
"Will! Kamu nggak bisa giniin aku!" Anggi berteriak di ruangan William. Sedangkan Ardan dan Dante hanya mengamati dengan seksama.
"Aku sudah sabar, Anggi. Jaga tutur bicaramu, kita di sini hanya sebatas teman bisnis. Kurasa kau bisa pergi dari sini, karena sudah ada Ardi dan Dante yang bisa memberitahumu hasil diskusi kami." William bergeming di tempatnya.
Padahal hari ini mereka berempat beserta beberapa teman mereka yang lain akan berdiskusi tentang kerjasama mereka. Di ruangan William yang disulap ruangan meeting dengan jumlah sepuluh orang. Sebagian dari pihak Anggi. Entah apa maksud Anggi membawa temannya yang lain untuk masuk ke dalam bisnis tersebut. Namun, kemungkinan meeting itu harus ditunda lantaran Anggi yang terlalu mendebat William. Membuat William risih.
"Memangnya kenapa? Dengan kita bersama, kamu dan aku akan memiliki banyak keuntungan. Kurasa aku lebih baik daripada istrimu yang tidak berguna itu. Aku tahu, dia itu sangat muda. Dia hanya menginginkan uangmu!" sentak Anggi.
"Anggi, bisakah kau profesional? Kurasa ini menyangkut bisnis banyak orang. Kau jangan terlalu memojokkanku, Anggi," ujar William.
"Will, dengar. Kamu dapat investasi ini juga karena aku memberitahu teman-temanku. Lihat? Mereka datang karena aku mengajak mereka untuk investasi tentang proyek ini. Keuntunganmu lebih besar bukan? Ayolah, jangan bodoh." Anggi merengek.
"Benar itu, Will. Dari pada gadis muda? Apa yang dia bisa? Mungkin dia memiliki ide yang menarik kemarin. Akan tetapi ke depannya bagaimana? Dengan Anggi di sampingmu, kau akan memiliki banyak keuntungan karena banyak pebisnis yang bersahabat dengan Anggi," papar Dante. Hal itu semakin membuat Anggi membusungkan dada karena berbangga diri.
"Aku ingin sekali menghancurkanmu, Will. Kenapa perusahaanmu berkembang dan memiliki istri yang muda serta cantik?" Dante membatin geram.
__ADS_1
"Oh, keuntungan apa yang Anda maksud, Nona Anggi?" Sebuah suara penuh penekanan terdengar dari ambang pintu. Semua orang menoleh ke sana dan terlihat Sabrina disusul Artur di belakangnya.
"Sabrina." William bangkit berdiri dengan wajah pias.
Sabrina pun melangkahkan kakinya memasuki ruangan William mengabaikan sekitar sepuluh orang yang ada di dalam ruangan William. Tanpa senyum dan basa-basi dia mendekati meja yang sedang terdapat banyak berkas-berkas. Sabrina mengamati dengan detail perihal yang bahas. Semuanya terdiam menunggu reaksi Sabrina. Mendadak suasana mencekam setelah kedatangan Sabrina.
"Sepertinya sentilan dariku tidak berguna untuk Nona Muda Soeji Grup ya?. Aku harus memberikan salam indah sebagai penekanan seberapa pentingnya posisi istri William di perusahaan ini." Sabrina meraih laptop milik William.
Ia mengedarkan pandangan tanpa ekspresi kepada teman-teman William. Selanjutnya wanita hamil itu berjalan santai di sofa yang tadi menjadi tempat William duduk. Sabrina mengabaikan tatapan orang-orang ke arahnya dan memilih memainkan jemarinya di atas laptop.
Posisi tubuh William setara Sabrina yang tengah duduk. Di depan semua orang, Sabrina mencium bibir William. Membuat semua orang melongo melihat kejadian seorang wanita muda dan cantik menyosor kepada pria matang di depan rekan bisnisnya. Mata Artur bahkan melotot mendapati hal yang vulgar di matanya. Remaja itu menggelengkan kepala merutuki apa yang dia lihat. Seumur hidupnya ia bahkan tak pernah berkencan dengan gadis manapun.
Hingga sebuah dering ponsel memecah kekakuan dan kecanggungan yang ada. Anggi mengerjapkan mata tatkala menyadari itu adalah nada ponselnya. Ia segera mengambil ponselnya dan segera mengangkat panggilan telpon. Belum sempat ia berbicara, seseorang lawan bicaranya membuka suara. Melihat wajah Anggi, Sabrina tertawa.
"Ha-ha-ha. Lucu sekali wajah Anda, Nona Anggi." Sarkasme yang dilontarkan oleh Sabrina membuat Anggi menoleh.
__ADS_1
"A-apa yang lakukan?" tanya Anggi.
"Seseorang yang kau sebut tidak berguna ini, membobol data perusahaan Soeji Grup dan melelangnya dengan harga rendah di pasar gelap dunia." Sabrina mengibaskan rambut dengan sombong.
"Apa?"
Semua orang melongo tak percaya.
"Sentilan halus untukmu kau abaikan. Hari ini kau juga masih berupaya untuk menyentuh milikku?" Sabrina menarik dasi William kembali lalu menciumnya sekilas. "Aku akan menghancurkan siapapun yang lancang menyentuh milikku. Lihat di pintu."
Semua mata mengalihkan pandangan ke pintu. Julia dan Ben berjalan memasuki ruang Direktur milik William. Dengan wajah datar dan kemudian berdiri tepat di belakang Sabrina. Semua mata membulat tatkala Julia dan Ben menyokong senjata api.
"Sedikit menekankan siapa wanita tak berguna yang mendampingi William. Bagaimana, Nona Anggi?" Sabrina menatap tajam ke arah Anggi yang lemas tak berdaya. Keluarga Soeji diambang kehancuran.
Baca novel author yang baru ya
__ADS_1