
"Ya ampun... Bagaimana bisa mereka melemparkan kesalahan mereka padamu? Tak tahu malu!!!!"
"Sudahlah itu sudah berlalu. Lagipula kan aku sudah menikah juga."
"Apanya?!!! Mereka sudah mempermalukanmu !!!"
"Iya aku tau tapi jika nanti mereka berkeras hati aku juga tak akan mudah untuk ditindas."
"Huh.... Awas aja kalau mereka lewat di depanku. Akan aku jambak habis-habisan. Bisa-bisanya mereka tak tahu malu begitu !!".
"Sudahlah...."
" Tak tahu malu itu juga ada batasnya loh!!! Oh ya mana suamimu?"
"Mungkin masih kerja."
"Apa biasanya pulang malam? Eh aku penasaran dengan perasaanmu? Mana mungkin kau tak punya perasaan apapun pada suamimu? Jelas-jelas sudah menikah selama satu bulan."
"Yah kita masih menjalaninya apa adanya sih. Gak terlalu terburu-buru juga. Toh masalah perasaan kan gak bisa dipaksa lagipula aku juga belum yakin dengan perasaannya."
"Lalu bagaimana dengan suamimu? Apa kamu juga memberikan dia haknya?"
Deg.... Deg deg astaga Monica mulutmu !!!! Kenapa pertanyaanmu kau seolah tau perasaanku?
__ADS_1
"Ani... Jangan bilang kalian belum melakukan malam pertama?" Monica mencoba menelisik jauh kedalam lubuk hati temannya itu. Mencoba mengartikan lewat sudut pandangnya.
Mendengar pertanyaan Monica Ani menundukkan kepalanya dalam-dalam. Seakan memberikan jawabannya.
"Astaga... Jadi benar dugaan ku." Menepuk jidatnya sendiri. Dugaannya benar. Jika Ani tak memberikan hak suaminya.
"Ani tolong jangan bodoh. Mungkin sebagian orang memang punya masa lalu. Namun ada sebagian dari mereka yang juga menghargai perempuannya. Jadi jangan hanya melihat masa lalu. Cobalah untuk bangun. Cobalah untuk bahagia bersama suamimu. Kalau kamu bilang suamimu telah berumur, ingat kamu juga sudah pernah menikah. Aku yakin kamu membutuhkan sosok yang bisa kamu jadikan sandaran. Sosok yang mungkin dimana kamu bisa bergelayut manja kepadanya. Aku yakin Tuhan memberikan kehidupan indah ini dengan mengangkat derajatmu juga. Walaupun menikah berdasarkan dijodohkan oleh orangtua suamimu. Aku yakin suamimu memiliki perasaan padamu. Jika tidak bagaimana mungkin suamimu mau menerima perjodohan dari ibunya. Laki-laki yang tidak memiliki perasaan apapun padamu pasti akan menolak juga."
Ani terlonjak kaget bagaimanapun juga benar apa yang dikatakan oleh Monica. Jika Ardan tak memiliki perasaan apa pun padanya mungkin dia akan menolak perjodohan itu.
Ya Allah apa benar begitu? Selama ini memang mas Ardan tak banyak bicara. Tapi perlakuannya benar-benar baik. Astaga .... Apa aku telah salah menilainya selama ini?
"Suami pulang kenapa tidak disambut?" Kata-kata Ardan membuat keduanya terlonjak kaget. Ani belum sepenuhnya mengumpulkan pikiran jernihnya namun sosok didepannya kini membuatnya salah tingkah terlebih karena penjelasan panjang Monica tadi. Sedangkan Monica menatap Ardan lekat.
"Ehh mas Ardan udah pulang?"
Lihatlah pertanyaan macam apa itu. Aku yakin bodoh dan gak peka itu beda tipis. Monica menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kalau belum mana mungkin aku ada disini?"
Puft.... Suamimu mungkin bucin Ani. Lihatlah wajahnya.
"Maaf mas aku tak tau kalau mas sudah pulang jadinya aku gak kedepan. Oh ya kenalin ini temanku.... "
__ADS_1
"Namanya Monica dia kuliah dikampus yang sama denganmu dan kalian sama-sama ambil jurusan desain. Monica masuk ke kampus itu lewat jalur beasiswa dan ayahnya bekerja sebagai karyawan biasa diperusahaan kecil sedangkan ibunya bekerja sebagi pembantu rumah tangga namun setiap sore pulang untuk mengurus keluarga dirumah. Benarkan aku?"
Deg deg deg.... Bagaimana mungkin? Si ..siapa suami Ani ini kenapa bisa tau semuanya. Kini kaki Monica lemas semua yang dikatakan Ardan benar adanya. Takut.. tubuhnya gemetar. Seakan dia bersalah karna telah berteman dengan istrinya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Astaga mas Ardan kenapa denganmu? Kenapa kau sampai mencari data Monica sampai sejelas itu. Cih... Monica lihatlah kalau tadi kamu bilang suamiku memiliki rasa padaku dia tak akan mungkin bisa sekejam itu padaku. Aku kan hanya berteman denganmu.
Keduanya terdiam bingung mau bereaksi seperti apa.
"Aku tak akan melarang kalian berteman."
Keduanya mendongakkan kepalanya. Mereka sudah seperti telah melakukan sebuah kesalahan.
"Aku memang mencari data-datamu namun aku tak bermaksud apa-apa aku hanya tak ingin istriku sampai salah dalam bergaul. Maafkan aku semoga kau tidak tersinggung pernyataan ku tadi."
"Hah..? I...iya tuan."
"Jangan kaku begitu. Aku justru berterima kasih karena kamu mengkhawatirkan istriku dan juga sudah mau menemaninya. Lagipula kamu kuliah dikampus milikku aku akan memberikan beasiswa penuh sampai kamu lulus. Aku sudah lihat prestasimu semuanya. Aku harap kamu mau menerima pemberianku. Sebagai ucapan terima kasihku. Dan jika kamu keberatan dengan itu anggap saja itu untuk meningkatkan prestasimu."
Ja...jadi kampus itu milik suamiku sendiri?
Hah? Ja....jadi itu artinya aku.. aku tak perlu khawatir lagi jika tiba-tiba ada biaya tambahan? Ya Allah itu berarti ayah dan ibuku tak akan kesusahan sama sekali. Mereka tinggal membiayai adik-adikku saja. Tak terasa air mata Monica terjatuh perlahan. Namun tak bersuara.
Ani menepuk-nepuk bahu Monica. Mencoba menenangkannya. Dia sendiri tak tahu harus apa. Dia bingung sejauh apa kekayaan suaminya itu.
__ADS_1
"Anggap saja itu rezekimu. Sayang ayo antarkan temanmu itu kekamar tamu selepasnya urus aku. Nanti setelah shalat Maghrib kita akan makan malam bersama. Aku tunggu dikamar." Ardan pergi meninggalkan mereka berdua. Benar-benar semua diluar dugaan. Pertama-tama kaget karna kemunculannya seperti hantu. Kedua dia memberikan pernyataan tak terduga tentang identitas Monica dan ketiga dia memberikan rezeki untuk temannya.