
"Hari ini kita jadi wawancara?" tanya Justin.
Sabrina, Artur, Aretha, dan Dixton kini telah berada di satu deret bangku yang digabung agar cukup untuk mereka diskusi. Saat ini jam pembelajaran di kampus telah usai. Mereka hanya masuk setengah hari saja.
"Jadi dong. Aku sudah bilang pada ayahku," jawab Artur.
"Sa-Sabrina, apa aku juga ikut?" lirih Aretha. Gadis itu menarik pelan ujung dress Sabrina.
"Tentu. Nanti kau ikut ke mobil kami saja. Jangan khawatir. Tapi, Aretha. Sepertinya kau harus mengganti bajumu. Tidak mungkin wawancara memakai baju biasa. Em, jangan tersinggung ya? Aku tidak bermaksud," kata Sabrina dengan tak enak hati.
"Tidak masalah. Tapi, aku tak punya baju yang sepertinya akan cocok dengan rencana hari ini." Aretha menundukkan kepala.
"Tenang saja, ada aku. Jangan khawatir. Kita bisa mampir ke butik nanti. Tolong menolong sesama teman itu perlu." Sabrina menggenggam tangan Aretha. Disusul dengan senyuman manis agar terkesan tulus.
Aretha tersenyum. Dalam hati ia berkata, "Bodoh sekali kau, Sabrina. Sayangnya, temanmu ini sedang sekarat di suatu tempat. Entah kau menyadari atau tidak. Tapi, sedikit lagi aku akan menggapaimu. Agar aku mudah melepaskan nyawa di tubuhmu. Lalu kau akan pergi untuk selamanya. Dengan begitu, para leluhurku akan hidup tenang dan damai. Seperti sebelum kau menghancurkan markas kami!"
__ADS_1
Mobil jemputan Sabrina dan Artur telah sampai di depan pintu gerbang kampus. Sabrina menarik tangan Aretha untuk ikut masuk ke dalam mobil. Setelah semua naik, Ryu segera melajukan mobilnya membelah jalanan berdebu dan beraspal.
"Tuan Ryu, kita berhenti di butik mana saja. Temanku butuh pakaian ganti," ujar Sabrina.
"Baik, Nona Muda," sahut Ryu.
Artur memilih diam di samping Ryu. Tak ingin bersuara sedikitpun. Ryu mengedarkan pandangan menyapu kiri dan kanan jalanan yang dilewati. Setelah menemukan salah satu butik, Ryu menepikan mobilnya.
"Terima kasih, Tuan Ryu," kata Sabrina dengan tulus.
"Sabrina, di sini pasti mahal-mahal," cicit Aretha.
"Kau temanku bukan?" tanya Sabrina.
Aretha menganguk tanpa bersuara. Lanjut Sabrina, "Jika kau temanku, maka diam saja dan terima ya. Jangan membuatku sedih karena penolakan darimu," timpal Sabrina.
__ADS_1
Aretha kembali bungkam. Membiarkan tangan kanannya ditarik Sabrina memasuki butik. Sabrina lalu memilihkan baju yang sekiranya pas untuk Aretha. Sedangkan Aretha sendiri, hanya mengekor di belakang Sabrin tanpa berbicara apapun. Sesekali Aretha menyentuh pakaian yang digantung dengan tangan. Dari balik bulu matanya yang lentik, Sabrina terus memindai gerak-gerik Aretha.
"Aretha, cobalah ini. Kurasa, ini cocok untukmu. Ayo, coba. Jika cocok, maka ambil ini saja. Jangan pedulikan harga, waktu kita saat ini tidak banyak. Jangan biarkan teman-teman kita menunggu lebih lama." Sabrina kembali menarik tangan Aretha menuju kamar pas dan mendorong tubuh Aretha untuk masuk ke dalamnya.
"Aku melihatnya. Dia memang kidal. Sekarang tatoo yang harus aku lihat di belakang lehernya. Aku sengaja memilih gaun yang hampir sama dengan model gaun yang kupakai. Tentu saja agar ia tidak curiga. Selebihnya, agar aku bisa melihat belakang lehernya. Jika dia Aretha palsu, lalu di mana Aretha yang asli? Sepertinya aku harus meminta bantuan Amelia untuk mendeteksi keberadaan Aretha yang asli," batin Sabrina.
"Sabrina?" Aretha ragu-ragu keluar dari kamar pas.
"Wah!" Sabrina menunjukkan binar kejut di kedua matanya. Seolah, ia benar terpukau dengan penampilan Aretha. "Kemarilah! Kau keren sekali. Coba lihat."
Sabrina memutar tubuh Aretha. Lalu membuat posisi Aretha membelakangi Sabrina. Detik itu juga Sabrina bersikap seolah sedang merapikan belakang gaun Aretha. Lalu menyingkap sedikit rambut hingga menampakkan tatoo yang dicari Sabrina.
"Bukankah ini bunga Belladona? Di dalamnya terkandung racun tropane alkoids dan atropine yang dapat menyebabkan gangguan sistem saraf. Belladonna adalah tanaman yang berbahaya karena sangat beracun yang masuk di dalam keluarga nightshade. Jadi, dia ini salah satu pembunuh bayaran organisasi hitam!" Sabrina membatin.
__ADS_1
Segera Sabrina melepaskan tangannya. Lalu memutar kembali tubuh Aretha. Lalu Sabrina berkata, "Kau sebenarnya cantik Aretha. Tapi kau mematikan."