Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 439. Bersyukur


__ADS_3

"Opa?" Sabrina memeluk dari belakang tubuh tua Johan Saputra. Pria tua itu tampak tercenung sendirian dengan papan catur di meja.


"Di sini. Kami berdua suka sekali bermain catur. Tertawa bersama di masa tua kami. Dia begitu hebat. Mau memaafkan seorang penjahat seperti aku dan memberikan modal sehingga pria tua ini bisa hidup lebih baik. Bukan soal materi lagi. Akan tetapi ini perihal ketulusan. Dia orang yang besar. Memiliki hati yang besar untuk memaafkan. Juga memiliki bisnis yang besar. Setiap hari dua pria tua ini saling tertawa di sini. Aku tahu umur tidak ada yang tahu. Namun, aku cukup kehilangan dia." Johan Saputra menghembuskan napas berat.


Sabrina kini melepaskan pelukannya. "Maka dari itu, Opa. Jangan membuat jalan mendiang di sana gelap dan tidak tenang. Kita harus mengikhlaskannya."


Johan menoleh ke arah Sabrina. Pria tua itu tersenyum. Lalu mengusap wajah Sabrina dengan lembut. "Kamu benar. Dia juga menyayangimu dengan sangat meski kamu bukan cucu kandungnya. Sekalipun kakekmu ini tidak suka kau terjun di dunia mafia. Akan tetapi dia berhasil meyakinkanku jika kau tidak akan berubah. Ternyata benar begitu."

__ADS_1


"Sedang mengenang masa-masa kekonyolan ketika suamiku masih hidup, Mas Johan?" Suara Mariani terdengar.


Sabrina dan Johan menoleh. Pria tua itu mendadak terkekeh. Merasa tersentil dengan kata-kata Mariani. Sabrina berjalan menuju sosok yang ada di belakang Mariani. Wanita paruh baya itu tersenyum manis. Dia Yuna. Istri dari si bungsu Alex putra dari Ardan.


"Halo, Aunty." Sabrina memeluk hangat Yuna.


Sabrina mengukir senyuman. "Terima kasih. Ngomong-ngomong, adik bungsuku sekarang jadi tampan. Kezio bersama Kak Steward di luar kota. Jadi aku tidak tahu banyak mengenai mereka. Mungkin karena bersama Anda, Kezio menjadi disiplin soal makan." Pandangan Sabrina menyorot tajam seorang remaja pria yang menatapnya dengan ekspresi datar. Kezio, adik yang paling bontot.

__ADS_1


Steward, Sabrina, Amelia dan si kecil Kezio. Mereka memiliki karakter masing-masing. Kezio sendiri hidup di luar kota bersama Steward. Sedangkan Amelia, ia berada di samping Mariani. Karena diam-diam ia juga belajar tentang perusahaan. Berbeda dengan Sabrina yang memilih menerima keputusan menjadi geng mafia, Amelia tertarik dengan bisnis. Keempat anak Elena terpisah. Mereka hanya berkumpul sesekali. Kezio sendiri lebih tertarik dunia kedokteran. Jadi, sebisa mungkin Kezio menghindari siapa yang akan menjadi penerus geng mafia papa dan mamanya. Begitu pula dengan Steward. Sifat keduanya tak berbeda jauh.


Mari kita beralih pada satu kamar yang terdapat dua orang pria. William dan Artur sama-sama terdiam tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Mereka masih saja tidak menyangka akan hal yang baru saja terjadi. Terdengar William menghembuskan napas perlahan.


"Ayah, bantu aku." Artur berkata dengan lirih.


William menoleh lalu mencebikkan bibirnya. "Apa yang kau katakan? Aku tidak tertarik dengan perusahaan yang akan kau ambil alih itu. Waktuku sudah habis untuk tiga perusahaan sekaligus. Xander Grup yang pernah kena teror juga sebentar lagi akan dibuka kembali. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Enak saja kau meminta bantuanku."

__ADS_1


Artur tercenung sesaat. Hingga ia berkata, "Sekalipun sekarang Ayah sibuk, tetapi Ayah memiliki waktu untukku. Aku sangat bersyukur untuk itu, Ayah. Nyatanya kehadiran Sabrina mengubah kebiasaan kita. Kita bahkan memiliki waktu untuk berbicara di sini. Benar kan?"


__ADS_2