
"Sa-sayang, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku?" tanya Steven dengan sedikit terbata.
"Kau masih bertanya hal-hal yang tidak masuk akal. Justru aku membencimu setelah kau menghancurkan hidupku. Membunuh papa dan mamaku. Apa kau tau? Sedetikpun aku tidak bisa hidup tanpa ada keinginan untuk membalaskan dendamku. Aku sudah menunggu datangnya hari ini, Steven."
Elena kembali hendak menarik pelatuk dari pistol yang ada di tangannya. Seakan gadis itu belum puas juga. Rendy yang melihatnyapun kini mengerti. Sebesar apa keinginan Elena untuk membalaskan dendamnya.
"Elena, cukup," ucap Rendy.
"Tapi dia belum mati! Aku sudah menunggu dengan sangat sabar untuk bisa sampai di hari ini, Rendy! Kau jangan menghentikanku untuk membunuhnya," jawab Elena dengan begitu berapi-api.
__ADS_1
"Aku tidak akan menghentikanmu. Kemarilah, jika dia mati terlalu cepat bukankah tidak seru," kata Rendy masih dengan tenangnya.
"Oh benar juga." Elena segera mendekati Rendy. Mendudukkan bokongnya disamping Rendy. Tentu saja hal itu membuat geram Steven. Lelaki yang sedang membuat rencana untuk membunuh Rendy, justru saat ini dirinya telah berada di tangan Rendy. Terlebih lagi, Elena justru membencinya.
"Elena, katakan apa keinginanmu maka Danar yang akan turun tangan. Kau jangan mengotori kedua tanganmu, Sayang."
Deg.
"Elena, apa yang kau pikirkan? Katakan padaku makan Danar akan bertindak mewakilimu," ucap Rendy sembari mencium pipi Elena. Hal itu membuat Elena tersenyum. Jika begitu dirinya akan mengikuti keinginan Rendy.
__ADS_1
"Congkel satu mata miliknya," kata Elena dengan senyum yang licik. Hal itu membuat tubuh Steven bergetar. Gadis kecilnya kini ingin membunuhnya? Hatinya kini merasakan nyeri yang luar biasa disana.
"Elena Sayang, kau tidak serius bukan Sayang? Aku ini kakakmu. Aku yang selalu kau ikuti. Apa kau melupakan keinginanmu untuk menikah denganku? Bukankah kau dulunya memiliki impian setelah dewasa nanti kau dan aku akan menikah?" tanya Steven mencoba mengingatkan kepada Elena seperti apa hidup mereka dulu.
"Ha-ha-ha. Kau benar, aku memiliki impian ingin menikah denganmu. Tapi ingatlah Steven. Impian itu hancur saat kau membunuh papa dan mama. Kemudian kau juga membunuh bibi yang begitu dekat denganku. Kau juga membunuh semua pengawal yang ditugaskan untuk menjagaku. Lagipula, yang mengatakan hal itu hanya bocah kecil usian masih berapa tahun. Bukan aku yang sudah dewasa dan memiliki pemikiran yang lebih matang. Sayang, aku mau satu matanya hilang." Kata-kata Elena yang memanggil dirinya sayang, tentu saja membuat Rendy girang bukan kepalang. Dengan satu pergerakan tangannya, Danar menganggukkan kepalanya. Kemudian lelaki itu bergerak menuju tempat Steven berada. Seperkian detik berikutnya, sebuah suara lolongan yang memilukan terdengar.
"Kenapa kau lakukan ini pada kakak, Elena?" tanya Steven dengan satu buah mata yang telah hilang dari tempatnya.
"Balas dendam! Jangan mengatakan hal yang tak berguna, Steven. Hal itu sungguh lucu. Jika tidak ada datangnya hari ini, aku pasti akan mengutukmu meskipun aku harus mencarimu sampai mati," jawab Elena dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Tapi, Elena. Apa kau lupa jika kau hanya anak pungut?"