Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 363. William Gelisah


__ADS_3

ada lanjutan bab ya. di bawah. sedikit info bagi yang penasaran buku cetak author, silahkan cari buku Kapten Rojali, I Love You. Author up di noveltoon. maaf sedikit typo😁 sudah diperbaiki tapi masih nunggu. imi aku publish di noveltoon hanya 5 bab kemungkinan. biar kalian semua semangat untuk dapat buku gratis cetak author yang itu.



William menceritakan kejadian kemarin malam. Apa yang membuat William bingung dan gelisah. Tentang semua kegundahan hatinya. Sedangkan Rendy, menyimaknya dengan seksama. Bukankah ini tentang rumah tangga putri tercintanya? Tentu saja Rendy harus bisa mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh William akan putrinya itu.


"Aku bukan menyesal, Rendy. Aku hanya bingung okay? Situasiku rumit. Aku yang dulunya hanya tahu bekerja dan pulang lalu bertemu dengan anak. Sekarang aku seakan dihempaskan untuk berada di medan tempur. Aku tidak mengerti, mengapa Sabrina harus menghindariku. Aku hanya butuh jawaban," jelas William.


Rendy menganggukkan kepala berulang kali. Kemudian menarik napas dalam-dalam. Ditatapnya sang sahabat sekaligus menantunya itu dengan lekat.


"Aku mengerti. Aku juga tidak menyalahkanmu. Tapi, aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau tahu siapa aku?" tanya Rendy.


William mengangguk. "Keturunan keluarga Wijaya. Keluarga terhormat yang melegenda."


Rendy menganggukkan kepala. Sejenak pria paruh baya itu terdiam. Menatap William dengan seksama. Rendy sekali lagi menghembuskan napas berat.


"Kau sudah melihat aksi Sabrina. Hidup kami sebagai penerus tidak mudah. Ada banyak didikan dari ayahku, Ardan Wijaya. Aku dan kedua saudaraku, benar-benar hidup dalam peraturan. Kau pikir, siapa yang bisa menyentuh kami? Sejauh 10 tahun terakhir, tidak ada. Tapi, sewaktu kecil Sabrina menjadi korban penculikan. Semenjak itu pula, Sabrina harus bisa melindungi dirinya sendiri. Hidup atau mati dirinya, hanya akan bergantung pada kemampuan di kedua tangannya." Rendy menjelaskan panjang lebar.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin mengatakan, jika penculik Sabrina justru tewas kan? Dikarenakan tanpa sengaja Sabrina membawa gas terkompresi. Untungnya, Sabrina diikat di tempat lain. Sedangkan tas Sabrina yang isinya uang dan ponsel serta gas terkompresi dibawa pelaku. Siapa yang menyangka, nasib Sabrina begitu baiknya? Bocah itu dari bayi, memang seperti senjata berjalan," kata Rendy dalam hati.


"Aku mengerti." William mengalah. Ia menghembuskan napas perlahan. Lanjutnya, "Dia memiliki dua kunci. Apa itu maksudnya? Itu selalu menggangguku. Jika aku bertanya kepada Sabrina, maka dia tidak akan mau menjawabnya. Sekarang saja, dia justru menghindariku," keluh William.


"Dua kunci adalah dua geng mafia!" timpal Elena.


Di sisi lain, Sabrina menikmati semangkuk bakso dengan nikmat. Tak tanggung-tanggung, dia justru telah menghabiskan dua mangkuk bakso sebelumnya. Di bangku depannya, Artur menatap Sabrina dengan raut wajah yang tak bisa dideskripsikan.


"Kenapa kau menatapku?" tanya Sabrina. Masih dengan menikmati menu bakso yang akhir-akhir ini menjadi kecintaannya.


"Iya. Aku sangat lapar sekali. Kau makanlah, aku yang traktir," tukas Sabrina.


Artur mendesah. "Kalau kau tidak mentraktirku, aku akan memaksamu. Kau dari kemarin mengatakan akan memberiku uang saku kan?"


"Kalau kau terus mengomel aku akan membatalkannya." Sabrina mencebikkan bibirnya.


"Kau bertengkar dengan ayah?" Pertanyaan dari Artur membuat Sabrina mendelik.

__ADS_1


Sabrina memilih mengabaikan pertanyaan dari Artur. Kedua mata Sabrina mengawasi keadaan sekitar. Dari kejauhan Sabrina dapat melihat Aretha berjalan ke arahnya. Gadis itu menundukkan kepalanya, meskipun banyak orang yang Aretha lewati. Orang tersebut terlihat menghina Aretha. Senyum Aretha justru mengembang saat melihat Sabrina.


"Hai, Sabrina. Ha-hai, Artur," sapa Aretha.


"Aretha, kenapa kau diam saja? Bukankah mereka menghinamu? Balas dong. Kalau perlu pukul." Sabrina mempraktekkan sebuah tinjuan.


"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa, Sabrina. Eh, wajahmu kenapa?" Aretha mencoba menyentuh wajah Sabrina.


"Aku terjatuh." Sabrina meringis. 


Gadis itu menepis lembut tangan Aretha. Tanpa sengaja, Sabrina mendapati luka lebam di lengan Aretha. Segera, Sabrina mencekal tangan Aretha dan semakin yakin jika itu luka bekas pukulan.


"Lenganmu kenapa?" tanya Sabrina.


Tampak Aretha tersenyum miris. Memperbaiki letak kacamatanya dan menundukkan kepala. "Aku hanya anak panti asuhan. Tidak memiliki orangtua. Di gang dekat panti, selalu ada preman yang memalak. Jadi, ya begitulah. Tapi ini tidak apa-apa. Oh iya, tumben kau sarapan di sini, Sabrina?" Aretha mendongakkan kepala. Menarik lembut tangan yang dipegang Sabrina.


"Tentu saja sarapan di sini. Ada yang sedang kabur dan menghindari seseorang," celetuk Artur. Hal itu membuat Sabrina mendelik seketika.

__ADS_1


__ADS_2