
Brakk.
Rendy menendang kursi yang ada di hadapannya. Tatapannya yng setajam elang itu menyorot setiap bodyguard yang di tempatkan untuk menjaga Elena. Sebanyak apapun penjaga di tempatkan, nyatanya tak akan mampu menandingi otak dari ketua geng mafia The Queen.
"Apa saja yang sebenarnya telah kalian lakukan? Hingga Elena bisa kabur dengan begitu mudahnya? Sampah!" Kembali Rendy mengayunkan sebuah kursi kayu hingga kursi tersebut hancur. Kei menatap tajam kepada anak buahnya yang menundukkan kepalanya.
"Tuan, bukankah nona Elena memakai gelang yang telah anda berikan?" Pertanyaan dari Kei segera menghentikan amukan dari Rendy.
"Maaf, tuan Kei. Ini adalah barang yang ditinggalkan oleh nona Elena saat kami mencari di kamarnya." Salah seorang dari mereka menyodorkan sebuah gelang san sebuah surat. Sebelum Kei mendapatkan gelang dan surat itu ditangannya, Rendy terlebih dahulu menyambarnya dengan kasar.
*Rendy,
Saat kamu baca surat dariku, maka aku telah pergi dari mansionmu. Terima kasih karena kamu telah membalaskan dendamku. Hingga aku bisa sebebas ini untuk menyapa dunia luar. Tanpa luka, tanpa beban dan lepas bebas. Maaf, aku telah memanfaatkanmu untuk balas dendamku. Tetapi bukankah kau sudah mendapatkan hal paling berharga dari hidupku? Bukankah itu artinya kita telah impas? Itu berarti aku tak lagi berhutang budi padamu. Jika kita tak sengaja bertemu di luar sana, maka anggap saja kita tak saling mengenal! Terima kasih atas semuanya!
__ADS_1
Elena*.
"Kurang ajar! Beraninya memanfaatkanku! Sialan! Wanita tak tau diri! Aku sudah memberi madu dan dia malah memberiku racun? Elena! Akan aku cari kemanapun kau pergi! Kei, sepertinya ini saatnya untuk kita bergerak sebagai Dark Knight kembali. Sebarkan mata-mata kita kesemua penjuru kota London dan sekitarnya. Mulai detik ini, cari Elena hidup-hidup sampai ketemu. Kalau perlu, ratakan markas The Queen itu. Mari kita lihat, seberapa hebatnya geng mafia miliknya atau milikku!"
Semua membungkukkan badannya, kemudian mulai melesat pergi untuk bersiap-siap sesuai dengan apa yang diperintahakan oleh Rendy. Kei menatap Rendy dengan raut wajah yang tak terbaca. Tugasnya adalah mendeteksi keberadaan The Queen itu secepatnya.
Elena, kau pembohong! Kau mengatakan jika kau mencintaiku. Kau bilang, kau ingin hidup bersamaku. Bersama-sama membalut luka dan merajut asa. Tapi lihatlah, kau justru menorehkan luka yang dalam kehatiku.
"Cari datanya dengan jelas. Aku ingin segera menghancurkan The Queen itu dengan tanganku sendiri," desis Rendy dengan emosi yang berapi-api.
Kau bilang mencintaiku bukan? Tapi lihatlah, jika kau sangat busuk. Aku merasa dulu kau sudah menargetkanku bukan? Sehingga kau dengan mudahnya melemparkan tubuhku kepadaku. Sungguh aku tak menyangka, Elena kecilku menjadi begitu buruk. Kehidupan telah berubah Elena. Kau sekarang musuhku. Tekad Rendy dalam hati.
***
__ADS_1
"Uh, Elena! Mengapa kau disini? Pergilah! Aku sudah menutup mulutku untuk tidak mengatakan hubunganmu dengan laki-laki itu," ucap Lady dengan menahan rasa sakit ditubuhnya.
"Lady, kamu bicara apa? Aku dan dia sudah tak mungkin."
"Elena pergilab. Tinggalkan tempat ini. Kau nantinya juga akan diseret ke ruang bawah tanah sama sepertiku," ucap Lady dengan kedua sudut mata yang basah.
"Diamlah, apa yang kau bicarakan Lady? Kau itu saudaraku. Bagaimana mungkin aku bisa melepasmu begitu saja? Aku tidak mungkin egois akan kehidupan kita," sahut Elena bersikeras.
"Tidak! Jika kau berada di sini, kau mungkin akan menjadi seseorang yang tidak berguna dan berakhir mengenaskan. Pergilah Elena. Aku mohon," pinta Lady dengan memelas.
"Bagaimana aku bisa meninggalkanmu? Kau ada dihatiku, Lady. Kau kuanggap adikku sendiri. Mengapa aku setega itu untuk membiarkanmu terluka seorang diri?" tanya Elena.
"Tapi bukankah pertukaran ini juga menghancurkan harapanmu? Bukankah kau juga mencintai lelaki itu? Apa pantas kau mengorbankan dia demi masa depanmu?"
__ADS_1