Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Keributan


__ADS_3

"Paman!" panggil Elena dengan nada yang keras.


"Kenapa kau berteriak? Di sini bukan hutan dan aku memiliki telinga. Mengapa kau teriak-teriak seperti di hutan? Kamu memangnya orang utan?" tanya Rendy sinis.


"Oh Paman ... Mengapa kau tega sekali mengataiku orang utan? Kau tidak lihat ini sudah jam berapa? Aku lapar," ucap Elena.


"Jika kau lapar, segeralah makan. Mengapa kau mencariku? Kau kan bisa masak. Kenapa kau harus repot-repot mencariku?" kata Rendy kesal.


Elena memutar kedua bola matanya kesal. Kemudian dengan kesal dia menjawab kata-kata Rendy. "Eh paman! Aku ini kan numpang. Mana ngerti aku dapur atau bumbu masak di sini. Kau tidak inginkan aku racuni?" ujar Elina.


"Kau berani meracuniku? Baiklah Kei! Segera lempar gadis ini keluar dari rumahku. Biar sekalian dia digigit anjing liar!" Mendengar ucapan dari Rendi kedua mata Elena membulat. Gadis itu begitu ketakutan mendengar kata keluar dari rumah.

__ADS_1


"Paman Rendy ku yang ganteng. Tolong maafin aku. Aku janji, aku tidak akan macam-macam lagi denganmu. Bisakah kita makan sekarang? Aku benar-benar lapar. Jika aku harus mati, bukankah lebih baik jika sebelum mati aku harus makan dulu untuk yang terakhir kalinya Paman? tanya Elina.


"Kau! Beraninya kau dari kemarin memanggilku paman! Aku masih memaafkanmu, tapi tidak untuk hari ini. Lebih baik jangan berharap hari ini kamu mendapatkan makanan. Karena hari ini kau aku hukum! Kenapa kau selalu saja merengek dan memanggilku Paman hah?" kata Rendy kesal.


"Paman kan lebih tua dariku. Bukankah sudah jelas jika aku memanggil kau Paman? Memangnya ada apa? Sudah ... Lapar aku sangat lapar. Kamu tidak lihat perutku? Lihatlah! Dia sudah kempes," ucap Elena dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Randy berdecak kesal tetapi lelaki itu tetap beranjak ke ruang makan untuk makan bersama dengan Elena. Seperti biasa ada banyak menu di atas meja. Itu semua membuat Elena ingin segera memakannya. Namun dia tak ingin jika dia harus diomeli kembali oleh Randy terlebih dahulu.


"Terserah Paman saja deh. Aku sangat lapar." Elena segera mengambil nasi beserta lauk pauknya. Membuat Kei dan Rendy terperangah kaget.


"Kau itu gadis. Kenapa makanmu banyak sekali macam sapi? Ingat kau jomblo akut." Sindir Rendy

__ADS_1


"Jika Paman mengataiku jomblo akut, Paman sendiri apa? Bukankah Paman juga jomblo dari lahir? Nyatanya Paman juga belum bisa menikah bukan sampai hari ini? Mengapa Paman mengataiku jomblo akut? Orang Paman sendiri bujang lapuk," omel Elena.


"Kau! Kau ... Beraninya kau! Mengataiku bujang lapuk!" Rendy bergumam tak jelas. Di sisi lain, Elena justru makan dengan lahap. Tanpa memperdulikan keadaan dan kondisi situasi sekitar. Terlebih emosi dari bosnya membuatnya puyeng.


"Kau ini kenapa sih Paman? Kenapa kau bingung sekali? Sudahlah kita sama-sama jomblo dari lahir. Kenapa saling menghina satu sama lain." Elena makan dengan santuy.


Rendy dan Kei menatap takjub ke arah Elena. Gadis itu tanpa dia sadari dia telah menghabiskan 2 piring nasi 1 ekor ikan mujair bakar dengan rendang daging. Bahkan Rendy dan Kei, kedua lelaki itu kini saling meneguk salivanya masing-masing.


"Oh ya Paman. Mana bayaranku yang tadi malam?" tanya Elina entah ada angin apa tiba-tiba Rendy yang sedang minum air putih segera tersentak.


"Uhukk!"

__ADS_1


__ADS_2