
"Apa tanganmu baik-baik saja?" ucapku kembali melirik ke arah telapak tangannya.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir seperti itu," balasnya kembali menatap lurus kedepan.
"Kau yakin?" tanyaku kembali, kutatap kedua kakiku yang tengah berusaha berjalan menuruni tebing.
"Cerewet sekali," ucap Zeki, dicubitnya kuat pipi sebelah kiriku.
"Jangan kehilangan fokus seperti itu lagi, itu sangat berbahaya kau tahu," ungkapnya menatapku.
"Aku akan berusaha untuk tidak mengulanginya," ucapku kembali menatap lurus kedepan.
"Ke arah mana lagi kita akan pergi Danur?" ucap Adinata berjalan dan berdiri di samping adiknya.
"Ke-ke a-arah ti-timur, a-akan te-tetapi... A-ada ke-kekuatan la-lain ya-yang a-ada di-di sa-sana," ucap Danurdara menatapi kakaknya.
"Apa yang akan kita lakukan?" sambung Luana.
"Tentu saja, kita akan tetap ke sana apa pun yang terjadi. Jika tidak, kita akan berada di sini untuk waktu yang lama," ucap Adinata lagi.
"Apa kalian begitu mempercayai semua yang ia katakan?" lanjut Luana.
"Tu-tutup mu-mulutmu. Ko-kou se-sendiri ya-yang me-memintaku u-untuk me-menuntun ka-kalian," ucap Danurdara menatapi Luana.
"Ji-jika ka-kalian ti-tidak me-mempercayaiku a-ataupun Sa-sachi, pe-pergilah! A-aku ti-tidak a-akan me-memaksa ka-kalian u-untuk me-mengikuti ka-kami," ucapnya lagi seraya berbalik dan berjalan menjauh.
Melangkah aku mengikuti langkah Danur, beberapa kali helaan napas terus-menerus keluar dari mulutku. Kulirik Zeki dan Adinata yang tampak sibuk menebas tanaman merambat yang ada di hadapan kami.
"Bagaimana caranya kita menyeberangi sungai ini?" ungkap Julissa, ditatapnya sungai dengan aliran arus yang sangat kuat dihadapan kami.
__ADS_1
"Apa kita masih memiliki sisa daging?" ucapku, kualihkan pandanganku pada Izumi.
"Bisakah aku meminta sepotong daging tersebut nii-chan?" ucapku lagi padanya.
"Tentu," diturunkannya bungkusan kain yang tergantung di lengannya, dibukanya bungkusan tersebut seraya diambilnya sebuah bungkusan daun kepadaku.
Kuraih seraya kubuka daun yang membungkus daging tersebut, kulemparkan daging tersebut sekuat mungkin ke tengah sungai...
Kutatap sepasang mata yang mengambang di dalam air, ditelannya daging yang aku lempar tadi menggunakan mulutnya yang panjang dan bergigi tajam tersebut. Masuk lagi ke dalam air sepasang mata yang aku lihat tadi...
"Berenang disini akan langsung mengantarkan nyawa kita dalam bahaya, jikapun kita berhasil berenang... Makhluk itu akan langsung menelan kita," ucapku berbalik menatap mereka.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Mencari jalan memutar," ungkap Adinata menjawab pertanyaan Sasithorn.
Kualihkan pandanganku pada sepasang mata yang masih mengikuti kami dari dalam sungai, ekornya yang panjang dan bersisik hitam tersebut tampak samar-samar membelah air sungai.
Berjalan Zeki naik ke atas jembatan, menoleh ia kembali kebelakang seraya diangkatnya telapak tangannya ke arahku. Kusambut telapak tangan dari tunanganku itu, kugenggam kuat telapak tangannya tadi seraya coba ikut melangkahkan kaki mengikutinya.
Bergantian kami menyeberangi jembatan tersebut, lapuknya kayu menghentikan langkah kami untuk dapat menyeberang bersama-sama. Perlahan demi perlahan mereka melangkahkan kaki menyusuri jembatan kayu tersebut, kulirik sepasang mata yang masih mengawasi mereka dari balik keruhnya air sungai.
Kualihkan pandanganku ke atas, matahari semakin condong ke arah barat seiringnya waktu. Danurdara mempercepat langkah kakinya kembali, kulirik para perempuan yang sudah kelihatan pucat mengikuti jejak Danurdara...
Adinata menarik lengan adiknya, diajaknya adiknya tersebut untuk sekedar beristirahat sebentar. Duduk kami semua seraya menyandarkan diri masing-masing di pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kami.
Kuangkat telapak tanganku seraya kugerakkan di dekat wajahku, angin yang samar-samar berembus menyentuh wajahku. Melirik aku ke arah Julissa, Luana dan juga Sasithorn yang tampak memijat-mijat kaki mereka...
Beranjak aku seraya berjalan mendekati Alma, kutatap ia yang tengah meniupkan udara di lengannya yang terluka. Duduk aku dihadapan mereka berdua...
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" ucapku menatapnya.
"Hanya masih sedikit sakit, tapi aku baik-baik saja," balasnya menatapku.
"Bertahanlah, ketika kita menemukan inti sihirnya. Kita akan terbebas dari tempat terkutuk ini."
"Apa kita akan baik-baik saja?" ucap Alvaro ikut menatapku.
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, hanya saja... Jika kita berkerja sama, apapun akan dapat kita lakukan."
"Apa itu sebuah gelang pasangan?" ucapku, kualihkan pandanganku pada sebuah gelang yang melilit lengan Alvaro.
"Tidak, ini gelang yang diberikan teman masa kecilku," ucapnya tersenyum seraya menatap gelang yang ada ditangannya.
"Apa temanmu itu perempuan?" ucapku, kugenggam saku yang ada di celanaku.
"Bagaimana kau mengetahuinya?" ungkapnya menatapku dengan mata yang sedikit melebar.
"Maaf, kami terlambat menyelamatkannya?" ucapku, kuraih gelang yang sama seperti yang ia kenakan di saku celanaku.
"Kalian menemukannya?" ucapnya dengan suara bergetar, diraihnya gelang yang ada di tanganku olehnya.
"Kami menemukannya, hanya saja... Kami terlambat menyelamatkannya beserta tiga perempuan yang lain," ucapku tertunduk tak sanggup menatapnya.
"Aku sudah mengatakan padanya, bergabung saja di kelompok yang aku buat. Tapi ia bersikeras ingin bergabung dengan satu kelompok bersama tunangannya," ucap Alvaro, ditutupnya kedua matanya menggunakan lengan kanannya.
"Apa kau, jatuh cinta padanya?" ucapku menatapnya.
"Dia telah bertunangan dengan laki-laki yang tidak ia kenal. Tapi tetap saja, aku mencintainya," jawab Alvaro, kuarahkan telapak tanganku menyentuh rambutnya seraya kutepuk-tepuk pelan kepalanya.
__ADS_1