Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 184


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?" sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. Membuatnya terlonjak kaget. Hendak berontak, namun tangan kekar itu malah mendekapnya lebih erat. Membuatnya mau tak mau mengalah.


"Aku meminta hakku lagi. Apa salah?" tanpa merasa bersalah Dion segera mencium bibir istrinya. Mendengar hal itu, Agnes segera mencoba mendorong dada suaminya. Namun nihil, tenaga suaminya jauh lebih besar dari tenaganya. Kedua tangan suaminya sudah mencekal kedua tangan miliknya. Membuatnya mau tak mau harus berada dibawah kungkungan suaminya.


"Tolong, kita sudah membahas ini sebelumnya kan? Kita berdua sudah berjanji hanya melakukannya satu kali saja. Kalau gagal aku belum hamil juga kita baru melakukannya kembali bukan?" kini Agnes hanya mampu menggigit bawah bibirnya. Membuat kedua manik mata Dion memperhatikan bibir merah muda milik istrinya itu. Hingga membuat Dion semakin ingin mencecapnya.


Aku benar-benar kecanduan. Rasanya tubuhnya memiliki magnet yang sangat kuat. Memang wanita-wanitaku dulu ada yang lebih cantik dan lebih seksi dari pada dia. Namun entah mengapa dia seakan memiliki candu. Membuatku terus merasa kecanduan.

__ADS_1


Dion mendaratkan sebuah ciuman dibibir Agnes. Membuat kedua mata wanita itu membulat. Ciuman yang dapat membangkitkan gairah. Perlahan ciuman itu lembut, namun semakin dalam terpagut dan semakin membuncah pula gairah yang lama terpendam.


Dulu diawal mereka menikah, sebuah perjanjian konyol diantara keduanya terjadi. Bahwa tidak akan ada adegan ranjang. Tetapi justru mereka seakan dibohongi semua anggota keluarga mereka masing-masing. Kenyataan gila dari dua orang ibu yang begitu mendamba hadirnya cucu diantara mereka berdua. Mereka seakan dibuang untuk sebuah Honeymoon. Akhirnya perjanjian baru pun dibuat. Jika mereka akan melakukan hubungan suami istri satu kali saja. Setelah itu menunggu kabar kehamilan dari Agnes. Jika Agnes sudah hamil, maka tidak akan ada lagi sentuhan fisik diantara keduanya. Tetapi jika Agnes masih belum hamil juga maka mereka akan sepakat melakukannya satu kali setiap minggunya.


Tetapi itu semua seakan terkikis hari ini. Kedua manik mata Dion terlihat begitu mendamba wanita yang berada di bawah kungkungannya itu. Seakan menjadi candu untuk laki-laki normal seperti dirinya.


"Bu...bukankah kita sudah membuat perjanjian diawal? Ki...kita tidak akan melakukannya lagi bukan?" mencoba menghindar meskipun sama saja. Lelaki itu terlalu kekar. Walaupun dirinya sangat ahli bela diri sekalipun. Namun tetap saja, tenaga seorang laki-laki dan seorang wanita tentu saja memiliki perbedaan. Wanita, seperti apapun adalah mahkluk yang lemah.

__ADS_1


"Diamlah," kini dirinya mencoba meraih sebuah dasi yang dia letakkan diatas nakas. Kemudian mengeratkan kedua tangan Agnes dengan dasi itu. Terakhir, dia mengikatkan sebuah tali disandaran ranjang. Kini bisa dipastikan Agnes tidak akan leluasa untuk bergerak.


"Bukankah kau tidak menyukaiku? Lalu kenapa kamu melakukannya lagi? Kita sama-sama tidak saling mencintai. Kamu sendiri yang mengatakannya bukan? Bahwa kau tidak akan tertarik pada seorang wanita yang tidak memiliki pantat yang seksi bukan?" mencoba mengingatkan Dion akan ucapannya tempo hari. Yang mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki pantat yang seksi. Sehingga laki-laki itu tidak akan tertarik padanya.


"Kau bisa diam tidak? Kau itu istriku! Jangan menjelek-jelekkan dirimu lagi! Istriku itu harus yang terbaik!"


"Sial*n! Bukankah selama ini kau sendiri yang mengataiku dada rata? Kau juga yang bilang kalau aku ini tidak seksi! Pantatku juga rata, apa kau lupa kata-katamu sendiri?"

__ADS_1


Dion membisu tanpa ingin menjawab setiap ocehan yang dilontarkan oleh istrinya. Seakan malu jika kini dirinya menjilat ludahnya sendiri.


__ADS_2