
"Ani...."
"Ada apa?"
"Gimana nih?"
"Apa?"
"Ayo makan siang. Aku lapar."
"Ahhh... kupikir apa mon."
"Ini udah jam makan siang tau". Monica ngeyel. Perutnya benar-benar sudah berjoget ria. Rasanya para cacing di perutnya sudah berdemo ria minta diisi.
"Hehehe iya iya. Aku panggilin suamiku dulu ya. Kamu panggil BI Inah buat siapin makan siangnya di meja makan. Monica mengangguk. Kemudian Ani beringsut dari tempat duduknya beranjak menuju ruang kerja suaminya.
Tok tok tok....Ceklek... Terlihat Kevin membuka pintu.
"Waktunya makan siang kita makan siang bareng. BI Inah sudah menyiapkan makan siang."
"Oke sayang." Ardan setengah berteriak dari dalam.
"Yuhuuuu makan siang gaes." Dion mulai beranjak keruang makan.
"Jangan lupa melihat orang yang mau deketin cewek." Berbisik di telinga Kevin.
"Sialan loe!!"
Sedangkan Ardan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan kedua sahabatnya itu.
Terlihat Monica sudah duduk manis dimeja makan. Rambutnya dia ikat kuda keatas. Ani tau maksudnya. Supaya dia bisa bebas makan. Melihat mereka semua dia tersenyum.
__ADS_1
BI Inah sudah masak ikan gurame bakar tumis kangkung ayam bakar madu sambal bajak dan sup tom yam. Sangat terlihat menggiurkan.
"Ayo makan jangan sungkan." Ani mempersilahkan para tamunya untuk makan. Dia mengambilkan nasi untuk suami dan dirinya sendiri.
"Gak bakalan sungkan." Perkataan Monica diiringi suara tawa Ani dan Ardan. Mereka tahu seberapa besar porsi makan bagi Monica. Namun yang begitu penting adalah bagaimana bisa makan sebanyak apapun namun body hanya sekadar berisi. Memang tak seramping Ani namun tubuh Monica ini lebih berisi namun juga tak terlihat montok atau gendut. Bisa diartikan badannya berisi.
Kayaknya nih cewek polos deh. Dion.
Mereka semua menatap Monica heran. Terlebih kedua orang yang baru saja datang bertamu itu. Glekkk. Mereka menelan ludah mereka sendiri. Porsi yang diambil Monica sudah cukup banyak namun lihat saja bahkan dia tak segan menambah nasinya lagi.
Nih cewek gila. Kevin gimana ya kalau udah tau calon gebetannya makan seabrek gini? Tapi sumpah dia benar-benar beda banget sama cewek kebanyakan. Makannya sok sedikit. Sok diet. Ah tau ah. Lah ini sih udah kayak lomba makan aja. Apa-apa diembat juga. Dion.
Diliriknya Kevin sama seperti dia keheranan melihat kelakuan cewek yang baru saja mereka temui.
Ya ampun gemesin banget. Dia apa adanya sama seperti istri Ardan. Kevin
"Nanti kamu boleh bungkus kok. Kasih buat adik-adikmu ya". Kata Ardan dia tau jika posisi gadis teman dari istrinya itu berasal dari keluarga tak mampu jadi untuk makan yang seperti ini pun pastinya akan sangat jarang.
"Makasih ya pak."
"Kalau masih kurang boleh tambah lagi Lo Mon."
"Hehe oke Ani."
"Oh ya namamu siapa?" Tanya Kevin akhirnya dia berani juga membuka suaranya.
"Aku Monica".
"Gue Kevin. Dan itu Dion."
"Oke." Kemudian melanjutkan makan siangnya lagi. Tanpa perduli lagi dengan mereka semua yang ada dihadapannya kini.
__ADS_1
Puuufffff kasian kamu Kevin kayaknya dia gak terkesan banget deh sama kamu. Labih tepatnya makan siangnya lebih penting dari pada apapun wkwkwkk. Dion.
Ternyata gue beneran gak salah pilih. Lihat saja gue bakalan memperjuangkan cinta gue.
💞💞💞
"Mas hari ini akan pulang malam sayang. Kamu gak apa-apa kan?"
"iya mas gak apa-apa kok nanti aku mau istirahat aja dirumah." kata Ani sambil memakaikan dasi suaminya.
"Kalau kamu bosan. Kamu boleh kok pergi jalan bareng Monica."
"Beneran mas?" Ani berbinar. Rasanya bahagia juga dia tak dikekang. Dia masih Bebas bergaul dengan siapa saja. Kemana saja.
"Tentu saja sayang. Apa sih yang enggak buat kamu. Kamu minta apa juga mas bakal kasih kok."
"Aku tau itu. Nah sudah. Sekarang waktunya sarapan."
Mereka berdua menuruni tangga. Bergandengan tangan mesra. Para pelayan menundukkan kepala.
"Selamat pagi tuan muda dan nona muda."
"Selamat pagi."
Ardan menarik kursi untuk istrinya. Pamandangan ini memang sering kali terjadi setiap mereka akan makan bersama.
"Oh ya sayang apa Monica sudah punya pacar?" Tanya Ardan.
*deg deg deg*... Ani menghentikan aktivitas makannya. Apa maksud mas Ardan menanyakan tentang Monica? Apa mas Ardan jatuh cinta sama Monica? Apa mas Ardan bakalan ninggalin aku demi Monica? Yang benar saja*.
Ada rasa menyesakkan didalam hati Ani. Rasa sakit dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Ardan. Menghujam dadanya tanpa bisa ditahan. Merasa dipermainkan.
__ADS_1
"Sayang kenapa diam?"
Â