
Sabrina telah bersiap. Ia menarik napas dan menghembuskan napasnya secara perlahan. Artur telah bersiap. Pintu mobil ia buka untuk Sabrina. Artur mengukurlan tangan kanannya. Sabrina segera menerima uluran tangan dari Artur.
Segera saja Artur dan Sabrina berjalan beriringan. Keduanya perlahan memasuki ballroom hotel. Pandangan semua orang sontak menghadap dua orang yang baru saja memasuki ballroom hotel. Bagaimana tidak? Sabrina mengenakan gaun yang mewah dan berwarna hitam. Sungguh pemandangan yang begitu menakjubkan kaum adam.
Hal itu tak luput dari pengamatan Lexi dan teman-temannya. Mereka bertiga mematung di tempat itu. Tak banyak yang diundang. Hanya beberapa anak dari para konglomerat yang ada di negara ini saja yang diundang. Lexi yang melihat Sabrina, semakin terpana tanpa bisa lagi membendung rasa di hatinya.
"Sabrina!" panggil Lexi dengan lantang. Wajah pria itu tersenyum menawan. Mencoba untuk menjerat Sabrina dalam pesonanya.
Sabrina memang tak memakai gaun yang sexy. Hal itu justru menambah nilai plus untuk gadis yang menjadi pujaan hati Lexi. Padahal, biasanya Lexi cukup mengangumi para gadis-gadis yang suka sekali memakai gaun ****.
__ADS_1
"Apa aku datang terlambat?" tanya Sabrina. Ia dan Artur telah berjalan mendekat. Lalu menjabat tangan Lexi. "Selamat ulang tahun, Lexi. Ini hadiah untukmu." Sabrina menyodorkan satu kotak kado kepada Lexi.
"Kau memberiku hadiah?" tanya Lexi dengan kedua mata yang berbinar.
Sungguh ini adalah hadiah terindah di acara ulang tahunnya. Dengan tak sabar, Lexi membuka kado dari Sabrina. Masya yang melihat itu justru mengulas senyuman penuh ejekan.
"Pasti hadiah yang murahan kan, Sabrina? Kau kan hanya gadis yang terlahir dari keluarga yang biasa. Berbeda denganku, yang bisa memberikan kado dengan harga yang mahal," ejek Masya.
"Astaga! Bukankah ini jam tangan yang mahal? Harganya saja puluhan juta!" gumam Lexi.
__ADS_1
Masya yang penasaran, segera melihat hadiah yang tadi diberikan oleh Sabrina. Tiba-tiba kedua matanya membulat sempurna. Hadiah yang diberikan oleh Sabrina memiliki harga puluhan juta. Masya paham karena sang papa juga memakai jam tangan dengan merek yang sama.
"Ini tidak mungkin," lirih Masya dengan nada tak percaya.
"Apa-apaan sih kau, Masya? Jelas-jelas Sabrina telah memberiku hadiah yang mahal. Mengapa kau bilang ini tidak mungkin? Kau saja yang terlalu sombong. Lagipula, apa matamu buta? Lihat gaun yang dikenakan Sabrina. Itu saja sudah membuktikan jika dia bukan orang biasa. Kenapa sih kau ini?" pungkas Lexi dengan kesal.
Seketika Masya menundukkan kepala. Tak berani lagi menatap Lexi dengan percaya diri. Masya tidak tahu. Sekalipun Lexi anak dari konglomerat di negara ini, Lexi tak pernah main-main dengan perasaannya terhadap Sabrina. Dari awal, Lexi hanya ingin Sabrina. Bahkan Lexi tak pernah mencari tahu kehidupan ekonomi seorang Sabrina. Itu dikarenakan Lexi merasa Sabrina berbeda dan itu membuat Lexi tertantang.
"Aku yakin ini bantuan dari Artur! Kita semua kan tahu, jika Sabrina dan Artur sangat dekat. Bisa saja kan jika ternyata itu Artur yang membelinya," kata Masya masih dengan menatap remeh ke arah Sabrina.
__ADS_1
"Kamu lupa? Jika Artur dan Sabrina adalah sepupu. Itu berarti bisa saja Sabrina juga berasal dari keluarga yang seperti kita. Sudahlah! Kau ini kenapa sih dengan Sabrina? Dia saja tenang dan nggak culas seperti kau! Minggir sana! Membuat mataku malas saja!" gerutu Lexi.