
Operasi berhasil. Agnes sudah dipindahkan keruang rawat intensif VVIP. Begitu pula dengan Michkael tangan kanan dari Agnes juga sudah selesai dengan operasi pengeluaran peluru yang menghujam kakinya. Dion masih setia menemani Agnes. Dia tak ingin dibunuh oleh sang papa setelah apa yang terjadi dengannya.
Dia sudah letih tapi apa mau dikata selain juga menjaga calon istrinya dia juga harus disibukkan dengan berkas-berkas perusahaannya. Belum lagi berkas-berkas penting club' miliknya yang luas itu. Dia memang seperti seorang bos yang pengangguran karena memang terkadang semua dikerjakan oleh asistent dan sekretarisnya. Hanya berkas-berkas yang sangat penting yang dia kerjakan.
Agnes mengerjab-ngerjabkan matanya. Membuka kedua kelopak matanya perlahan. Pandangan yang semula buram kini sudah jelas terlihat. Diujung didekat jendela terlihat sosok tampan nan rupawan tengah serius dengan apa yang dia kerjakan. Berbeda dari biasanya dari sikapnya yang sangat menyebalkan itu dia terlihat serius.
"Air," tak ada tanggapan.
Dasar brengs**. Kau tuli ya?
"Air," Agnes bergumam pelan. Dion masih sibuk dengan kertas-kertas ditangannya. Beserta laptop yang membuatnya seakan menjadi orang paling sibuk.
"Air !!" gadis itu sudah kesal. Dia mengeraskan suaranya. Sangat kesal.
"Oh loe sudah sadar ya," Dion bangkit dari tempat duduknya.
"Gue haus," ucapnya pelan.
"Oke berhubung loe pasien gue turuti deh," Dion mengambil gelas yang berisi air putih. Kemudian memberikannya kepada Agnes. Gadis itu meneguknya hingga habis.
"Haus banget ya?" ejek Dion.
"Menurut loe?" Agnes memutar bola matanya. "Ngapain loe disini?"
"Loe gak liat gue lagi apa?"menunjukkan berkas-berkas yang ada ditangannya.
"Maksud gue loe ngapain disini? Loe gak pulang?!"
__ADS_1
"Gue pengen pulang. Tapi kalau gue pulang gue dibunuh sama bokap gue. Udah deh pasien kayak elo mending tidur lagi aja!! Jangan ganggu,"
"Ngapain gue gangguin elo kurang kerjaan banget," gerutu Agnes. Gadis itu membalikkan badannya memilih menghadap tembok dan membelakangi Dion.
Hening kembali melenggang. Keduanya asyik dalam dunianya masing-masing. Sejenak Agnes melirik Dion yang tengah sibuk dengan pekerjaannya. Kemudian dia berpindah posisi berbaring.
"Hey!" Agnes memecah keheningan.
"Hem,"
"Gue boleh nanya gak?"
"Hem,"
"Hey brengs** gue lagi ngomong sama loe!!"
"Elo kok tau kita dijodohin?" tanya Agnes.
"Pertanyaan loe lucu !!"
"Hey !! Gue penasaran beg* elo tau darimana kalo kita dijodohin?"
"Bokap loe minta gue nyelametin elo. Gue kan gak tau elo anaknya om Bastian. Tapi dia bilang nama elo. Ya pasti elo boong soal identitas elo,"
"Hey...." Agnes mengubah kembali posisinya dari rebahan kini dia duduk dengan bersender diujung bangsalnya. "Gimana kalo elo yang nolak perjodohan ini?"
"Eh gobl** gue udah nolak mati-matian !! Tapi bokap loe malah berlutut di kaki gue. Mana tega gue,"
__ADS_1
"Sialan.... jadi gak ada cara lain nih buat ngehindar dari perjodohan gila ini?"
"Elo nolak karena punya pacar?" tanya Dion.
"Ya enggaklah ngapain gue bucin-bucin kayak orang beg* ? Cih kenapa gue sial banget sih dijodohin sama playboy kayak elo,"
"Kenapa elo gak mau? Secara gue kan ganteng,"
"Playboy cap tengik kayak elo mana mau gue?!! Elo udah ngrasain enak-enak ma cewek lain la gue? Gue PERAWAN !!" teriak Agnes. Seketika wajahnya memerah. Dia membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Sialan nih mulut.
"Kayaknya gue berubah pikiran deh," Dion menarik sudut bibirnya.
"Hah? Maksud elo? Elo mau nolak perjodohan ini?" Agnes sudah menampakkan wajahnya yang sumringah. Seakan dirinya menang lotre.
"Gue berubah pikiran. Gue bakalan nerima perjodohan ini dan kita akan menikah secepatnya. Mungkin bulan depan,"
"Hah?" tubuh Agnes kaku. Apa dia gak salah denger?
Dion memajukan tubuhnya berbisik pelan ketelinga Agnes.
"Gue pengen secepetnya nikah sama elo. Gue pengen ngrasain seorang perawan kayak elo," Dion bangkit dari tempatnya.
"Sialan !!" teriak Agnes sembari melemparkan bantalnya.
"Hei !! Pasien dilarang marah-marah haha," Dion sudah berdiri diambang pintu. Memegang gagang pintu. Dan kemudian keluar dari kamar Agnes dirawat.
__ADS_1
"Dasar brengs** !!! Playboy cap kadal buntung !!!" teriakan Agnes menggelegar. Seakan dirinya lupa bahwa dia baru saja sadar dari ambang kematian.