Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 370. Teka Teki


__ADS_3

Setelah menembakkan satu peluru, Sabrina melangkah pergi. Gadis itu membuang pistol milik Lu begitu saja. Meninggalkan tiga orang yang masih tak menyangka dengan apa yang dilakukan Sabrina.


"Dia? Bisa menembak? Bahkan tahu adanya peredam suara? Sabrina, kupikir kau cukup menarik," batin Lexi. Sudut bibir pria itu terangkat.


"Lu, ayo kita pergi!" Lexi segera bangkit.


"Baik, Tuan Muda," sahut Lu. Ia mengikuti Lexi dari belakang.


"Lexi! Au! Lexi? Kenapa kau pergi?" Masya hanya mampu menatap kepergian Lexi dengan tatapan nanar. Rasa sakit dan perih menjalar di sudut bibirnya.


"Brengsek kau, Sabrina! Aku akan membalas dendam! Lihat saja, kau jangan menganggapku remeh," batin Masya.


Artur mengikuti kepergian Sabrina. Sebelum ia melangkahkan kaki meninggalkan kantin, Artur menatap penuh arti ke arah Lexi. Kepergian Artur diikuti oleh Justin dan juga Dixton.


"Sabrina, tunggu!" seru Artur.

__ADS_1


Terlihat Sabrina menghentikan langkah. Menatap Artur dan kedua temannya dengan bibir yang mencebik. Mood Sabrina seperti sangat jelek sekali.


"Kau mau kemana?" tanya Artur.


"Benar, Sabrina. Eh, ngomong-ngomong kau hebat sekali!" Justin memberikan dua jempolnya untuk Sabrina.


"Biar tahu rasa! Seenaknya saja mulutnya berbicara. Tapi, bagaimana kau bisa memainkan barang itu?" tanya Dixton.


"Jangan menambah moodku semakin buruk! Siapa yang tahu, jika itu bukan mainan? Huh! Anak manja itu! Menguras tenagaku. Aku jadi lapar. Artur! Ayo, kita cari makanan. Aku yang traktir!" bentak Sabrina.


"Tuan William? Apakah Anda masih ingin lanjut?" tanya Danar.


"Huft huft. Apakah, Sabrina dulu juga pernah berada di arena tinju?" Bukannya menjawab, William justru balik bertanya.


"Benar. Hanya saja, Nona Sabrina di usia 10 tahun sudah menguasai lebih dari tiga ilmu seni beladiri campuran. Kenapa, Tuan William? Apa Anda sudah ingin menyerah? Padahal pembelajaran hari ini hanya berkutat pada tinju boxing. Tetapi Anda sudah ingin menyerah di babak kedua," sindir Danar.

__ADS_1


"Benar saja. Sepertinya menjadi pewaris keluarga Wijaya memiliki banyak peraturan. Semuanya tidak seenak yang dibayangkan. Pantas saja, Sabrina menjadi gadis yang kuat. Lihat saja, latihannya seperti ini. Aduh, wajahku sakit semua. Kenapa harus begini?" batin William. Pria itu sesekali meringis kesakitan.


Tring tring tring.


Terdengar suara ponsel William berdering. Pria itu menoleh. Diikuti dengan Danar yang kembali menatap William dengan tajam. Perlahan, William bergerak mendekati ponselnya.


"Nyonya Elena?" lirih William. Ia segera menoleh ke arah Danar meminta persetujuan. Danar menganggukkan kepala tanda mengiyakan.


"Halo, Nyonya Elena?" William memulai pembicaraan. Raut wajah William seketika pias. "Lalu saya harus bagaimana?" William mendengarkan pesan dari Elena. Entah apa itu, Danar juga tak mendapatkan pesan apapun. "Baiklah, saya akan ke tempat Anda dan Rendy. Selamat siang, Nyonya Elena."


Sambungan telepon itu terputus. Wajah William masih terlihat tegang. Danar dapat menyimpulkan jika pesan tersebut adalah hal yang serius.


"Jika Anda sedang memiliki urusan, lebih baik kita akhiri latihan hari ini. Besok, seperti biasa saya harap kedatangan Anda kemari, Tuan Muda William," ujar Danar.


"Okay, aku akan datang lagi besok. Aku pergi dulu, Tuan Danar. Terima kasih untuk hari ini." William segera menyambar jaket miliknya.

__ADS_1


"Ini berkaitan dengan kejadian beberapa waktu yang lalu. Apa yang sedang direncanakan oleh musuh? Bahkan kali ini, Rendy dan Nyonya Elena juga ikut turun tangan. Memangnya, seberapa rumitnya masalah ini?" William membatin gelisah.


__ADS_2