
“Apa kau yakin, ingin melanggar janji di antaramu dan juga kakakku?”
Zeki membuang tatapannya ke samping, ikut terdengar pula helaan napas yang ia keluarkan, “aku mengerti,” ucapnya kembali beranjak lalu membaringkan tubuhnya di sampingku.
Aku sedikit beranjak dengan meraih selimut yang terlipat di dekat kakinya, kubentang selimut tadi hingga menutupi tubuhnya yang berbaring itu. Telapak tanganku terangkat menyingkap rambutnya sembari kucium keningnya itu. “Tidak bisakah kau hanya langsung tidur saja? Aku sekarang sedang menahan diri, jadi hormati penderitaanku ini,” gumamnya yang masih memejamkan matanya.
Aku tersenyum menatapinya, “mungkin inilah salah satu alasan, kenapa aku jatuh cinta padamu,” ungkapku yang membaringkan tubuh lalu memeluknya dari belakang.
Aku mengangkat tanganku yang memeluknya saat dia bergerak, berbalik memeluk tubuhku. Wajahnya yang hendak bergerak mendekatiku berhenti saat suara panggilan laki-laki terdengar dari luar kamar, “Sa-chan, apa kau di dalam?” suara tersebut lagi-lagi terdengar diiringi ketukan pintu yang menyertainya.
“Ada apa, nii-chan?” sahutku menjawab panggilan tersebut sambil beranjak kembali duduk.
“Bisakah kau keluar sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan,” ucap suaranya kembali terdengar.
Zeki menganggukkan kepalanya saat aku melirik ke arahnya. “Tunggu sebentar, nii-chan! Berikan aku waktu untuk bersiap-siap,” jawabku sambil bergerak menuruni ranjang.
Kedua kakiku meraih sandal yang ada di dekat ranjang lalu berjalan mendekati lemari. Aku meraih sebuah mantel yang ada di dalamnya, sembari mengenakan mantel tersebut ketika kedua kakiku berjalan mendekati pintu. “Izu nii-chan, kau pun ada di sini?” tanyaku, ketika tatapanku itu terjatuh kepada mereka berdua yang berdiri di depan pintu.
“Apa Zeki di dalam?” tanya Haruki ketika aku telah kembali menutup pintu kamar.
“Dia sedang membaca kertas yang diberikan oleh Haru-nii,” jawabku menatapnya, “ada apa nii-chan? Apa terjadi sesuatu?” Aku kembali bertanya dengan menatap mereka berdua bergantian.
Haruki berbalik, “ikuti aku!” perintahnya, Izumi mengangguk sambil ikut melangkahkan kakinya mengikuti Haruki.
Keningku mengerut menatapi punggung mereka yang bergerak kian menjauhi. Aku turut mengikuti langkah mereka saat sebelumnya melemparkan kembali pandangan ke arah pintu kamar. Mereka berdua terus berjalan dan terus berjalan membawaku ke dalam ruangan rahasia yang ada di dalam perpustakaan. Kalian pasti masih ingat, bukan? Ruangan apa yang aku maksudkan itu.
Aku menarik salah satu kursi lalu mendudukinya saat Haruki ataupun Izumi telah duduk di dua kursi yang lain, “kau, masih mengingat jelas syarat yang aku berikan sebelum mengizinkan kalian untuk menikah, bukan?” tukas Haruki, aku menganggukkan kepala menjawab pertanyaan itu.
__ADS_1
“Kau pasti paham, bukan? Bahwa setiap larangan yang aku katakan pasti selalu aku pikirkan baik-baik akibatnya.”
“Tapi nii-chan, kami tidak melakukan apa pun. Kami menghormati perjanjian itu,” ungkapku yang dengan cepat membantah perkataannya.
“Lakukan saja, apa yang ingin kalian lakukan. Aku, tidak akan melarang kalian,” sambung Haruki menimpali perkataanku.
“Eh?”
“Yang Haruki maksudkan itu, ini pernikahan kalian … Kalian, lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hubungan kalian. Kami hanya tidak ingin, jika larangan itu justru membuat ikatan pernikahan kalian memburuk,” kali ini Izumi yang membuka suaranya.
“Lalu, bagaimana dengan Zeki? Apa dia mengetahui hal ini?”
