Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 101


__ADS_3

"Sudah beb jangan begitu. Dari tadi kamu godain aku terus." Masih tersipu malu.


"Hehe baiklah. Pelan-pelan saja juga bisa."


"Oh ya beb kudengar dari mas Kevin usahamu makin meluas ya?"


"Hem.. iya mas Ardan ngasih modal, ya udah deh aku buka supermaket yang lebih besar."


"Enak ya..... Duh bikin iri deh kamu beb." Memeluk Ani.


"Ahahaha apa sih?!"


💞💞💞


"Pak Herman tolong carikan dong, aku mau cilok."


"Hah?" Sekretaris Herman melongo. Pasalnya selama ini Ardan bahkan tak pernah makan cilok. Sepengetahuannya itu adalah makanan kesukaan nona mudanya.


"Pak !!! Aku minta belikan cilok bukannya nyuruh kamu buat melongo gitu. Cepetan nggak aku udah laper!!" Teriak Ardan.


"Baiklah tuan muda." Membungkukkan badannya kemudian pamit keluar ruangan.


"Hah.... Kenapa tuan muda aneh begini sih. Baru juga jam setengah sepuluh sudah lapar lagi. Tunggu cari cilok dimana lagi. Eh pak bisa minta tolong belikan cilok nggak? Tuan muda minta cilok." Ucapnya pada OB yang dia temui dipantry.


"Baik sekretaris Herman. Saya belikan sekarang. Mau satu porsi atau dua porsi?"


"Satu porsi saja pak. Untuk tuan muda." Mengeluarkan uang pecahan lima puluh ribuan.


"Baik pak. Nanti saya bawa keruangan anda."


"Oke. Terima kasih pak."


Ob itu pun berlalu. Meninggalkan sekretaris Herman yang termenung.


Tumben sekali tuan muda minta cilok. Kenapa firasatku aneh ya. Ah mungkin saja tuan muda hanya ingin saja.

__ADS_1


Berlalu meninggalkan pantry. Kembali ke ruangan Ardan.


Beberapa saat kemudian....


Tok...tok...tok...


Ceklek....


"Ini sekretaris Herman. Apakah ada lagi?" Tanya OB itu.


"Sudah pak terima kasih." Menutup kembali pintu. Dan kemudian menyodorkan cilok itu ke Ardan yang masih sibuk dengan tumpukan berkas-berkas. "Tuan muda ini ciloknya."


"Ah terima kasih pak. Ah lapar." Segera saja memasukkan cilok-cilok itu kedalam mulutnya dan.... Habis tak bersisa. Kembali pak Herman melongo. Itu doyan apa rakus. Batinnya bergejolak. "Pak sepertinya aku mau lagi? Bisakah belikan lagi?"


"Hah?" Apa ini? Kenapa tuan muda begini. Sudah kubilang perasaanku gak enak !! "Mau berapa porsi tuan muda?"


"Mungkin dua porsi pak."


"Hah? Apa gak kebanyakan tuan muda? Tadi anda sudah menghabiskan satu porsi cilok."


"Hei aku lapar !!! Sudah sana pergilah sebelum angka nol digajimu nanti aku hilangkan !!"


"Sekalian pak es cendol dawet!!! Dua ya !!" Teriakan Ardan kembali memenuhi ruangan. Lagi-lagi dengan tubuh gemetar karena kesal pak Herman pun hanta menganggukkan kepalanya sembari senyum yang dipaksakan.


"Pak.... Tolong belikan lagi cilok dua porrsi ya? Sekalian es cendol dawet."


"Loh tadi bukannya...."


"Tuan muda minta lagi."


"Tapi... Dimana belinya es cendol dawet pak?" Tanya OB itu ragu.


"Ya cari !! Esnya dua jangan lupa. Nih ongkos juga buat bapak karena bolak balik." Mengeluarkan uang tiga ratus ribu. Tentu saja OB itu bahagia mendapatkan sedikit tambahan uang.


