
"Elena ... Kakak sangat menyayangimu. Ayo ikut dengan kakak. Bukankah kau dulu ingin menikah dengan kakak?" tanya Steven dengan wajah yang sedikit suram.
"Kau bercanda ya? Itu dulu sebelum aku tau kak Steven. Kau hanyalah seorang penjahat dimataku saat ini! Pergilah ... Aku tidak punya kakak sepertimu." Elena segera bangkit. Gadis kecil itu kemudian memapah tubuh mamanya. Dengan kepiluan yang begitu menyesakkan dadanya, Elena mencium kening mamanya. "Ma ... Meskipun aku bukan anak kandungmu, aku akan selalu menyayangimu setulus hatiku. Aku akan membalaskan dendam kalian semua. Maaf ma. Karena Elenalah kalian semua mengalami hal yang menyeramkan ini. Seharusnya Elena tau sejak awal. Jika kehadiran Elena justru menjadi duri dalam daging untuk kalian semua. Hiks ... Stevan Robert Vanhoutten! Aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri! Aku bersumpah bahwa akulah yang akan mencabut nyawamu dari tubuhmu!" seru Elena.
Pernyataan dari Elena membuat kedua bola matanya membulat. Lelaki itu terkesiap kaget melihat tatapan penuh kebencian dari Elena. Steven mendesah. Lelaki itu segera menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian Steven berjalan meninggalkan Elena yang terus menatapnya penuh dengan kebencian.
"Aku akan membalas dendam untuk kalian semua. Hu-hu-hu mengapa ... Mengapa jadi seperti ini." Elena mendekap tubuh tak bernyawa mamanya. Menangis pilu meratapi kepergian orang-orang yang dicintainya.
__ADS_1
"Aaaaargggghttt." Teriakan seseorang ebgitu menggema diaula yang besar itu. Elena menoleh. Itu adalah David Anderson Vanhoutten. Adik kandung dari papa Elena, Robert Anderson Vanhoutten.
"Apa yang terjadi Elena!" seru David. "Bagaimana bisa terjadi? Dimana kakakmu, Steven?"
"Paman ... Mengapa hidup Elena begitu menyedihkan? Apa yang salah dari Elena, Paman? Sekarang Elena akan sendirian. Tak lagi ada yang Elena miliki saat ini. Elena akan sendirian. Huaaaaaaaa mengapa? Mengapa pembunuh itu begitu keji Paman?" Elena semakin menangis histeris.
"Tapi Paman ... Apa bibi dan Sonia akan menerima Elena? Selama ini bibi dan Sonia sepertinya tak menyukai Elena,"sahut Elena.
__ADS_1
"Sayang ... Kau termasuk juga dalam anggota keluarga Vanhoutten. Kamu berhak tinggal dirumah paman. Jangan disini. Semua penjaga dan para maid sudah tewas pada akhirnya bukan? Apa Elena tidak takut tinggal dirumah ini sendirian?" tanya David.
"Paman ... Bawa Elena bersamamu. Elena takut Paman. Aku mohon Paman rawat Elena," ucap Elena dengan tegas. Gadis itu terlihat ketakutan sekali. Bahkan tubuhnya terlihat gemetar.
"Baiklah Elena ... Tenang saja. Paman dan bibi akan merawatmu dengan baik. Paman juga akan memperlakukanmu seperti anak kandung paman sendiri. Paman juga untuk sementara waktu akan menghandle perusahaan papa kamu. Saat kamu dewasa nanti, kamu bisa mengambilnya dari paman. Agar papamu tak kecewa melihat perusahaan yang dia bangun sendiri dengan kerja kerasnya itu hancur untuk sementara biarkan paman yang mengurusnya. Kamu tak keberatan bukan Elena?" tanya David dengan sebuah senyum seringai yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Baik Paman. Terima kasih karena Paman begitu baik pada Elena. Elena janji tak akan menyusahkanmu Paman. Mohon bantuan Paman untruk menjaga apa yang ditinggalkan oleh papa." Elena menghapus air matanya. Merasa sedikit lebih baik karena ada yang begitu baik hati mau merawatnya. Meskipun hanya pamannya, bukankah lebih baik ada yang merawat dirinya yang masih kecil? Diripada dirinya harus menelan kehidupan yang begitu kesepian. Inilah Elena kecil yang terlalu naif.