Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 314. Sebuah Perjanjian?


__ADS_3

"Siapa yang bilang?" sanggah Sabrina.


Danar memindai wajah Sabrina dengan lekat. Melihat tidak ada kegugupan, pria itu melanjutkan langkahnya kembali. Di belakang, Sabrina bernapas lega. Ia kembali mengekor di belakang Danar.


Pemandangan selanjutnya adalah arena menembak. Sabrina terpaku. Ia tenggelam dalam euforia bahagia. Banyak sekali senjata api, dengan berbagai jenis. Gadis itu mengulum senyuman. Begitu riang, dengan pemandangan yang ada di depan matanya.


Selain bisa berlatih, aku bisa melihat pria tampan! Mereka juga berusia matang. Ah, meskipun masih saja uncel William yang terbaik. Tetapi cuci mata, juga tidak ada salahnya. Hehe. Sabrina membatin riang.


"Nona Muda Sabrina," panggil Danar.


Memang ia dan Sabrina begitu dekat. Sesekali Danar memanggil Sabrina, dengan nama saja. Mendengar namanya dipanggil, Sabrina berjalan mendekat. Rihanna diberikan senjata yang begitu cantik. Senjata api berjenis Glock 45 GAP.


Sabrina tersenyum. "Ini memang sesuai dengan tanganku. Paman Danar memang yang terbaik!" pekik Sabrina.


"Baiklah. Ayo, kita lihat seberapa jauh kemampuanmu dalam menembak," ucap Danar. Ia menggiring Sabrina memasuki arena tembak.

__ADS_1


Para calon pasukan, memundurkan tubuh. Memberikan jalan untuk Danar dan Sabrina memasuki arena tembak. Di tengah lapang, Sabrina menjadi pusat perhatian. Terlebih Danar mengatakan sendiri, jika Sabrina istimewa.


Dor.


Suara yang memekakkan telinga terdengar, yang berasal dari senjata api di tangan Sabrina. Tepat sasaran. Semua orang yang melihatnya, hanya membeku di tempatnya. Sabrina lalu bergerak kembalu. Ia mulai memainkan senjata api dengan mahirnya. Danar tertegun. Ia mulai yakin, dengan pemikiram Rendy.


"Kau sudah sejauh ini?" tanya Danar. Ia begitu takjub dengan kemampuan Sabrina menembak. Bahkan saat gadis itu menyokong senjatanya.


"Ini menyenangkan, Paman Danar. Kita berlatih apa lagi?" tanya Sabrina dengan antusias.


-------


Keesokan harinya, Sabrina bersiap. Ia begitu bahagia akan bertemu dengan William di hari Minggu. Sesekali Sabrina mengulum senyuman. Entah berapa kali, ia mematut diri di depan cermin.


Setelah dirasa cukup, Sabrina menyambar tasnya lalu berjalan keluar kamar. Gadis itu menaiki sepeda motornya. Sebagai seorang anak konglomerat, memang tak biasa jika ia harus mengendarai sepeda motornya. Akan tetapi bagu Sabrina, itu adalah hal biasa. Sesekali ia ingin bersantai, menggunakan sepeda motornya.

__ADS_1


Di cafe kenangan mantan, Sabrina memarkirkan sepeda motornya. Gadis itu mulai berjalan memasuki cafe. Ia mulai melongokkan kepala, mendcari batang hidung William. Si duda keren dan mentereng itu, terlihat mencolok. Tentu saja karena pria itu, memakai setelan jas hitam.


"Uncle, William," sapa Sabrina.


William menoleh. Ia tertegun sejenak saat melihat penampilan Sabrina. Sebuah blous berwarna creame dipadukan dengan rok lipit hitam sepaha. Lalu sebuah tas selempang, bertengger di bahunya. Rambutnya yang berwarna hitam sedikit kecoklatan itu, ia biarkan tergerai hingga pinggulnya. Gadis itu mendudukkan bokongnya di kursi.


Berkali-kali William mengerjabkan kedua matanya. Mencoba menguasai diri. Sabrina kini dilanda kecanggungan. Pasalnya, ia menyadari kearah mana pandangan William terkunci.


"Em, Uncle?" Sabrina berusaha menyadarkan kembali sosok laki-laki berwibawa di depannya.


"Ah, maaf. Kau pesanlah makanan. Aku sudah pesan," ujar William canggung.


Rendy ini gila atau bagaimana sih? Sabrina jauh sempurna, dibandingkan denganku. Sudah tahu, aku ini duda. Masih saja nekat menjodohkan aku dengan Sabrina. Ya, aku akui dia cantik. Tetapi aku juga tak bisa melupakan mendiang istriku, begitu saja. Entah aku harus bagaimana, menghadapi kenyataan yang gila ini. William menarik napas.


"Uncle, kenapa?" tanya Sabrina heran.

__ADS_1


__ADS_2