Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 410. Misi Pertana


__ADS_3

"Lexi, aku ini kan ngasih tahu kamu secara baik-baik. Kamu kan nggak tahu apa rencana Sabrina. Takutnya mereka berdua punya rencana mau hancurin pesta kamu," ucap Masya dengan sinis.


"Masya, cukup! Rasanya sekarang bukan Sabrina deh yang punya niat buruk. Siapa yang tahu jika itu kau sendiri? Sudahlah. Ini pestaku. Jangan membuat masalah. Ayo, Sabrina. Ada banyak makanan yang lezat-lezat. Kau bisa mencicipinya," ajak Lexi.


Sabrina menganggukkan kepala. Lexi mengajaknya perggi untuk mencicipi makanan. Terlihat dengan jelas, wajah tidak suka milik Masya. Membuat Sabrina tersenyum sinis. Sabrina membalikkan tubuh. Memilih mengikuti jejak langkah Lexi yang membawanya ke suatu tempat. Sedangkan Artur sendiri, ia tak banyak berkata-kata. Sabrina kembali melirik ke arah dua teman Lexi yang ternyata juga ada di belakang Lexi.


"Lexi, kau tidak banyak mengundang teman-teman ke pesta ulang tahunmu ya?" tanya Sabrina. Ia memilih untuk mengedarkan pandangannya ke setiap ballroom hotel yang mewah tersebut.


"Benar. Hanya untuk mereka-mereka yang berasal dari keluarga sederajat. Kupikir tadi, kau tidak akan kemari. Sungguh aku tidak menyangka, kau akan datang juga," ucap Lexi dengan senyum yang masih tersemat di bibirnya.

__ADS_1


Sabrina menganggukkan kepala. "Begitulah. Aku hampir saja tidak datang. Mengingat aku tinggal bersama di rumah pamanku. Jadi ya, aku harus membawa Artur kemana-mana. Maklum saja. Jika aku ini anak gadis yang dititipkan kepada paman. Ngomong-ngomong, mereka temanmu?" Sabrina menunjuk dua orang teman Lexi yang sedari tadi mengikuti dari belakang.


"Oh ini Yanzi dan Nathan. Mereka temanku. Jarang sekali mereka berbicara," ucap Lexi memperkenalkan dua orang yang diincar Sabrina.


Di sisi lain, William telah bersiap. Ia dan anak buahnya telah sampai di tempat yang telah diberikan oleh Amelia. William menjadi sedikit gugup. Ini adalah misi pertama dirinya dan pasukan Dark Knight. Oh ayolah. Sebelum ini dia hanyalah manusia biasa. Tentu saja sedikit merinding dengan keadaan yang begitu tegang ini.


"Baiklah. Ini semua demi Sabrina. Aku harus membuktikan jika diri ini pantas bersanding dengannya," gumam William. "Tuan Mu?" panggil William kepada satu bawahan Rendy yang pandai membuat strategi.


"Bisakah kau membimbingku? Ini adalah misi pertamaku tanpa Sabrina. Aku takut membuat kesalahan. Kau bisa membantuku menyusun strategi untuk masuk ke dalam rumah kosong itu?" tanya William.

__ADS_1


Mu menganggukkan kepala tanpa mengerti. "Tentu saja saya bersedia, Tuan. Mengapa saya tidak bersedia? Anda ikuti saya. Keselamatan Anda adalah yang paling utama."


Mu bergerak. Ia menerbangkan satu drone untuk mengudara. Memata-matai keadaan sekitar. Mu lalu berbicara dengan seseorang yang ada di earphone. Pria itu memberikan perintah.


"Aku sadar sesuatu. Tuan Mu ini sedang mengarahkan satu pergerakan. Oh iya, drone itu dipasangi sebuah kamera pengintai. Pantas saja, Tuan Mu bisa memimpin anak buahnya." William membatin.


William menggunakan teropong lagi untuk melihat keadaan di dalam rumah kosong tersebut. William cukup terperangah dengan banyaknya anak buahnya sendiri. Sebenarnya William sendiri sudah tahu pasukan yang ia bawa cukup banyak. Tapi tak pernah mengira hanya dalam satu kali serang, rumah kososng yang ada di depannya itu terlihat porak poranda.


William melihat sesuatu. Dengan cepat ia menyokong senjata laras panjang miliknya berupa MG-42 yang bisa membunuh dalam hitungan detik. William pun menarik pelatuk dan seorang snipper telah roboh dan terjatuh begitu saja. Mu yang menyadari adanya seorang snipper segera menoleh ke arah William.

__ADS_1


"Tuan? Anda hebat sekali. Padahal Anda seorang pemula. Tapi bisa menembak tepat sasaran," puji Mu.


Sedangkan William sendiri, justru masih membeku di temparnya. Tak percaya jika dirinya bisa melukai seseorang.


__ADS_2