
"Mama!" Sabrina menjerit ketika mendapati Rendy dan Elena tengah duduk di sofa.
"Rendy? Kalian kemari tidak memberiku kabar sama sekali. Maafkan aku baru saja pulang." William memeluk Rendy sebagai tanda persahabatan.
Rendy menepuk bahu William pelan. "Tidak masalah. Oh, Artur? Kemarilah anak muda." Rendy mengisyaratkan Artur untuk mendekat. Setelah Artur mendekat, Rendy mengatakan, "Kurasa kau sekarang menjadi bagian dari keluarga Wijaya. Setiap hari Sabtu, bisakah kau meluangkan waktu untuk ikut dengan ayahmu?"
Artur menoleh ke arah William. Saat sang ayah telah mengangguk, Artur pun menjawab, "Ayah sudah memberikan izin, Tuan Rendy."
"Hei, Nak. Kenapa kau memanggilku tuan? Kau anggota keluarga kami. Eh, aku tidak mau ya dipanggil kakek." Rendy tiba-tiba melepaskan tangannya dari pundak lebar Artur.
__ADS_1
"Jika difikir-fikir, memang itu kenyataannya, Sayang. Kau dipanggil opa oleh anaknya Sabrina," timpal Elena.
Rendy mencebikkan bibirnya. "Kok begitu sih, Sayang? Aku ini masih kuat dan hebat lo. Masa iya, aku dipanggil opa? Kerenan dikit dong," protes Rendy. Menatap memelas ke arah Elena.
"Sayang, kemarilah." Mendengar hal itu, Rendy mendudukkan bokongnya di sofa. Imbuh Elena, "Itu memang sudah seharusnya. Hargai posisi Sabrina. Tapi hebat lo, Sayang. Dipanggil opa, tapi masih keren begini. Dikiranya, awet muda malahan. Sekarang kan jamannya awet muda." Elena membujuk dengan cara yang tak biasa.
"Benar juga. Ya sudahlah, panggil aku opa. Kita kembali ke topik." Rendy memperbaiki letak duduknya. Ia menyilangkan satu kakinya ke kaki yang lain.
Artur terdiam sejenak. "Baiklah, Opa. Artur bersedia. Apa aku akan berlatih dengan Sabrina? Eh, mak-maksudku Mama Sabrina?"
__ADS_1
Sabrina mendelik ketika Artur memanggilnya mama. Ingin protes, tetapi mengingat ekspresi William yang sulit dimengerti Sabrina akhirnya memilih membisu.
"Tidak. Sabrina sudah melewatinya sebelum ini. Kurasa, ia masih ada banyak pekerjaan. Tapi, sebagai cucu kami berdua. Kau harus mematuhi peraturan ini. Ingat, mama sambungmu saja memiliki kejayaan. Masa iya, sebagai anaknya kau akan diam saja? Terlebih, ada banyak musuh yang berkeliaran," papar Rendy.
"Benar juga! Kenapa aku bisa lupa identitas Sabrina yang sebenarnya?" Artur membatin seraya menyugar rambutnya dengan asal.
"Baiklah, Opa. Kapan Artur bisa memulainya?" tanya Artur. Kali ini ia lebih rileks. Wajahnya berseri karena menerima perlakuan yang baik dari keluarga Sabrina.
"Seperti yang kubilang, hari Sabtu. Tapi kau perlu mencocokkan dengan jadwal Danar. Orang yang akan melatihmu. Baiklah, Nak. Kau istirahatlah. Ada yang harus aku bicarakan dengan Sabrina dan juga ayahmu," pungkas Rendy.
__ADS_1
Pria itu memang jarang sekali berbasa-basi. Orang yang mengenal Rendy, pasti paham akan hal itu. Artur mengangguk mendengarkan kata-kata dari Rendy. Artur pun segera berlalu. Ia cukup paham. Pasti ada hal penting yang akan dibahas oleh mereka.
"Aku sudah menghancurkan markas mereka, Sabrina. Amelia juga bekerja keras untuk mencari dalang dibalik teror itu. Semua masih samar-samar untuk kita. Aku harap, kalian semua tetap waspada. Siapapun itu, bisa menjadi musuh dalam selimut," jelas Rendy.