
Kedua pasangan pengantin itu saling menatap dalam dan penuh mendamba. Kebahagiaan jelas tergambar diwajah keduanya.
Seakan tak lagi bisa mengendalikan jiwa kelelakian ya, Kevin segera melepaskan pakaiannya yang terakhir. Yap, sebuah celana boxer yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Sesaat Monica membuang pandangannya ketempat lain. Semburat rona merah muda terpampang begitu jelas diwajahnya. Mengalahkan polesan blush on dikedua pipinya.
Kevin yang menyadari Monica tengah malu-malu kucing segera meraup kembali bibir mungil Monica. Kembali gairah keduanya membara.
Disaat yang bersamaan tangan nakal Kevin perlahan mulai turun kebawah perut milik istrinya. Menyentuh bongkahan daging yang membuatnya semakin menggila. Saat dirinya mendaratkan sebuah sentuhan disana, Monica kembali mendesah. Membuat Kevin tak lagi mampu menahan hasrat kelelakiannya.
"Ehm," desahan Monica semakin menjadi. Rambut Kevinpun dia jadikan sebagai pegangannya. Kevin meringis, namun gairah itu terlalu besar sehingga membuat Kevin mengabaikannya.
Pagutan lembut dan dalam itu bahkan belum terlepas beberapa lama. Namun, kembali Monica tersengal-sengal kehabisan napas. Kevin yang menyadarinya segera melepas ciuman bibir itu.
"Bernapaslah ... Kau bisa kehabisan napas."
"Hah ... Aku nggak tau lagi mas Kevin. Ini gila, aku baru pertama kali merasakan sebuah sensasi yang tak pernah aku rasakan selama hidupku," kata Monica mulai mengatur kembali pernapasannya. Kedua netra miliknya seakan mulai menggilai setiap sentuhan suaminya. Kevin tersenyum, maklum jika Monica bahkan sampai kehabisan napas. Nggak lucu kan kalau pengantin perempuan tewas dimalam pertama karena sebuah ciuman yang membuatnya lupa untuk bernapas.
"Nikmatilah Sayang. Buah dari hasil kerja kerasmu menjaganya hingga aku lelaki halalmu yang mengoyaknya." Kevin menempelkan keningnya di kening Monica yang telah basah oleh keringat. Kini keduanya saling menatap lekat kedua netra satu sama lain. "Aku bobol sekarang yah. Mau masuk ke lubang milikmu." Bisikan Kevin membuat bulu kuduk Monica meremang. Namun entah mengapa dia sudah menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Kevin kemudian merebahkan tubuh polos istrinya di kasur. Kini Monica lebih pasrah, tak seperti pertama kali keduanya berada dalam satu ruangan dengan begitu canggung karena Monica begitu malu memakai lengirie berenda berwarna merah menyala itu. Bahkan sekarang dia dan Kevinpun sama-sama tak memakai sehelai kain benangpun.
__ADS_1
Setelah merebahkan tubuh istrinya, Kevin membuka kedua paha istrinya dengan lebar. Kemudian laki-laki itu menatap istrinya seakan meminta izin untuk mengobok-obok di bagian bawah sana. Monica yang menyadari pun segera menganggukkan kepalanya dengan mantap.
Pertama-tama Kevin kembali dengan kegiatannya yang pertama. Menjil*ti setiap inci mahkota berharga istrinya. Setelah dirasa cukup dirinya memasukkan jemarinya disana.
"Ah ... Ap-apa yang mash lakukaaan." Tubuh Monica kembali merasakan sensasi luar biasa. Kedua matanyapun terpejam.
"Nikmati saja Sayang. Aku yakin kau pasti menikmatinya."
Hening kembali melenggang. Hanya terdengar suara kecipak cairan akibat ulah jemari Kevin.
"Ah mass ," desahan Monica semakin panjang. Menandakan dirinya telah mencapai puncak untuk yang kedua kalinya. Tangannya meremas kuat sprei putih yang sudah berantakan. Deru napas Monica tak beraturan. Kemudian Monica menatap suaminya dengan wajah yang pasrah.
"Sekarang saatnya kita bikin telor ceplok yang sesungguhnya."
Karena milik Monica sudah basah, Kevinpun segera mengarahkan miliknya ke inti Monica.
"Mas ... Sakit!" teriak Monica sembari meremas sprei. Buliran air bening mulai menggenang dikedua pelupuk matanya.
"Sayang ini mungkin akan terasa sakit, tapi bertahanlah. Kamu pasti akan merasakan hal yang luar biasa nikmatnya."
Ya ampun, sempit banget. Yailah **** masih perawan. Duh dia mau nangis lagi. Batin Kevin mulai berkecamuk. Menatap raut wajah istrinya yang kesakitan. Padalah tadi sudah kubuat basah banget. Kenapa masih susah begini.
__ADS_1
"Aaaarghtt." Monica menjerit. Rasanya panas dan perih dibawah sana. "Mas apa robek? Apa luka? Sakit?"
"Sayang maafkan aku. Tapi milikmu masih segel. Jadi pasti susah masuknya Sayang. Sakit banget ya?" Menjauhkan miliknya yang masih berdiri dengan kokohnya.
Sepertinya untuk beberapa waktu aku harus puasa terlebih dahulu. Kevin meratapi malam pertamanya yang buruk. Dirinya tak tega melihat istrinya yang kesakitan.
Monica yang menyadari perubahan raut wajah pada suaminya, segera menarik tangan Kevin. Dirinya menyesal karena telah mengecewakan suaminya.
Kasian mas Kevin dia bener-bener pengen malam pertama ini. Aku harus kuat nahan sakit dan perih. Toh ini juga kewajiban ku sekarang.
"Jangan pergi mas Kevin?" Monica menatap sendu suaminya.
"Kamu ingin ku temani? Tapi aku harus nidurin ini dulu Sayang." Mengarahkan kelelakiannya kearah Monica. "Dikamar mandi pasti ada sabun kok."
Monica mendelik. Bagaimana bisa Kevin mengatakannya dengan begitu entengnya. Masa dia digantikan oleh sabun? Oh sial*n. Monica mengumpat dalam hati.
"Lanjutkan Mas. Toh aku juga ingin."
"Tapi kamu kesakitan Sayang. Aku nggak tega."
"Maaf, lanjutin ya aku nggak kenapa-napa kok. Biarkan aku melaksanakan kewajibanku Mas."
__ADS_1
Seketika Kevin merasa mendapatkan lotre. Segera bersiap kembali pada posisi sebelumnya yang tertunda. Mencobanya berkali-kali, namun selama itu pula gagal. Monica membekap mulutnya sendiri agar tak bersuara. Dia tidak ingin suaminya mendengarkan teriakan kesakitan dari bibirnya.
Entah berapa lama kini secara perlahan milik Kevin mulai memasuki inti Monica. Setelah sudah sepenuhnya masuk kedalam, Kevin berhenti sejenak. Mulai mengatur napasnya yang tak beraturan karena usahanya untuk memasuki lubang kenikmatan milik istrinya.