
Elena menatap sosok angkuh yang sedang berjalan keluar dari kamarnya. Disambut oleh para maid beserta Kei, kaki tangan Rendy. Sejenak pandangan kedua mata mereka bertemu. Namun secepat kilat Elena segera mengalihkan pandangannya ke arah lainnya. Seulas senyumpun terbit di bibir Rendy. Elena benar-benar membuat hatinya seakan terpikat. Hari ini adalah hari pertama Elena melanjutkan sekolahnya di Universitas Imperial Collage.
"Elena … Apa kau sudah siap untuk memasuki kehidupan baru?" tanya Rendy saat keduanya bertenu di meja makan.
"Tentu saja Paman."
Rendy segera meraba sesuatu di saku celananya. Sebuah kunci mobil yang sudah ia siapkan khusus untuk Elena. Tanpa sepatah katapun, Rendy segera melemparkan kunci mobil tersebut tepat mengenai piringnya. Elena yng menyadari itu adalah kunci sebuah mobil segera menerbitkan sebuah senyum yang lebar.
"Ini untukku?" tanyanya dengan senyum yang masih merekah.
"Hem."
"Tunggu, bukankah ini kunci Lambo?"
"Segeralah sarapan dan jangan banyak bertanya!" bentak Rendy yang begitu kesal dengan Elena.
"Ckckck sudahlah. Yang terpenting aku mendapat mobil!"
Hening melenggang keduanya tengah asyik menikmati sarapan pagi. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar saling bersahutan. Mencoba mewakili keduanya dalam memecahkan keheningan.
"Paman, aku berangkat!" Elena yang tengah bahagia tanpa sadar mencium pipi Rendy. Hingga membuat si empunya pipi mematung. Bahkan pungung Elena telah menghilang karena menjauh. Meninggalkan Rendy dengan segala kebisuannya. Beberapa detik kemudian Rendy tersadar dengan sebuah senyum yang bertengger di bibirnya.
"Kei … Kau sudah mendapatkan jadwal Elena bukan?"
__ADS_1
"Tentu Tuan Muda. Saya sudah mengirimnya ke email anda."
"Elena … Jika kau bergerak sedikit saja maka aku akan mengetahuinya. Kita lihat, sejauh apa kau tenggelam dalam jalan kegelapan," gumam Rendy.
****
Tepat pukul 11 malam waktu London. Elena memarkir mobil barunya di garasi milik Rendy. Kedua iris coklatnya mengamati keadaan didalam mansion milik Rendy. Cahaya lampu yang temaram. Menandakan jika pemilik mansion telah terlelap dalam tidurnya.
Dengan langkah yang perlahan dan pasti, Elena terus melangkahkan kakinya menuju pintu. Dengan hati-hati Elena membuka pintu. Gelap. Hanya ada lampu yang temaram menerangi ruang tamu itu. Elena menghela nafas lega.
"Dari mana saja kau?" sebuah suara bariton yang begitu dikenalnya terdengar jelas ditelinganya. Disudut ruangan terlihat juga sosok dingin dan irit bicara, Kei. Tentu saja suara penuh penekanan itu milik Rendy. Glek. Elena meneguk salivanya. Karena dirinya tertangkap basah oleh Rendy dan juga Kei.
"Pa-paman," panggil lirih Elena.
"Kau belum menjawabku."
"Oh ya? Kalian pergi kemana?" tanya Rendy yang masih duduk dengan angkuh dan sombong di sofa ruang tamu. Menatap tajam Elena yang gelagapan akan intimidasi yang dia berikan.
"Te-tentu saja kami ke mall. Kemudian ke restaurant. Yah namanya jalan-jalan Paman. Kita pergi kemana saja," ucap Elena mencoba memberikan alasan yang berarti.
"Tempatnya dimana? Sebutkan."
Sial*n! Gimana dong? Aku nggak mungkin bilang jika aku pergi bersama Lady.
__ADS_1
"Elena?"
"Maaf Paman. Aku mendapat info jika Stevan ada di Manchester. Jadi aku kesana," jawb Elena dengan kepala tertunduk.
"Stevan?" tanya Rendy dengan nada yang tinggi. "Elena! Beraninya kau menyebut lelaki lain di hadapanku?"
"Eh loh … Ma-maksud Paman apa? Stevan itu orang yang membunuh keluargaku," sahut Elena dengan cepat.
"Oh." Rendy menganggukkan kepalanya. "Lalu?"
"Tentu saja aku kesana. Tetapi info yang kudapat nihil. Dia sudah pergi setelah tau jika aku kesana." Kembali Elena menundukkan kepalanya.
Menarik. Mungkin ini waktu yang tepat untuk mengikatnya denganku.
"Aku akan membantumu. Aku memiliki seorang kenalan yang sangat ahli meretas. Aku rasa, aku bisa meminta tolong padanya."
"Kau mau membantuku?" tanya Elena dengan cepat.
"Ya. Tetapi ini tidak gratis. Aku harus membayarnya sangat mahal untuk info yang kau inginkan."
"Paman." Elena berlutut sembari menangkupkan kedua tangannya. "Aku mohon tolong aku. Bantu aku mencari keberadaannya. Aku ingin membalaskan dendam kedua orangtuaku Paman. Supaya mereka semua tenang disana. Aku mohon Paman. Aku akan melakukan apapun untukmu."
Jujur saja aku pasti tidak akan bisa membayar info yang aku tukarkan. Semoga paman mengajukan syarat lainnya. Elena menggumam dalam hati.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita membuat sebuah kesepakatan?" tanya Rendy dengan sebuah senyum licik.
****