Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 38


__ADS_3

"Kau tahu mas makin cinta sama kamu sayang. Tapi mas lapar."


"Oh..... Ya ampun mas aku sampai lupa." Memukul dahinya sendiri. Kemudian diambilnya rantang yang berisi makan siang untuk suaminya. "Untunglah. Masih belum tumpah tadi. Ini mas makan siang dulu."


"Sayang.... Pipimu pasti sakit ya?" Ardan melihat dari kejauhan Marzuki menampar Ani.


"Enggak mas." Bohong. Sebenarnya sangat menyakitkan. Namun dia tak ingin suaminya khawatir.


"Kamu bohong kan? Pasti sakit. Nih lihat masih merah." Ardan menyentuh pipi istrinya lembut. Ani meringis.


"Sudah mas aku gak apa-apa kok. Mas gak bakalan ngapa-ngapain mereka kan?"


"Hanya memberikan peringatan bahwa kamu adalah istriku. Biar mereka pikir dua kali jika ingin menyakiti kamu lagi."


Fffuuuuhhh syukurlah. Kupikir mas Ardan segila apa.


"Tapi aku tak akan membiarkan mereka mengganggu kehidupanmu lagi."


Tunggu.... Kehidupanku lagi?


"Jika mereka menyakiti kamu sekali lagi. Mas akan menhancurkan mereka 10 kali lipat. Dan kamu tenang saja. Mas gak akan bisa dirayu seperti mantan suamimu."


Tuh kan memang apa yang aku harapkan mas Ardan bahkan sedetail itu menyelidiki masa laluku. Bikin merinding saja.


 


"Mas hari Minggu nanti Monica main kerumah boleh ya mas? Aku pengen banget jalan-jalan sama dia mas."


"Kamu suka Monica? Aku senang kalau kamu memiliki teman."


"Tentu saja mas. Anaknya jujur banget kalau bersikap. Kalau gak suka ya gak suka dia tunjukin. Kalau suka bakalan heboh sendiri. Kayak pertama kali aku ke kampus. Anaknya menyenangkan."


Ardan tersenyum. Permintaan sederhana seperti ini dia tak tega menolaknya. Rasanya memang benar jika dia ingin menghabiskan waktu di hari Minggu bersama istrinya. Namun kebahagiaan istrinya itu lebih penting dari apapun.


 


Hari Minggu ...

__ADS_1


"Monica !!!" Seru Ani begitu melihat sosok yang dia rindukan datang, Monica. Pak Surya menjemput Monica karna Ardan tak ingin jika istrinya itu harus bersusah payah ketempat Monica.


"Uuuuuuhhh aku kangen sama kamu." Monica menghambur kepelukan ani. Tak perduli jika suami sahabatnya juga berada disana.


Padahal hari jum'at kemarin mereka masih bertemu di kampus. Batin Ardan.


"Ayo masuk aku udah masak banyak tadi."


"Yeay...." Monica kegirangan. Dia memang begitu. Tak pernah jaim jika makan banyak. Itu yang disukai oleh Ani. Monica sangat menyukai masakannya. Entah itu apapun. Dia pasti akan menghabiskannya.


"Sayang hari ini temanku kemari. Namanya Dion dan Kevin. Jika mereka kemari suruh mereka keruang kerjaku ya."


"Iya mas". Jawab Ani kemudian Ardan melengos pergi.


"Teman suamimu?"


"Iya mon. Kita ngobrol sambil nonton tv yuk."


"Ada novel?"


"Enggak deh kayaknya. Apa kita pergi beli novel dulu ya ?" Kata Ani sembari melihat-lihat apa saja yang ada di rak buku yang terletak di ruang keluarga.


"Wahhhh ada 4 novel? Kamu udah bawa dari rumah?" Ani kegirangan mengimbangi sosok dihadapannya yang tingkahnya benar-benar lucu.


"Iyalah... Aku tau siapa suamimu itu pasti gak bakalan ada novel romantis di rumah ini".


"Ya sudah aku ambil cemilan didapur dulu ya tadi aku buat lumpia solo sama bakso."


"Asyiiikkkk.... Ani aku sepertinya benar-benar akan gendut jika terus bersahabat denganku hahahaa." Mereka tertawa bersama.


Benar aku tidak salah membiarkan kamu berteman dengannya. Dia benar-benar jujur dalam mengekspresikan perasaannya.


Ardan melihat cctv yang berada di ruang keluarga melihat dari rekaman itu saat mereka tertawa bersama dia yakin memang istrinya kini bahagia berteman dengannya.


Ting...tong... Ting tong...


Monica mendengar bel rumah sahabatnya berbunyi. Dia melongok.

__ADS_1


Biasanya BI Inah yang membukakan pintu. Sudahlah.


Ting tong ting tong Ting tong. Entah sudah berapa kali bel rumah itu berbunyi.


Sepertinya BI Inah sibuk. Akhirnya dia beranjak dari tempatnya.


Ceklek.... Terlihat dua orang pria dihadapannya.


"Kamu siapa?" Tanya Dion reflek.


"Aku... Aku..." Monica terbata.


"Siapa Mon?" Tanya Ani.


"Ini...." Monica takut pasalnya itu bukan rumahnya. Jika tamu itu tiba-tiba menyangka dia maling dirumah ini bisa gawat.


"Oh teman mas Ardan kan ya?" Ani memang pernah bertemu dengan mereka satu kali.


"Iya..." Jawab Kevin. Dia melirik gadis disamping istri temannya. Dia terlihat biasa. Namun entah kenapa ada yang menggelitik hatinya ketika dia menatap gadis itu.


"Dia dimana?" Tanya Dion . Pria satu ini benar-benar gak peduli situasi.


"Masuklah. Mas Ardan sudah menunggu kalian. Dia ada di ruang kerjanya." Ani tersenyum. Kemudian mempersilahkan keduanya masuk.


"Ayo Mon kita baca novel."


"Oke."


 


Gadis itu bahkan tak heboh saat melihatku. Biasanya para gadis-gadis lainnya pasti akan melirikku. Jika mereka belum mengetahui Ardan tentu saja.


Ya benar Kevin memiliki wajah tampan. Meskipun dia bekerja di perusahaan Ardan namun dia memiliki beberapa usaha restoran yang memang terkenal. Jadi meskipun tak sekaya Ardan dia tetap digandrungi para gadis. Namun seperti halnya Ardan , Kevin tak akan dengan mudah untuk dirayu. Mereka hanya akan mencintai satu wanita saja dalam hidupnya.


Berbeda dengan Dion baginya tak akan bisa jika hanya bersama satu wanita saja. Karna memang dia memiliki club' malam yang terkenal. Bukan cuma itu saja dia juga memiliki beberapa tempat karaoke yang juga terkenal. Jadi otomatis dunia malam begitu melekat di kehidupannya.


Aku jadi penasaran sekarang. Siapa gadis itu. Bahkan tak memberikan satu senyuman pun ketika melihat kami datang. Aku yakin dia bukan tipe gadis yang bisa seenaknya jatuh cinta. Aku harus segera mencari tahu.

__ADS_1


 


__ADS_2