Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 459. Pernyataan


__ADS_3

Maaf, baru update. Author ada kontrakan novel di rumah sebelah. Jadi, maaf ya kalau lelet updatenya. Maklum aja, suami nggak sepi kerjaan sdngkan kita butuh makan. Mau ttp nulis di sini, tapi udh capek duluan. udah capek sama dunia nyata. Silahkan hujat author kalau emang author mata duitan atau author malas. Sekarang logika aja, di sini author nggak pemes, nggak bisa tiap bulan tarik gaji. Aurhor mata duitan. beli seblak pakek duit soalnya😂😂 Mungkin juga cerita Fahmeeda sama Steward juga bakalan di sana. Di rumah sebelah. Ikuti terus fb author Permaisuri.


 


"Jadi, aku harap kau juga sama sepertiku. Tidak ada salahnya menerima perjodohan ini. Ayah dan mamaku saja bisa berhasil. Kuharap, kau juga bisa menerimaku kelak untuk bersama denganmu menghabiskan sisa waktu." Setelah mengatakan hal itu, Artur beranjak meninggalkan Aretha yang memejamkan kedua mata.


Sungguhpun, hati Aretha tercubit. Tadinya ia ingin mengeluh tentang perjodohan ini, tapi nyatanya Artur terlebih dahulu memberikan ledakan yang ternyata membuat dirinya harus legowo menerima Artur sebagai calon suaminya di masa depan.


"Ma! Astaga!" Artur menjerit ketika mendapati piring Sabrina telah dipenuhi oleh makanan. "Ini lemak semua, Ma! Itu ada salad, mending makan buah aja yang banyak gizinya."


"Eh, Artur! Aku lapar!" Sabrina memekik saat piringnya ditarik Artur.


"Nggak! Ini berlemak, Ma. Nggak baik!" Artur membawa piring Sabrina ke atas kepala.


Tubuh Sabrina yang mungil tentu saja tidak akan sampai. Sedangkan tinggi Artur, 178 cm dengan tubuh yang kekar serta berkulit putih. Sabrina pun berdiri. Ia berusaha untuk meraih piringnya kembali.


"Artur!" Sabrina merengek manja.


"Brina, ambil yang lain. Ada banyak steak yang masih dipanggang." Lexi menengahi pertengkaran Artur dan Sabrina.

__ADS_1


"Beneran, Lex?" Kedua mata Sabrina berbinar bahagia.


"Bener! Pewaris Dirgantara Grup masa iya pelit?" Lexi tergelak melihat ekspresi wajah Sabrina bagai kucing yang melihat ikan asin.


"Thanks ya!" Sabrina menjulurkan lidahnya ke arah Artur. Lalu berjalan riang menuju Chef tampan dengan steak yang masih dipanggang.


"Lex! Kok malah kamu kasih yang baru sih? Ini susah payah loh aku ngambil piringnya!" protes Artur.


"Ish, jangan gitu, Artur. Aku juga nggak mungkinlah makan daging yang banyak lemaknya. Sirloin dan Tanderloin pasti udah pernah dengar kan? Udah, lagian nggak tiap hari kok. Sabrina pasti tahu batasan dirinya sendiri. Ingat, Sabrina bukan wanita yang sembarangan." Lexi menepuk pundak Artur membuat emosi Artur menurun.


"Benar apa yang dikatakan oleh Lexi, Sabrina memang wanita pintar. Hm." Artur membatin. Ia lalu meletakkan piringnya di meja.


Lexi terdiam. Hingga membuat Artur tak enak lantaran melihat ekspresi sedih di wajah Lexi. "Sorry," ucap Artur mencoba mencairkan suasana.


Lexi menoleh dan tersenyum sinis. "Rumah besar, mobil mewah dan bisnis di mana-mana memang impian orang pada umumnya. Kecuali, aku. Karena bagiku ini semua nggak ada artinya. Mereka sibuk arisan sosialita atau lembur berhari-hari hingga keluar kota. Capek, Artur. Papaku bukan seperti ayahmu yang lebih mempedulikan anak atau istrinya. Ia sibuk ke sana ke sini tanpa peduli kalau anaknya nggak cuma butuh uang tapi peduli kasih sayang. Kamu tahu kan seperti apa aku ketika aku pertama kali masuk ke kampus?"


Artur menganggukkan kepala. "Ingat. Kau kan mencari gara-gara sama Mama Sabrina."


"Benar. Tadinya aku masih dendam lo. Namun saat kakeknya Sabrin meninggal, anak buahku mengikuti kalian dan ternyata aku menemukan rahasia besar. Sabrina ternyata berasal dari keluarga Wijaya yang tersohor itu. Gila nggak? Aku dan dia sama-sama dari keluarga konglomerat tapi aku sering mengeluh. Maka dari itu, sekalipun aku kesepian aku tidak akan mengeluh. Nyatanya sekarang aku dapat sahabat kayak kalian. Meski tadinya aku diajak Rion untuk pesata s*bu." Lexi menerawang ke atas langit. Beruntung, di halaman belakang banyak sekali pohon-pohon besar yang rindang sehingga tak diterpa terik matahari langsung.

__ADS_1


"Kamu jadi berangkat?" Justin menyela sembari duduk di depan Artur. Pria itu meletakkan piring berisi steak yang menggugah selera.


"Nggaklah! Emang aku mau nginep di prodeo? Nggak! Makan steak aja masih kerasa enak, ngapain makek barang begituan." Lexi menatap piring Justin dan Dixton yang penuh makanan. Kemudian pria itu tergelak nyaring.


"Kenapa ketawa, Lu?" Dixton membuka suara. Dahinya mengernyit.


"Bikin kalian seneng cuma disogok makanan gini aja? Kenapa nggak dari kemarin-kemarin aja sih?" Lexi terkekeh.


"Hei! Lu kira kita ini gembel pakek acara disogok makanan? Si*alan!" Dixton kembali melanjutkan mengiris daging steak.


"Hai, Artur! Lihat! Aku dapat lagi!" Sabrina duduk di depan Artur dengan raut wajah yang mengejek.


Artur mencebikkan bibirnya karena kesal melihat ejekan dari Sabrina yang merasa menang. Pandangan Artur mengarah ke arah Aretha yang sepertinya salah tingkah lantaran harus duduk tepat di sampingnya. Artur melirik piring Aretha yang hanya berisi satu potong daging steak.


Pria itu bergegas mengambil sendok dan garpu yang baru. Lalu tanpa diduga menancapkan garpu di steak Sabrina yang baru saja ia ambil. Yang membuat Sabrina, Lexi, Justin dan Dixton kaget adalah, steak tersebut justru ditaruh di piring Aretha tepat di atas steak yang tadi Arrtha ambil. Gadis itu terdiam. Melirik bingung ke arah Artur.


"Makan, supaya berisi. Aku nggak suka cewek yang kurus kering," celetuk Artur.


Semua orang pun melotot mendengar pernyataan Artur. Terlebih tiga pria tampan yang masih jomblo itu hanya bisa terlonjak sekaligus ditabok oleh kata-kata Artur. Sedangkan si gadis yang tersipu malu, memilih semakin menundukkan kepala. Bisa dipastikan wajahnya sangat merah bak tomat rebus.

__ADS_1


__ADS_2