Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 383. Kesal


__ADS_3

"Menu makanan di sini banyak sekali?" tanya Sabrina. 


Ia mendudukkan bokongnya di bangku kosong. Diikuti dengan Artur dan William. Seorang pelayan datang tergopoh-gopoh. Memberikan menu yang banyak sekali.


"Wah, Uncle. Banyak sekali makanan di sini?" Kedua mata Sabrina tampak berbinar.


"Benar. Hebat kan? Di sebelah juga perusahaan Xander Grup. Mungkin papan nama sebentar lagi akan selesai. Kau ingin pesan apa?" tanya William.


"Gudeg Jogja! Lalu, ini ada apa ini? Mau dong?" Sabrina menunjuk beberapa menu.


"Oh, ini seperti menu di angkringan. Biasanya di warung angkringan ada. Ish, kau ini anak mama. Masa makanan begitu saja tidak tahu?" ejek Artur.


"Menurutmu apa yang enak?" Sabrina mendekatkan buku menu ke dekat Artur. Bahkan Sabrina mencondongkan tubuhnya, menjadikan lebih dekat dengan tempat duduk Artur.

__ADS_1


"Mbak, pesan ini." Artur menunjuk beberapa makanan yang ditusuk itu. 


Sabrina manggut-manggut saja mengiyakan yang dipesan Artur. Hanya soal makanan, Sabrina bahkan mengabaikan sosok yang telah menyorotnya dengan tajam. Pria itu menyipitkan kedua mata. Seolah tidak dianggap oleh dua orang yang ada di depannya.


"Ehem!" William berdehem.


Tatapannya nyalang ke arah Sabrina dan Artur. Mendengar deheman dari William, Sabrina dan Artur menoleh. Melihat raut wajah William yang tak baik, Sabrina melirik Artur. Pria itu justru mengendikkan bahunya. Pertanda dia tak mengerti.


"Aku bahkan tidak tahu ada menu apa saja? Huft, sudahlah. Samakan saja, dengan pesananmu." William menyerah.


Setelah makan siang, ketiga orang itu kembali menuju ruangan presdir. Seperti sebelumnya, William kembali melingkarkan tangan di pinggang ramping milik Sabrina. Tentu saja, beberapa karyawan mulai berbisik melihat hal itu. Bagaimana tidak? Sabrina bahkan masih terlihat muda dan cantik. Sedangkan William, beberapa dari karyawan bahkan tahu jika William seorang duda.


"Aku benci tatapan itu. Mereka tidak tahu, jika Sabrina dan ayah telah menikah. Huh. Memang terlalu beresiko memiliki istri yang muda. Tapi tunggu. Kenapa wajah ayah biasa saja? Apa dia tidak risih? Sial*n! Ingin sekali aku melepaskan itu tangan. Sudahlah, jelek-jelek begitu juga ayahku," batin Artur.

__ADS_1


Saat mendekati meja sekretaris, kembali Sabrina menatap sinis ke arah Ara. Di mana wajah itu terlihat tidak suka. Terlebih William begitu dekat dengannya. Melihat wajah menyebalkan itu, Sabrina menarik ujung bibirnya. Ia lalu bergelayut manja di lengan William.


"Bukankah hari ini terasa menyenangkan?" Sabrina merajuk.


"Lain kali aku akan mengajakmu ke perusahaan baru yang di sebelah. Kau juga harus mempelajari tentang perusahaan yang ada di sebelah. Kurasa tugasmu akan banyak sekali," ucap William.


Sabrina melirik sinis ke arah Ara yang mematung. Menatap tak suka ke arah Sabrina. Artur yang melihat Sabrina tengah melirik Ara, Artur segera menutup pintu ruangan presdir.


"Awas kau bocah ingusan!" lirih Ara.


Di dalam ruangan, Sabrina segera mendudukkan bokongnya di kursi tempatnya tadi. Setiap melihat Ara, Sabrina menjadi was-was. Pasalnya, tatapan Ara memiliki minat terhadap William. Wajah gadis itu terlihat tak enak dipandang.


"Uncle, kenapa aku selalu di posisi yang harus cemburu? Wanita sial*n itu, akan kupastikan menjauh dengan sendirinya. Awas saja jika benar memiliki niat jelek!" Sabrina membatin kesal.

__ADS_1


__ADS_2