Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Chapter Bonus. Pernikahan Rendy dan Elena.


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun telah tiba. Di kediaman keluarga Winata telah disibukkan dari hari kemarin. Menghias dekorasi rumah semeriah mungkin. Menyewa EO terkenal untuk mengurus keperluan pernikahan Rendy dan Elena. Sedangkan kedua calon pengantin itu telah dipingit selama seminggu di rumah masing-masing. Pancaran kebahagiaan terlihat jelas di wajah Elena. Nona muda keluarga Winata yang baru saja ditemukan.


Hari H.


"Nak, kau gugup?" tanya Monica sembari mendudukkan bokongnya di tepi ranjang milik putrinya, Elena. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Sedangkan Lady, gadis itu senantiasa bersama Elena. Seakan tak terpisahkan.


"Itu hal yang biasa. Mama dulu juga begitu. Jadi jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja." Monica mengusap punggung Elena perlahan. Seakan memberikan semangat untuk anak gadisnya.


"Huft, aku tau Ma. Tapi tetap saja. Elena gugup, Ma. Apa Elena terlihat cantik hari ini?" tanya Elena dengan raut gelisah.


"Tentu, anak mama sangat cantik hari ini. Karena kaulah pemeran utama hari ini. Jangan cemas, Rendy anak dari sahabat mama. Pasti dia akan menjagamu dengan baik, Nak. Mama tak menyangka, kau akan menikah secepat ini," gumam Monica.


"Ma, jangan bersedih. Hari ini hari bahagiaku. Meski aku nanti telah menikah, aku akan selalu mengunjungimu, Ma. Aku masih anak gadismu, Ma. Jadi Mama hari ini harus bahagia. Karena anak gadis Mama, akan dipersunting lelaki yang dicintainya."


"Iya Sayang, kita hari ini harus bahagia. Peluk mama, Nak," ucap Monica dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Elena memeluk erat Monica, mencium aroma wangi sang Mama. Setitik air mata jatuh dari sudut matanya. Rasa bahagia, haru, dan sedih menyelimuti hatinya.


Ceklek.

__ADS_1


"Ma, tamu undangan dan keluarga Wijaya sudah datang. Pak penghulu juga telah siap. Mari turun kebawah," kata Jonathan. Laki-laki menatap dua wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Senyuman lembut terukir dibibirnya. "Hari ini hari bahagia, jangan membuat mendung suasana, Elena."


Elena dan Monica menganggukkan kepalanya. Lady meraih tangan kanan milik Elena. Gadis itupun tersenyum.


"Ayo, aku akan menuntunmu," sahut Lady. Elena mengangguk dengan seulas senyum. Kemudian menarik nafas panjang dan bangkit dari tempatnya. Monica menuntun Elena di posisi kiri, sedangkan Lady, berada di posisi kanan.


********


Ceklek.


"Sayang, mengapa kau gugup? Bukankah kita pernah melakukannya sebelum ini?" goda Rendy.


"I-itu beda! Ka-kalau begitu, aku mau mandi!" Elena terges hendak bangkit. Namun, tangan kekar Rendy segera menarik tubuh Elena yang hendak menjauh. "A-apa kau ingin sekarang?" tanya Elena dengan tenggorokan yang terasa tercekat. "A-aku belum mandi."


"Ya, aku menginginkanmu sekarang."Mengecup ceruk leher Elena.


"Re-Rendy, aku bau asem," celetuk Elena. "Aaaaahhh apa yang kau lakukan, Rendy?" tanya Elena saat Rendy menggendongnya menuju kamar mandi.

__ADS_1


"Mandi bersama mempersingkat waktu!"


Saat di kamar mandi, Rendy segera melepas gaun pengantin milik Elena. Setelahnya, baru dia membuka semua pakaiannya. Kini dua tubuh itu telah polos tanpa sehelai benangpun. Setelah mengisi bathup dengan air hangat, Rendy segera mebimbing Elena untuk memasuki bathup itu.


Elena semakin meradang, takut jika Rendy akan memaksanya untuk melakukannya di kamar mandi. Tetapi saat Rendy benar-benar hanya menggosok punggungnya dan memberikan sabun, Elena menghela nafas lega. Setidaknya pikiran buruknya tentang Rendy salah total.


Perlahan namun pasti, Rendy semakin nakal. Terkadang entah itu sengaja atau tidak, Rendy menyentuh atau sekedar melakukan kegiatan menyabun dengan sengaja. Membuat Elena panas dibuatnya. Berkali-kali Rendy menyentuh bagian-bagian sensitif yang membuat Elena teras*ng. Hendak menegur, namun kepalang malu. Elena hanya mampu membisu sembari menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.


"Elena," panggil lirih Rendy. Tangan lelaki itu terus saja bergerak. Melakukan aktifitasnya menggoda Elena.


"Aaahh hem." Tanpa disadari Elena mendesah. Saat Rendy memainkan ujung p*ting miliknya. Setelah merasa tidak ada penolakan dari Elena, Rendy semakin gencar memainkan dua bukit indah milik Elena. Tangan kanannya bermain di gunung kembar, sedangkan tangan kiri milik Rendy mencari area inti milik Elena. Dengan cekatan Rendy membuka kedua paha mulus milik Elena. Kemudian tanpa permisi memasukkan satu jari miliknya dengan memaju mundurkan jari itu di inti milik Elena. Perlahan-lahan namun semakin cepat. Elenapun menggeliat kegelian.


"Sayang," panggil Rendy di telinga Elena. Hembusan nafas dari Rendy justru membuat Elena semakin mendesah. Jemari Rendy semakin cepat ritmenya. Membuat tubuh Elena menggelinjang dan mengeliat bak cacing kepanasan.


"Aaaahhh, lebih cepat lagi Sayang. Aaahh ooohhh aaaaahhh." Erangan panjang lolos sudah dari bibir Elena. Rendy tersenyum. Wanitanya itu telah mencapai puncak kenikmatan yang pertama. Rendy segera meraup bibir ranum milik Elena. Kedua tangannya masih belum puas memainkan dua buah bukit indah milik Elena.


"Elena, layani aku. Ada yang tegak meminta pertanggung jawabanmu."

__ADS_1


__ADS_2