Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 394. Ulet Bulu Terdesak


__ADS_3

"Minggir! Sudah kubilang, jangan kurang ajar!" bentak William.


Pria itu segera berlari menuju di mana Sabrina berada. Tatapan nyalang William dapatkan dari Sabrina dan juga Artur. William segera menggapai tangan Sabrina.


"Sabrina, jangan marah. Dengarkan aku dulu. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu kan?" William berusaha menekankan kata-kata perasaannya.


Karena tadi malam, William dan Sabrina saling mengungkapkan perasaan yang kian mengakar kuat di hati keduanya. Sabrina masih mematung di tempat ia berdiri. Terlihat jelas, senyuman penuh kemenangan terbit di bibir Ara. Sabrina mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Ketika dirasakannya tangan William yang terasa dingin.


"Sebenarnya bukan tipeku, yang akan marah tanpa sebab. Terlebih dari awal aku telah menduga wanita itu yang memiliki niat lain. Gelagat Uncle William sendiri aku bisa menerka jika ia tak menanggapi wanita jal*ng itu." Sabrina membatin kesal.


"Sayang?"


Panggilan sayang dari bibir William menyentak tiga orang yang ada di ruangan itu. Sabrina menoleh. William tampak gelisah menunggunya berbicara.


"Artur, tutup pintunya." Sabrina membuka suara.


Setelah mengucapkan hal itu, Sabrina berjalan menuju kursi Presdir. Lalu mendudukkan tubuhnya di kursi kebesaran tersebut. Sedangkan Artur, menutup pintu ruangan tersebut. William mematung di tempatnya dengan jantung berdebar.


"Bisa dijelaskan, mengapa posisi kalian begitu?" sinis Sabrina.

__ADS_1


"Em, aku dan Pak Presdir tadi..." Kata-kata Ara terpotong begitu saja oleh bentakan William.


"Diam!" bentak William.


Senyum di bibir Ara lenyap. Terlebih saat melihat sikap William seolah tunduk dengan gadis muda yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.


William lalu berjalan mendekati Sabrina. Imbuh William, "Lihat ini, Sayang. Dia menumpahkan kopi. Dia tiba-tiba jatuh dengan posisi yang membuatku salah paham." William menunjuk tumpahan kopi di lantai.


"Saya tak sengaja hampir terpeleset, Pak. Untungnya Bapak tadi menangkap saya tepat waktu. Saya tidak tahu jika Bapak tidak menangkap saya tepat waktu, mungkin saya akan jatuh terluka," jelas Ara dengan senyuman tipis tersemat di bibirnya.


"Begitu?" Sabrina menatap nyalang sosok Ara. Pandangannya mengunci Ara yang tak tahu malu justru melirik William. Lanjut Sabrina, "Apa kau tahu posisimu di perusahaan ini sebagai apa?"


"Hanya sekretaris William. Aku tekankan hanya sekretaris. Jangan berniat lancang!" Suara Sabrina terdengar meninggi. Membuat Ara kesal dibuatnya.


"Lancang? Apa maksud Anda? Saya hanya membuatkan kopi untuk Pak William. Saya rasa, itu hanya pekerjaan saya untuk melayani Pak William," ketus Ara.


"Keluar juga sikap aslimu, Ara Ara nehi." Sabrina membatin.


"Bukankah ada OB? Atau Anda ingin menjadi OB? Tugas sekretaris bersangkutan dengan perusahaan dan berkas-berkas. Jika sekretaris pribadi, saya rasa Tugas Tuan Ryu. Benar tidak apa yang aku katakan?" tegas Sabrina.

__ADS_1


"Wah! Sabrina memang keren. Caranya melabrak wanita gatal itu sungguh elegan. Sabrina mendesak si ulet bulu ini ke sudut yang buntu. Lihatlah ayahku. justru sangat tidak keren. Sekarang aku paham Sabrina. Kau diam-diam mematikan lawanmu." Artur membatin kagum.


Wajah Ara tampak pias. Ia kini salah tingkah. Tapi ia tidak ingin kalah dari bocah ingusan itu. Terlebih. ini di depan William. "Apakah itu termasuk kesalahan? Seorang sekretaris hanya membuatkan secangkir kopi untuk Presdir. Kami tidak berbuat apapun."


"Nona Ara, saya bilang pahami posisi Anda sebagai seorang sekretaris. Jangan mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa Anda gapai. Jika Anda pintar, Anda akan paham apa yang saya katakan. Lalu ke depannya, saya harap Anda bijak dalam bekerja. Ini peringatan satu untuk Anda," tukas Sabrina dengan angkuh. Ia melipat kedua tangannya di dada.


Ara melirik William. Berharap pria itu akan membelanya atau sekedar menengahi. Detik demi detik berlalu, William bergeming. Sadar usahanya sia-sia, Ara pun menguasai diri.


"Baik, Nona. Maafkan saya. Saya permisi," ucap Ara sembari berlalu dari ruangan presdir.


Setelah pintu tertutup rapat, Sabrina menatap lekat William yang tampak gelisah berdiri di sampingnya. Sabrina pun mengangkat satu alisnya.


"Kenapa?" tanya Sabrina.


Nada bicaranya kini melembut. Artur yang sadar dirinya sebagai nyamuk pengganggu, memilih memakai handshet di telinganya. Mendengarkan musik dan menscroll sosial media.


"Kau marah padaku?" balas William.


Sabrina menghembuskan napas. "Untuk apa? Ulet bulu itu saja yang gatal. Aku yakin Uncle bisa menjaga hati. Aku sudah melihatnya dengan jelas. Seumur hidup Artur, Uncle memilih sendiri. Belasan tahun setia menggenggam luka. Apa aku layak mendahulukan egoku dan mengabaikan cinta yang perlahan tumbuh di hatimu?"

__ADS_1


__ADS_2