
catatan 1: Sabrina tidak memakai topeng. Karena percuma, musuh sudah mendeteksinya. Menerornya dengan satu jasad yang mati mengenaskan. tebak-tebakan yuk, siapa yang jadi musuh Sabrina.
catatan 2: pemenang novel cetak author mohon ditunggu ya. Sudah finishing.
"Pasukan?" Suara serak William kembali menyentak Sabrina.
"Bukan pasukan. Lebih tepatnya hanya beberapa anak buah saja." Sabrina melirik jam yang melingkar di tangannya. "Sudah pukul 1 dini hari. Lebih baik, kita pulang sekarang."
"Tunggu, bukankah ada yang meninggal? Bagaimana jika ditemukan oleh polisi?" William panik.
Sabrina menggelengkan kepalanya. "Tidak akan. Para kapten itu, yang akan mengurus mayat-mayat itu. Lebih baik kita pulang."
William tak lagi protes. Ia mengikuti Sabrina tanpa bersuara lagi. Dalam perjalanan, Sabrina melirik William yang membisu. Ia paham, suaminya pasti akan bereaksi seerti yang sudah ia duga.
"Uncle William menyesal ikut denganku?" tanya Sabrina memecah keheningan.
__ADS_1
William menoleh. "Aku bingung."
"Beginilah kehidupan kami. Jika kami lengah, aku mungkin sudah tak bernyawa. Saat para penculik menculikku ketika aku berusia 4 tahun. Semenjak dari itu, sebagai keturunan Wijaya harus siap untuk menanggung segala resiko. Apalagi yang bisa aku lakukan? Menyerahkan diri kepada musuh? Lalu mereka menggerogoti kekayaan keluarga Wijaya? Itu sudah menjadi rahasia umum." Sabrina menatap di luar jendela mobil.
Memilih mengamati pemandangan di luar sana daripada harus menatap William yang masih menyorotnya dengan tajam. William sendiri sedang dalam keadaan yang rumit. Situasi saat ini, membuat William bingung. Padahal sebelumnya ia hanya pria biasa. Lalu mengapa harus berakhir seperti ini? Pria itu mendesah gelisah.
"Tapi, apa yang dikatakan oelh Sabrina ada benarnya juga. Dia adalah keluarga Wijaya yang melegenda. Kemampuan bisnis dan kekayaannya tak diragukan lagi. Aku tidak tahu seberapa beratnya menanggung beban sebagai penerus keluarga Wijaya yang terkenal itu." William membatin.
Mobil telah memasuki halaman rumah. Willaim dan Sabrina segera turun dari mobil. Diikuti dengan Julia yang mengekor tepat di belakang Sabrina. William menautkan kedua alisnya. Pria itu masih saja diam di tempat. Setelah menghembuskan napas berat, William mengikuti Sabrina yang telah masuk ke dalam rumah. Hingga tiba-tiba Sabrina menfhentikan langkah. Gadis itu memutar tubuh dan menatap tajam ke arah Julia.
"Julia? Kenapa kau malah mengikutiku?" tukas Sabrina.
Sabrina menyorot tajam ke arah Julis. "Di sini tidak ada kamar."
Senyuman di bibir Julia lenyap. Digantikan raut wajah yang sulit diartikan. "Kalau begitu, saya tidur di mana saja tidak masalah."
Sabrina mendelik. "Di sini ada Darren. Aku tidak mungkin membiarkan dirimu tidur di sembarang tempat."
__ADS_1
William mengerutkan dahi. "Bukankah masih ada satu kamar kosong?"
Sabrina dan Julia menoleh. Mendengar penuturan dari William, Julia mengulum senyuman. Tetapi tidak dengan Sabrina. Raut wajahnya tidak bersahabat.
"Itu bukan kamar kosong. Itu kamarku. Baiklah, Ju. Darren biar tidur di mana saja. Kau tidur di kamar Darren. Ayo, aku akan membawamu ke kamarnya," ajak Sabrina. Gadis itu berlalu tanpa menoleh ke arah William.
Membuat William kebingungan. "Kamar bekas milik Sabrina telah kosong. Lalu kenapa tidak boleh ditempati? Apa, Sabrina akan menempati kamar itu lagi?" William menggumam kebingungan.
William memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia akan menunggu Sabrina untuk menanyakan maksud dari kata-katanya. William memilih untuk segera membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, William berganti pakaian dan duduk di tepi ranjang. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Sabrina masuk ke dalam kamar. Akan tetapi, Sabrina justru tak menutup pintu. Melainkan mengambil pakaian tidurnya lalu beberaa potong baju serta dalaman. Kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Dengan cepat, William menarik tangan Sabrina.
"Kau mau kemana?" William menyorot iris biru itu dengan tajam.
Sabrina membuang wajah ke arah lain. Mengjindari tatapan mata yang menghunus. Lama Sabrina tak menjawab pertanyaan William. Bahkan gadis itu berusaha untuk memberontak.
"Bisakah, kau melepaskan ini?" pinta Sabrina. Kedua mata gadis itu berkaca-kaca.
Reflek, William melepaskan cekalan tangannya. Pria itu tetap waspada dan berjaga-jaga, jika Sabrina akan pergi.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Lagi, William melontarkan satu pertanyaan kepada Sabrina.
"Uncle pasti menyesal bukan? Menikah denganku dan berada di situasi yang rumit ini?" Pertanyaan Sabrina menohok ulu hati William.