
"Em bro..... Cewek yang kemarin itu kok gue masih belum percaya ya. Kenapa dia jadi pelayan di rumah loe?"
"Kenapa? Mo loe gaet juga?" Tanya Ardan. Memang dasar playboy.
"Enggak!!! Dia cewek aneh. Siapa juga yang mau sama cewek aneh begitu." Dion bersungut-sungut kesal. Memang perempuan pada umunya akan lemah lembut. Namun berbeda dengan gadis yang dia temui kemarin.
"Ckckckckk awas ya bisa jadi omongan itu malah balik lagi lo. Mulutmu harimaumu." Menatap wajah Dion yang sudah mengerucutkan bibirnya.
"Gue kan penasaran aja. Dia cantik men cuma sayang aja rada gak waras."
"Kalau dia model kayaknya udah loe gebet deh bro." Goda Ardan.
"Enggak!! Gue kan tadi udah bilang bro kalau dia itu cewek aneh. Wajahnya datar. Sedatar tembok." Gerutu Dion.
"Gila kalau sedatar tembok ya malah nakutin orang beg* !! Loe Napa sih? Ada masalah?" Tanya Ardan keheranan sikap Dion akhir-akhir ini membingungkan.
"Menurut loe gue udah waktunya nikah ya?" Tanya Dion dengan raut wajah yang serius. Sepertinya memang perjodohan yang diatur papanya membuatnya hilang fokus.
"Loe ngejek gue ya? Gue nikah umur berapa coba ?! Sialan loe!!" Memukul bahu Dion dengan bantal sofa.
"Loe nanya gue ada masalah apa? Gue udah jawab gobl** !!! Itu masalah gue sekarang!!" Teriak Dion.
"Disuruh nikah?" Tanya Ardan. Kini suaranya sudah turun satu oktaf. Baiklah dia pernah diposisi itu. Sebelum akhirnya kini resmi menjadi seorang suami.
"Hem. Taukan papaku gimana? Gue juga disuruh nikah sama anak temen papa. Gila gak tuh? Padahal ketemu aja belum pernah."
"Apanya? Nikah gak seburuk itu juga bro. Tidur ada yang nemenin. Mau makan ada yang nyiapin. Pulang kerja ada yang nunggu di rumah. Ingat umur loe, sebelum loe nyesel sendiri nantinya. Kayak gue, gue nyesel kenapa gue ketemu Ani baru-baru ini kenapa gak dari dulu coba."
"Eh bro gue penasaran loe nikah Ama janda gitu kadang gak cemburu? Kan dia udah ..... Em...sorry ya.... Udah pernah disentuh laki-laki lain. Pernah gak cemburu?"
__ADS_1
"Enggak juga sih. Toh itu masa lalu. Beda lagi kalau sekarang, bakalan habis dia nanti. Semua orang kan punya masa lalu juga bro. Yang penting sekarang masa depan kami. Itu yang penting."
" Gitu ya berarti nanti kalau gue nikah dapet perawan dia juga bisa nerima gue apa adanya juga." Dion manggut manggut.
"Ya beda brengs*** loe kan belum nikah. Kalau istri gue kan orisinil dia nikah resmi !!! Catat !!! Nikah resmi !!! Gila apa. Loe ngipi tinggi banget sih bro. Siapa juga anak perawan yang mau sama loe?!!!"
"Banyak tuh!!! Seperti kemarin itu. Dia bahkan tergila-gila sama gue."
"Ah tambah gila gue ngomong sama loe!! Diem lu!!" Kini memfokuskan kembali pada laptop didepannya.
"Bro jahat ah. Kalau Kevin aja didengerin. Kalau gue diacuhin. Gak adil nih."
"Gue udah bilang mending nikah sana dari pada loe recoki gue mulu. Lagian inget umur aja udah. Sana cepetan nikah. Tar gue kasih mobil."
"Ya kali enak banget loe ngomong gue belum pernah ketemu tu cewek bro!! Masa iya gue mau aja. Ntar kalau dia rada-rada gimana?"
"Cocok sama loe dong. Loe kan rada-rada gesrek."
💞💞💞
"Sayang.... Sana mandi aku siapin baju tidurmu ya." Kata Ardan begitu mendapati istrinya baru sampai dirumah. Ani hanya melenggang tanpa bicara sepatah kata pun hari ini gadis yang bernama Rianna itu benar-benar membuat hati dan pikirannya kacau.
