Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 34


__ADS_3

Ani cekikikan melihat tingkah Ardan yang lucu. Karna disaat dia sudah siap memberikan seluruh hidupnya untuk suaminya. Malah tamu tak diundang datang menyapanya.


"Hari ini bisa bawakan mas bekal lagi nggak?"


"Mas mau makan apa buat makan siang? Nanti sekitar jam 10 aku berangkat."


"Apa aja yang penting kamu yang masak." Ardan tersenyum lembut menatap istrinya . Kini dia terharu bahagia karna istrinya saat ini telah menerimanya sepenuh hati. Baginya itu sudah cukup untuk saat ini.


" Apa ya mas? Mas mau makan rawon ? Kemarin aku beli daging. Kalau mau aku masakin nanti."


"Iya sayang. Itu saja. Karna apa yang kamu masak pasti mas habiskan."


"Ya sudah sana berangkat. Padahal hari Sabtu tapi mas ternyata masih kerja juga ya."


"Kenapa? Kamu ingin mas disini sama kamu?" Diraihnya rambut sang istri yang lurus dan terurai itu. Baunya harum. Rambutnya pun hitam panjangnya sekitar punggung. Dan terlebih lagi semua itu natural. Membuat Ardan bangga memilikinya.


"Eh enggak mas. Aku heran aja kok. Kadang kan ada perusahaan yang hari Sabtu itu libur."


"Mas kan pemimpin. Papi udah pensiun. mas kerja sendiri. Dibantu pak Herman. Kamu tahu kan kalau mas kadang juga bawa kerjaan dirumah."


"Iya mas aku tahu. Oh ya nanti setelah ketempat mas aku boleh ketempat mami? Rasanya sudah lama sekali aku tak ketemu mami."


"Boleh mas senang kamu dekat dengan mami. Mami sudah sepuh. Mas harap kamu bisa ngerti kalau nantinya kita yang bakal merawat papi dan mami kalau sudah tua."

__ADS_1


"Mas ngomong apaan sih. Aku kan udah sah jadi istri mas. Jadi papi dan mami termasuk orang tuaku juga. Lagian aku ingin bilang makasih sama papi dan mami. Karna mereka udah bantuin keluargaku juga." Ani tersenyum lebar. Menandakan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini. Benar\-benar perjuangan Ardan membuahkan hasil. Ada rasa menyeruak didalam hati istrinya itu.


"Ya sudah mas berangkat dulu. Kamu masak yang enak ya sayang. I love you." Ardan mencium kening sang istri.


"I love you too mas." Ani mencium tangan suaminya. Kemudian Ardan hendak berlalu.


"Mas tunggu ada yang ketinggalan."


"Hah apa? Tas kerja mas udah mas bawa...." Belum selesai Ardan meneruskan kata\-katanya. Namun sebuah kecupan bibir kilat mendarat di bibirnya. Dilihatnya sang istri menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Malu? Aku kan sudah jadi suamimu ngapain malu? Aku justru bahagia." Ardan kembali mencium bibir istrinya mesra. Namun tiba\-tiba....


"Tuan muda kita sudah terlambat dari jam seharusnya ....." Sekretaris Herman tak melanjutkan kata\-katanya. Karna sekarang dia dihadapkan posisi yang sulit. Melihat kemesraan tuan mudanya. Kemudian dia membuang muka.


*Tuan muda tolong lihat sekitar anda*.


*Hah aku yang salah? Apa anda tak bisa mengkoreksi diri anda sendiri? kalau mau mesra\-mesraan sana dikamar*. Ingin rasanya dia mengumpat majikannya itu. Namun apa daya. Dia hanya bisa diam saja.


Sedangkan yang memancing umpan adalah Ani sang istri menundukkan kepalanya. Tentu saja kalau bukan dia yang memberikan umpan ciuman sekilas itu mungkin suaminya sudah berangkat kerja.


"Sudah mas lebih baik mas berangkat kerja. Toh ini sudah siang." Ani merasa sungkan karena sang sekretaris itu masih memalingkan wajahnya dari pemandangan menggelikan itu.


"Ya sudah mas berangkat dulu ya. Nanti jangan lupa rawonnya. Assalamu'alaikum"

__ADS_1


"Waalaikumsalam."


Kemudian Ani beringsut menuju dapur setelah mengantar kepergian suaminya. Sekarang dia waktunya berkutat dengan dapur. Untuk memasakkan sang suami makan siang.


 


"Ayo Intan cepat!!!" Marzuki menyeret putri satu-satunya itu dengan terpaksa. Bagaimana tidak mangsa sudah ada didepan matanya. Dia harus mendapatkan pewaris keluarga Wijaya sebagai menantunya.


Aku hanya memiliki saham 7persen di perusahaan Wijaya. Kalau intan menikah dengan Ardan aku akan mendapatkan lebih banyak saham nantinya. Si Johan sialan itu dia tak ada artinya jika dibandingkan dengan keluarga Wijaya.


"Pa aku nggak mau!!!! Papa jangan maksa!!!" Kini bulir-bulir air mata bening mulai menganak dari pelupuk matanya. Betapa ngerinya nanti jika papa benar-benar menjualku dengan lelaki tua itu.


"Apa-apaan kamu?!!! Kamu mau jadi anak durhaka hah?"


"Enggak pa."


"Kalau begitu diamlah !!!! Papa hanya ingin kamu bahagia."


"Tapi aku cinta sama Johan pa." Kata Intan lirih.


"Memang kamu mau makan cinta hah?!! Sudah diamlah. Ikuti saja papamu. Kalau kamu ditolak sama dia kamu boleh sama Johan!!! Jangan kecewakan papamu!!" Marzuki mulai geram. Karna anaknya menolak untuk memikat Presdir Wijaya.


💞💞💞

__ADS_1


Sabtu malam Minggu update gila-gilaan. Hari ini saya update 2 episode untuk persiapan Sabtu malam Minggu ya gaes 😂😂😂😂😂 karna hari Sabtu aku free gak kerja 🤣🤣🤣🤣 jadi punya lebih banyak waktu aku harap kalian bisa mengerti ya.... see youuu😘😘😘*


 


__ADS_2