Elena dengan nada yang meninggi.
__ADS_1
"Kau membuatku marah dan sekarang kau naik ke atas ranjangku sendiri. Aku tidak akan sungkan lagi!" ucap Rendy.
"Apa mak-…" bibir Elena terbungkam karena Rendy mencium bibirnya. Membuat Elena terkesiap.
Ada apa dengan Paman? Mengapa begini?
Kau membuatku marah Elena. Jika saja kau mengatakan dengan jujur siapa dirimu, mungkin aku masih bisa menerimanya. Tetapi tidak saat ini. Kau membohongiku mentah-mentah! Aku ingin tau apa maksudmu bergabung dengan The Queen.
"Paman! Katakan padaku ada apa?" tanya Elena saat Rendy melepaskan ciumannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja."
"Memangnya aku mau kemana?" tanya Elena heran.
__ADS_1
Rendy membisu. Tetapi lelaki itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir ranum milik Elena. Sesaat Elena hendak memberontak. Tetapi, ada perasaan yang hangat menelusup masuk kedalam hatinya. Perlahan ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman yang memanas. Tangan kanan Rendy mulai menelusup masuk kedalam baju tidur baby doll milik Elena. Mencoba mer*ba dua buah gunung kembar milik Elena. Kedua mata Elena melebar. Seakan kini kesadarannya telah kembali saat merasakan tangan kekar milik Rendy menyentuhnya.
Sial*n! Aku bahkan sudah tidak memakai bra! Kenapa aku begitu bodoh masuk kemari?