
"Loh Ri? Kapan kamu pulang?" tanya Ardan.
"Huh !! Kakak terlalu sibuk !!" sembari membuang muka.
"Haha ayolah,"
"Mas Ardan sudah, kita lebih baik sarapan. Ayo Rianna makan yang banyak," Ani mengambilkan nasi dipiring Ardan.
"Sayang, sedikit saja. Aku malas makan," ucap Ardan. Ani menautkan kedua alisnya. Biasanya porsi Ardan bahkan dua kali lipat. Kenapa ini?
"Kakak ipar, aku mau itu. Apa itu namanya? Mami pernah memasak itu juga," Rianna menyodorkan piringnya.
"Rendang daging. Sini dan makan yang banyak ya, jangan ikut-ikutan diet," sindir Ani..
"Siapa yang diet sayang?" tanya Ardan.
"Dasar gak peka," seloroh Rianna. Benar-benar kesal dengan tingkah Ardan. Kemudian dia mulai menyendokkan suapan pertama kemulutnya. Mengacuhkan Ardan yang sudah mengomel.
"Kamu yakin gak mau kuliah?" tanya Ardan tiba-tiba. Membuat mimik wajah Rianna berubah. Rianna menjawabnya dengan gelengan kepalanya. Tak ingin menyuarakan pendapatnya.
"Mas makan dulu." Ani memperhatikan mimik wajah Rianna berubah. Entahlah, dia melihat sorot kedua mata itu berubah. Mencoba menghentikan pembicaraan tentang kuliah.
__ADS_1
"Hem."
Sarapan pun berakhir dengan diam. Tanpa adanya sepatah katapun.
Ani berangkat kuliah bersama Agnes. Kali ini kewaspadaannya meningkat. Dia bersyukur sekarang papanya sudah berada di pihaknya. Itu sedikit membuatnya lega. Setidaknya dia akan aman tanpa bayang-bayang Mickhael yang terus mencarinya.
Sepertinya nona lelah. Dia bahkan terus diam saat memasuki mobil. Agnes hanya mampu melirik dari kaca depan. Berusaha melihat wajah yang setiap hari berseri-seri. Namun berbeda kali ini. Wajahnya sudah ditekuk terlebih dahulu saat menampakkan batang hidungnya.
Ada apa dengan Rianna tadi? Kenapa dia seperti takut untuk masuk kuliah? Wajah yang selalu manja dan tertawa bahagia. Terlihat sendu dikedua matanya. Begitulah yang ia tangkap tadi. Bahkan suara berisik dan manja seolah tersingkir dari kehidupannya.
"Beb kenapa ? Kok rasanya dari pagi muka udah ditekuk begitu?" dasar Monica bahkan tanpa basa basi dia melontarkan semua yang ada di pikirannya.
"Gak apa-apa kok,"
"Tadi Rianna ditanyain sama mas Ardan. Dia mau masuk kuliah tidak tapi sikapnya langsung berubah. Rasanya ada yang aneh,"
"Yah mungkin aja ini berkaitan dengan masa lalunya. Kita kan sudah tau seperti apa? Atau mungkin dia belum siap kembali kedalam hubungan masyarakat," ucap Monica.
"Mungkin saja ya?"
"Hem.... ayo fokus kedepan dosen sudah datang. Jangan terlalu difikirkan mungkin Rianna butuh waktu,"
__ADS_1
"Benar. Mungkin saja Rianna butuh waktu. Dia kan baru saja sembuh," Ani menganggukkan kepalanya. Kemudian mulai memfokuskan diri pada pembelajaran dosennya yang sudah memasuki kelas.
💞💞💞
"Loh tuan Anggara? Ada perlu apa kemari?" Ardan kemudian bangkit menyapa Sebastian Anggara.
"Menyangkut putriku," sahutnya mantap.
"Oh baiklah. Silahkan duduk. Pak Herman ambilkan minuman untuknya," kata Ardan. Pak Herman pun segera membungkukkan badannya lalu pergi. Beberapa saat kemudian dia kembali lagi. Berada di belakang Ardan.
"Anakku Agnes berada di tempatmu kan?" tanpa basa basi dia melontarkan maksud kedatangannya.
"Hahahaa tentu saja saya tau. Anak anda benar-benar mempunyai langkah sendiri ya?"
"Anda mengejek? Aku membesarkan dia dengan baik, namun dia malah pergi dari rumah," ekspresinya mulai tak terbaca.
"Ada apa dengan Agnes?"
"Saya tau alasan anda menempatkannya disamping istri anda tuan !!"
"Benar. Dia pelayan pribadi istri saya," ucap Ardan angkuh.
__ADS_1
"Hahaha apa anda mulai kembali lagi kejalan yang dulu? Sehingga Agnes harus berkelahi?" Intonasi mulai meninggi.