Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 130


__ADS_3

Ardan dan Kevin akhirnya bergegas mencari keinginan Ardan yang sedang mengidam. Namun kali ini mereka harus membawa senjata api. Mengingat mereka bisa kapan saja diserang.


"Vin pakek mobil loe ya?"


"Oke bro,"


Mobilpun meluncur membelah dinginnya angin malam yang berhembus menerpa kulit.


"Apa loe yakin mau serang mereka?" Kevin mencoba mencari jawaban yang sedari tadi ingin dia tanyakan. Dia benar-benar penasaran dengan langkah apa yang akan diambil Ardan.


"Loe tau posisi gue? Gue saat ini sedang lemah bro. Sebenernya gue belum siap bini gue hamil mengingat Smith masih berkeliaran. Loe tau kan Smith bahkan gak peduli kalau gue ini keponakannya. Apalagi bini gue? Bisa-bisa udah dia lenyapin aja,"


"Oh jadi itu alasan elo diem aja waktu itu pas tau bini loe hamil?"


"Hem....pikiran dan hatiku udah nggak nyaman waktu pertama kali denger. Tapi mau gimana lagi. Gue seneng ada benih gue diperutnya. Tapi disisi lain gue takut dia kenapa-napa," Ardan menghela nafas panjangnya. Seakan hal yang membuatnya sesak sudah dia keluarkan semua.


Namun saat ditempat yang lumayan sepi Ardan ngerasa ada sesuatu yang aneh. Sebuah mobil Jeep seperti sedang mengikuti mobil Kevin.


Ardan segera menyikut lengan Kevin. Kevin mengangguk dia sudah mengerti jika keduanya sedang diikuti. Ardan beringsut kebelakang. Mencoba memperhatikan plat nomor dibelakangnya. Kevinpun segera menginjak gas mempercepat kecepatannya. Dan benar saja mobil dibelakang mereka juga melakukan hal yang sama. Menambah kecepatan.

__ADS_1


Kalau begitu sejak kapan mereka mengikuti kita? Apa sedari dirumah? Ah sial!!! Untung mereka ada ditempat yang aman. Memang firasatku gak pernah salah. Ardan.


dor.....dor...dor....suara tembakan mulai terdengar.


Tak lama kemudian terdengar suara decitan pergesekan antara aspal dan ban mobil Kevin semakin menjadi-jadi.


"Bro pasang sabuk pengaman sekarang !!!" teriak Kevin.


Tanpa fikir panjang Ardan segera memperbaiki posisinya setelah mengingat plat nomor mobil yang mengikuti mereka. Seperkian detik berikutnya dia memasang pengaman. Seketika mobil kembali melaju dengan cepat. Tak diragukan lagi mobil Lamborghini milik Kevin melaju semakin melesat menembus jalanan yang tengah sepi.


Ardan segera meraih ponselnya. Mencoba menghubungi Nico.


"Siaga satu !!! Kerahkan semua pengawal dan pelayan untuk menempati posisi utama mereka kembali," (para pelayan adalah anak buah Ardan karena mereka perempuan akhirnya harus menyamar sebagai pelayan. Karena memang sangat jarang pengawal seorang wanita untuk berjaga-jaga).


Ardan mematikan sambungan teleponnya. Kemudian berfokus kembali dengan apa yang terjadi dengan mereka berdua. Mobil Kevin masih melesat dengan kecepatan tinggi. Setelah dirasa mulai tak kelihatan. Kevin mengurangi kecepatannya. Sekarang keadaan sekitar sudah cukup ramai. Mereka nggak bakalan seniat itu kan untuk menembak mereka?


"Gila !!! Ini ceritanya kita balik lagi?"


"Keadaan yang memaksa. Terpaksa kita masuk kejalan hitam lagi," Ardan masih berusaha menetralkan jantungnya. Disambarnya ponselnya kembali menghubungi seseorang.

__ADS_1


"Justin,"


"Siap bos,"


"Cari plat nomor ini XXXXXX(samaran) segera beritahu aku siapa pemilik mobil itu,"


"Siap laksanakan bos,"


"Apa disana aman?"


"Tentu saja bos kemarin saya sudah melapor ketuan besar Nico bahwa amunisi dan senjata sudah sampai di markas dengan selamat tuan tanpa kurang satupun. Saya juga mendapatkan obat-obatan yang terbaik untuk mengobati luka. Sudah saya berikan untuk Jesslyn,"


"Oke terima kasih. Laporkan apapun itu sekecil apapun aku juga akan menerima. Apa kau sudah mengirim orang yang aku suruh? Aku butuh Kaisar untuk memimpin penjagaan istriku. Kemungkinan cepat atau lambat kita akan bangun kembali. Kumpulkan semua jika waktunya tiba aku yang akan lebih dulu ambil tindakan,"


"Siap laksanakan perintah bos !!"


Teleponpun berakhir. Wajah Ardan kembali pias.


"Mengaumlah kembali ™Ꭰᥲʀκ͢☢Ӄᴎ͟͞ɪ͟͞ԍ͟͞ʜ͟͞ᴛ]™ milikku,"

__ADS_1


__ADS_2