
"Tapi, Elena. Apa kau lupa jika kau hanya anak pungut?" tanya Steven.
Deg.
"Ya kau benar. Aku sampai sekarang masih mengingatnya. Seharusnya kau juga harus mengingat siapa dirimu, Steven. Kau anak kandung mereka tapi kau juga yang membunuh mereka. Tidakkah kau berfikir jika kau itu gila? Lalu kenapa kau harus mengingatkan hal itu padaku? Bahkan ketika aku tidur sekalipun aku akan selalu mengingat mereka! Apa kau tau jika kedua orangtua kandungku membuang, tetapi aku memiliki kedua orangtua angkat yang begitu mencintaiku? Dan kau membunuh orang yang menyayangiku! Apa kau tidak berfikir jika kaulah yang menghancurkan kebahagiaanku? Rendy, potong satu tangannya untukku!" kata Elena dengan penuh emosi yang membuncah.
"Danar," panggil Rendy kepada Danar. Lelaki itu menganggukkan kepalanya dan segera mengambil katana.
"Tunggu, tunggu Elena. Aku mohon maafkan aku. Lepaskan aku Elena. Aku ini kakakmu, satu-satunya yang keluarga yang tersisa. Kita bisa hidup bersama dan bahagia!" pinta Steven.
"Kau lucu, Steven. Apa kau tidak lihat? Sekarang aku memiliki sandaran. Aku tidak sendiri lagi. Dan kau ingin hidup bersamaku? Sungguh lucu," ucap Elena dengan sebuah senyum yang tidak bisa diartikan. Danar bergerak mendekati Steven. Craaashh.
"Aaaaarrrggghhhht! Elena apa kau ingin membuat kakak cacat?" tanya Steven dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
"Cacat? Ha-ha-ha, terlalu ringan untuk hukumanmu, Steven! Aku ingin membunuhmu! Tapi sebelum itu, bukankah lebih baik jika kita bersenang-senang terlebih dahulu? Aku akan membuatmu merasa, lebih baik mati daripada hidup!" Elena tersenyum sembari menatap tajam Steven yang nafasnya mulai memburu. Sedangkan Rendy, masih duduk dengan tenang dan menyaksikannya tanpa ekspresi apapun. Sungguh pasangan yang serasi. Keduanya sama-sama tak akan memberikan ampunan sedikitpun kepada musuh.
"Elena, aku tak menyangka jika kau akan melakukan hal ini padaku," ucap Steven sembari menatap pasangan di hadapannya itu. Dua orang muda-mudi, tengah menyiksanya tanpa ampun. Yang lelaki diam dan tenang tanpa ekspresi apapun. Sedangkan si gadis, dia lebih banyak tersenyum karena seakan ini adalah permainan yang begitu menyenangkan. Dua orang ini psycopath! Batin Steven bergejolak.
"Masih ada satu tangamu," kata Elena dengan ekspresi yang sulit diartikan. Rendy kembali menggerakkan tangannya membuat Danar kembali bergerak.
"Elena, hentikan ini sekarang juga. Bagaimana dengan bisnis keluarga kita? Aku adalah harapan terakhir keluarga kita, Elena! Karena aku anak kandung mereka yang lebih berhak! Kau hanya anak pungut! Sadari hal itu!" seru Steven membuat ekspresi wajah Rendy berubah.
"Potong segera," ucap Rendy dan seperkian detik berikutnya teriakan memilukan kembali terdengar dari mulut Steven. Muncratan darah kembali mengucur dengan deras. Hingga mengenai lantai ubin dan tembok di sana sini. Nafas Steven mulai tersengal karena kehabisan darah.
"Baik Tuan muda."
Apa yang dia lakukan? Aura membunuh ini keluar lagi. Membuatku merinding. Elena membatin sembari menggeser tempat duduknya sedikit menjauh dari Rendy. Rasanya dia juga ikutan kehabisan nafas.
__ADS_1
"Kenapa menjauh hem?" tanya Rendy sembari melingkarkan tangannya dipinggang Elena. Kemudian sekali hentakan tubuh Elena kini ada dipangkuannya. Seperkian detik berikutnya Rendy mencium bibir ranum milik Elena.
Woaah Rendy gila! Kenapa menciumku didepan banyak orang?
"Hukuman karena kau melanggar apa kataku. Bukankah aku mengatakan untuku duduk didekatku? Mengapa kau menjauh?" tanya Rendy dengan sedikit kesal.
"Semua sudah saya lakukan Tuan Muda." Kei beringsut menuju tempat Steven berada kemudian memperlihatkan laptop dengan semua saham-saham perusahaan milik Steven yang kini telah beralih atas nama Elena Priscilia Vanhoutten. Hal itu membuat kedua netra milik Steven melebar. Ternyata semudah itu Rendy membuatnya tidak memiliki apapun.
"Danar, selesaikan." Kata-kata Rendy kembali diangguki oleh Danar. Tanpa banyak kata, Danar mengayunkan kembali katana miliknya. Hingga membuat kepala dan tubuh Steven terpisah.
Elena memejamkan kedua matanya. Seakan ini semua telah berakhir. Dirinya telah terbebas dari semua dendam yang membuatnya hingga sampai di titik ini. Hanya tinggal menyelesaikan urusannya bersama dengan Rendy, maka dirinya bisa terbebas sepenuhnya.
"Sayang, semua telah berakhir. Dan kini semua perusahaan keluargamu telah kembali ditanganmu." Rendy menggenggam tangan Elena sembari memberikan seulas senyum menawan. Hingga kembali membuat Elena salah tingkah.
__ADS_1
Hatiku ... Mengapa begini?