
"Jadi, apa yang kalian lakukan?" Sambung Izumi ikut menatapku.
"Tidak ada, kami tidak melakukan apapun," ucapku tersenyum menatapi kedua kakakku bergantian.
"Lalu, darah yang ada di lantai. Bagaimana kau menjelaskannya?" ucap Haruki kembali padaku.
"Aku tidak sengaja melukai tanganku sendiri. Tapi sekarang sudah baik-baik saja," ungkapku sambil terus menatapi mereka.
"Dia berbohong Ayah. Perempuan itu, bukanlah manusia," sambung Egil menimpali perkataanku, kugerakkan kepalaku menatapnya.
Bodoh sekali. Aku ingin menyelamatkannya, tapi...
"Sa-chan, apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Aku mana berani menyembunyikan sesuatu darimu, nii-chan," ungkapku kembali menatapnya.
"Apa maksudmu Egil?"
"Tangannya tadi terluka Ayah. Tapi, tapi..."
"Tapi?" Sambung Niel kembali menatap anaknya yang masih bersembunyi di belakang punggung Tem.
"Tanganmu!" Ungkap Haruki mengarahkan telapak tangannya padaku.
"Aku sudah katakan, aku sama sekali tidak terluka, nii-chan," ungkapku seraya kuangkat telapak tanganku tadi ke atas telapak tangannya.
Kuarahkan pandanganku menghindari tatapan Haruki. Mataku sedikit terpejam tatkala kurasakan genggaman yang ia lakukan di lenganku menguat. Kembali kugigit pelan bibirku tatkala suara helaan napas keluar dari balik bibirnya.
"Adikku tidak terluka. Dia memang suka bercanda, sebenarnya darah yang menetes dari telapak tangannya itu bukanlah darahnya. Kalian tertipu olehnya," ucap Haruki mengalihkan pandangannya menatapi Egil dan juga Tem.
"Apa kau bercanda?"
"Sebaliknya aku yang bertanya kepada kalian berdua, apa yang kalian lakukan pada Adikku?" Ungkap Haruki menimpali perkataan Egil padanya.
"Nii-chan, kalian pasti mempunyai kabar yang ingin disampaikan bukan?" Ucapku memotong pembicaraan mereka berdua.
"Kami mendapatkan kabar dari penjara," sambung Izumi menjawab perkataanku.
__ADS_1
"Secepat ini?" Tanyaku keheranan.
"Salah satu laki-laki tersebut, tiba-tiba saja kejang-kejang tanpa sebab. Jadi, para penjaga memintamu untuk memeriksanya secara langsung," ungkap Izumi kembali.
"Aku?"
"Karena kau yang sudah memberikan mereka rencana penangkapan. Jadi mereka sedikit mempercayai kemampuanmu," ucap Niel ikut berbicara.
"Begitukah? Baiklah. Aku akan mengganti pakaianku sebentar," sambungku berbalik berjalan menjauhi mereka.
"Kami menunggumu di gerbang. Jadi cepatlah ke sana!" Teriak Izumi, kuarahkan telapak tanganku melambai pelan ke belakang menjawab perkataannya.
_________________
"Lux, apa kau telah siap?" Ungkapku menatapnya yang masih duduk di atas meja.
"Aku telah siap. Yang lama itu hanya menunggumu," ucapnya bergerak terbang mendekatiku.
"Lux, apa kau telah menyiapkan semuanya?" Sambungku, kugerakkan rambutku ke samping agar dia dapat dengan mudah berdiri di pundakku.
"Aku telah menyiapkan semuanya. Hanya saja, aku masih tidak terlalu yakin, ini akan berhasil ataupun tidak," ucapnya, kembali kugerakkan rambutku tadi tergerai menutupi tubuhnya.
"Berperang pun adalah hal yang sama untukmu bukan? Jadi nikmati saja, racun yang aku buat sangatlah kuat untuk membunuh banyak sekali musuh-musuh mu," ucapnya pelan padaku.
"Apa kau ingat pertama kali kita bertemu Lux?" Ungkapku, kugerakkan tali tas yang aku genggam tadi melewati kepalaku lalu mendarat di atas pundakku.
"Kau menjengkelkan sekali saat itu," ungkapnya menjawab perkataanku, kugerakkan tubuhku berbalik berjalan mendekati pintu.
"Kau pun sama. Tapi aku tak menyangka, akan berteman baik denganmu seperti sekarang, Lux."
"Aku pun. Aku benar-benar tak bisa membayangkan sebelumnya, bisa berteman dengan manusia sepertimu dan yang lainnya."
___________________
"Kau lama sekali! Teriak Izumi dari atas kuda yang ia tunggangi.
"Aku harus mempersiapkan sesuatu terlebih dahulu. Jadi maaf..."
__ADS_1
"Akan tetapi, dimana kudaku?" Sambungku menghentikan langkah di samping kuda yang ditunggangi Izumi.
"Naiklah! Aku tidak akan membiarkanmu berkuda sendirian di tengah malam seperti ini," ucap Izumi kembali padaku.
"Tapi, bukankah kita pergi bersama-sama?" Tanyaku keheranan menatapnya.
"Ikuti saja apa yang ia katakan Sa-chan. Kau pasti paham, bagaimana keras kepalanya Kakakmu yang satu itu."
"Baiklah. Tanganmu Izu-nii, kudamu sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan kudaku ataupun kuda milik Haru nii-chan. Jadi aku sedikit kesulitan untuk menaikinya," ungkapku mengarahkan telapak tangan ke arahnya.
Diraihnya telapak tanganku tadi oleh Izumi seraya kedua kakiku bergerak menaiki kuda miliknya. Kuda hitam nan gagah miliknya tampak menyatu dengan gelapnya malam, benar-benar serasi dengan sosoknya yang tegap.
"Berpeganglah yang kuat," ucapnya menggerakkan kepalanya mencoba berbalik ke belakang.
"Aku mengerti nii-chan," ungkapku mengarahkan kedua tanganku melingkar di pinggangnya.
"Kalau begitu, kami duluan."
Tubuhku sedikit terhentak saat kuda yang kami tunggangi tiba-tiba bergerak dengan kecepatan tinggi, semakin cepat dan semakin cepat berjalan menyusuri hutan meninggalkan jalan utama.
"Nii-chan. Kau ingin membawaku kemana?" Ungkapku semakin mempererat genggaman tanganku pada jubah yang ia kenakan.
"Kita akan melewati jalan memutar. Kami mengkhawatirkan adanya jebakan jika melewati jalan yang biasa kita lalui," ungkap Izumi, semakin mempercepat langkah kaki kuda miliknya.
"Jadi, mereka nantinya akan dijadikan umpan?" Ungkapku, kugerakkan kepalaku ke arah kanan dan kiri yang masih tertutupi gelap gulita.
"Jika mereka, serahkan semuanya pada Haruki, apa kau meremehkan kemampuannya?" Ucap Izumi kembali terdengar.
"Aku mengerti nii-chan."
"Lux, bagaimana keadaanmu?" Sambungku kembali, kugerakkan kembali kepalaku menatap lurus ke depan.
"Aku baik-baik saja. Izumi!" Ungkap Lux ikut terdengar.
"Ada apa?"
"Jika kita telah sampai ke sana, dan kami tidak bisa mengendalikan keadaan. Kau tahu apa yang harus dilakukan bukan?"
__ADS_1
"Aku mengerti, serahkan semuanya padaku," ucapnya menjawab perkataan Lux.