Ardan mengamati gerak-gerik istrinya dengan seksama. Memang sepertinya sedari pagi istrinya tak banyak bicara. Namun dia tetap melanjutkan aktivitasnya mengambil baju tidur untuk istrinya. Wajah istrinya yang selalu tersenyum bak bunga matahari itu. Kini meredup. Seakan lelah menderanya sedari pagi. Kemudian Ardan ke dapur mengambilkan makan malam untuk istrinya. Membawa kedalam kamarnya agar selesai mandi istrinya bisa segera menyantap makan malamnya.
Namun nihil bahkan istrinya malah mengambil baju tidur piyama yang lebih banyak menggunakan bahan kain Tidak seperti baju tidur tipis yang dia ambilkan. Sedangkan baju tidur yang tadi ia siapkan bahkan tak disentuhnya sama sekali. Setelah dia selesai menggunakan piyamanya kini malah merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tanpa menyentuh makan malam yang sudah dia ambilkan.
"Sayang." Panggilnya pelan. Hening.
"Sayang. Makan malam dulu ya?" Bujuk Ardan. Hening kembali melenggang. Setelah memainkan ponselnya beberapa waktu, Ani malah memejamkan matanya. Enggan menyaut panggilan Ardan.
__ADS_1
"Sayang!!" Ardan memegang tangan istrinya. Mencoba membujuk untuk mengeluarkan sepatah kata. Namun tak ada reaksi. "Sayang kamu kenapa?" Tanya Ardan kini dia menggoyang-goyangkan tubuh istrinya. Dia sudah kesal karna sedari tadi dia berbicara tak direspon sama sekali. "Apa kamu marah?"
"Menurut mas Ardan gimana? Mas Ardan sendiri bahkan gak nyadar kalau dari tadi pagi aku badmood. Udah deh mas aku ngantuk. Capek aku. Besok udah masuk kuliah." Kembali memejamkan matanya. Menarik selimut sampai lehernya.
Menarik selimut yang dikenakan istrinya dengan kasar kemudian membuang kesegala arah. Rasa kesal karna Ani sudah mengabaikannya kini meluap.
"Kamu marah gara-gara Rianna?" Good Ardan. Langsung ke inti masalahnya.
"Ya kali mas aku gak marah. Kamu ngapain aja sama dia didepan mata aku?" Bangkit dari ranjangnya. Berusaha menyembunyikan rasa kesal dan emosinya yang memuncak.
"Aku kan udah bilang dia sahabat aku, udah seperti saudara sendiri sayang."
"Sahabat? Emang ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan? Gak ada mas!!" Nafasnya menderu. Rasa kesal yang sudah menyulutnya sedari pagi kini berusaha dia luapkan.
"Ada sayang. Dan kami sudah bersahabat tiga tahun lamanya. Gak mungkin aku dan Rianna ada hubungan. Aku sangat mencintai kamu sayang. Cobalah mengerti." Mudah sekali bilang mencoba mengerti. Kini Ardan memeluk tubuh istrinya. Dia tahu istrinya sedang tersulut emosi.
"Lepas. Aku capek." Melepaskan pelukan Ardan dan kemudian berlalu menuju pintu.
"Kamu mau kemana? Ini sudah malam." Ucap Ardan dengan tegas. Sepertinya percuma berbicara baik-baik dengan istrinya.
"Bukan urusanmu mas. Lagian dari awal seharusnya aku yang membatasi perasaanku. Tidak seharusnya aku memberikan cinta sepenuh hatiku untukmu." Membuka pintu kamarnya dan hendak berlalu.
"Kalau kamu pergi dari kamar ini selangkah saja, aku pastikan malam ini aku akan menghukummu."
"Maaf." Kini dia berlalu dengan segera. Melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. Air matanya kini berada di pelupuk matanya. Rasanya menyesakkan.
Ardan diam ditempat. Mencoba memikirkan selanjutnya. Namun sesaat istrinya bahkan tetap kekeh pada pendiriannya.
"Sayang!!!"
__ADS_1
Kenapa dia nekat begini?! Ya Allah dia mau kemana malam-malam begini.
Segera menyusul istrinya dengan cepat, namun istrinya bahkan sudah tak menampakkan ujung rambutnya sedikitpun.