"Baiklah sekretaris Herman saya permisi."

__ADS_1


Sekretaris Herman kembali ke ruangannya dimana juga Ardan berada. Hari ini adalah hari yang melelahkan baginya. Dari pagi Ardan sudah uring-uringan gak jelas. Ditambah sekarang rengekan meminta sesuatu yang bahkan selama ini tak pernah disentuhnya. Memang Ardan tau cilok itupun karena istrinya sering jajan cilok didepan pertigaan jalan dekat kantornya. Tapi sekarang sepertinya sudah menjadi kesukaan Ardan juga. Entahlah selera makan tuan mudanya itu benar-benar aneh !!


💞💞💞


"Jadi gak?"


"Ya jadilah. Kita tunggu Agnes dulu." Ani mengedarkan pandangannya ke sekitar mencari sosok bule cantik yang selalu mengekornya kemana-mana. "Oh iya Monic sekarang sepertinya kamu lebih suka pakai rok ya?"


"Apa tidak cocok?"


"Cocok makin feminim sekarang. Kayaknya berkat mas Kevin ini."


"Duh beb please deh jangan ungkit-ungkit mas Kevin terus." Monica memajukan bibirnya. Cemberut karena sahabatnya terus-terusan menggodanya.


"Maaf nona. Saya telah membuat anda menunggu." Ucap Agnes. Nafasnya terengah-engah.


"Gak apa-apa kok. Ayo kita ketempat ruko itu. Gak sabar pengen lihat." Kata Ani. Dia bahagia sekarang bisa menjalankan bisnisnya sendiri. Walaupun dibantu oleh suaminya. Setidaknya dia telah melebarkan sayapnya didunia bisnis membantu sang suami mengelola keuangannya.


Saat mereka bertiga berjalan. Agnes memiliki firasat tak enak. Namun dia urungkan. Takutnya malah hanya perasaannya saja. Dan benar saja sebelum mereka sampai diparkiran kampus, kini mereka dihadang oleh sekelompok anak muda. Monica merasa seperti familiar terhadap mereka.


"Kalian mau apa?" Teriak Monica.


"Serahin tuh cewek !!" Ucap salah satu dari kelima pemuda itu.


Monica menatap arah jari telunjuk yang diacungkan salah satu pemuda itu. Matanya membulat seketika. Ani.


"Wah. Emangnya ada urusan apa? Kayaknya pernah lihat deh, kamu bukannya Alex preman kampus ya? Ngapain kamu nyari Ani." Monica mengambil langkah waspada begitu pula dengan Agnes. Namun sorot mata Agnes menunjukkan kilatan amarah.


"Sialan jangan banyak bacot lo !!! Serahin tuh cewek !!" Teriakan dari pemuda bernama Alex.


Monica menggenggam tangan Ani. Setelahnya dia menatap wajah cantik nan sendu itu mulai ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Monica memberikan Agnes kode. Dan Agnes menjawab kode itu dengan anggukan kepalanya. Kemudian Agnes menarik tubuh nona mudanya untuk segera menjauh dari tempat itu. Awalnya Ani ragu tak ingin melepaskan genggaman tangannya. Namun sejurus kemudian Monica tersenyum padanya, sembari menganggukkan kepalanya. Barulah Ani melepaskan tangan itu dengan bulir-bulir kristal dipelupuk matanya.


"Wah loe berani banget ya cewek sialan !!"


Kembali matanya mengarah kedepan. Alex dan teman-temannya mulai beranjak akan mengikuti kemana Ani pergi. Namun tiba-tiba.... Monica melayangkan sebuah tendangan. Emosinya membuncah. Setelahnya mengambil langkah kuda-kuda.

__ADS_1


"Sialan loe!!!" Alex meringis kesakitan.


"Jangan pernah kalian ganggu sahabatku. Atau aku bakalan ambil tindakan." Ucapnya tegas.


__ADS_2