“Kami tidak memberitahukannya, semuanya tergantung kepadamu. Walau hidup kita nanti berulang, namun jika kita tidak mengingat apa pun yang terjadi di kehidupan lama kita … Semuanya akan tetap percuma. Jadi, lakukan apa pun yang kau inginkan, aku tidak ingin … Jika nantinya, kau menyesali apa pun keputusanmu itu.”
“Dan juga, kita akan melanjutkan perjalanan saat Zeki sudah meninggalkan Sora. Jadi, manfaatkan saja waktu kebersamaan untuk kalian, sebelum hal itu terjadi,” sambung Haruki, dia menatapku sambil menyandarkan dirinya di kursi.
Aku kembali membuka pintu kamar, “ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Zeki, dia mengangkat wajahnya sambil kedua lengannya itu menyilang menatapku.
Aku berbalik menutup kembali pintu lalu berjalan dengan membuka kembali mantel yang aku kenakan, “bukan sesuatu yang penting. Kau tidak tidur?” tanyaku, sambil menggulung mantel itu kembali lalu meletakkannya di dalam keranjang yang ada di samping lemari.
“Aku baru berniat untuk tidur setelah kau kembali,” ucapnya, ia mengangkat sebelah lengannya saat aku beranjak naik ke atas ranjang.
Aku merangkak lalu membaringkan diri di rangkulannya itu, “ada apa?” tanyanya saat tatapan mataku terjatuh lama kepadanya.
Apa yang harus aku katakan? Jika kau memang ingin melakukannya, ayo lakukan sekarang! Tidak, tidak, tidak … Tentu saja, aku tidak akan sanggup mengatakannya. Atau, kedua kakakku telah memberikan kita izin untuk melakukannya.
“Sachi?”
__ADS_1
“Ada apa denganmu? Apa ada yang mengganggu pikiranmu saat ini?”
Kepalaku menoleh menatapinya, “itu,” ucapku pelan, semakin ia menatapku, semakin itu juga jantungku berdegup tak karuan.
Alis Zeki berkerut menatapku, “jika kau memang benar ingin melakukannya. Lakukan secara perlahan, aku pernah membacanya … Jika akan sakit jika seorang perempuan baru pertama kali melakukannya. Aku memang sering terluka, tapi tetap saja aku tidak menyukai jika harus merasakan sakit,” gumamku, lirikan mataku beralih menatapi jari-jemariku yang saling bermain satu sama lain.
“Aku, benar-benar tidak mengerti apa yang kau katakan-”
“Kakakku, telah memberikan kita izin. Mereka mengatakan, jika kita bisa menahan diri untuk menunda memiliki anak terlebih dahulu, itu tidak akan jadi masalah,” aku memotong perkataannya dengan membuang pandangan menghindari tatapannya.
“Yang kau katakan ini benar, bukan? Atau telingaku yang sedang bermasalah?”
Aku beralih menatapnya, “namun, jika salah satu bagian tubuhku ini tidak memenuhi harapanmu. Ja-”
Perkataanku terhenti, mataku sedikit terpejam saat lidahnya bermain bercampur kecupan hangat menyentuh leherku, “aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu,” ucapnya, ia sedikit beranjak dengan menciumi keningku.
“Jika kau tidak menyukainya, atau jika aku tidak sengaja menyakitimu, katakan saja,” ucapnya, aku melirik ke arah tangannya yang mengusap rambutku saat wajahnya sendiri sudah sangat dekat dengan wajahku.
Zeki kembali beranjak, kedua kakinya melebar di antara kedua kakiku saat aku membalas perkataannya itu dengan anggukan. Aku meneguk ludahku sendiri ketika dia membuka pakaian yang ia kenakan, otot-otot di lengan dan perutnya semakin nampak jelas terlihat ketika ia berbalik ke samping sambil melemparkan pakaian yang sebelumnya ia kenakan.
Jantungku berdegup semakin tak karuan, ketika dia menatapku dengan kedua tangannya itu bergerak menguncir rambutnya sendiri. Zeki kembali menjatuhkan dirinya dengan kedua lengannya bertumpu di sebelah kanan dan kiri tubuhku, napasku ikut memburu mengiringi napasnya yang juga memburu di telingaku, “kau, tidak akan menyesali semua ini, bukan?”
“Karena aku, tidak akan berhenti walau kau memohon sekali pun, Darling,” bisiknya, kedua mataku lagi-lagi terpejam, saat tiupan udara hangat bercampur gigitan pelan menyentuh kembali telingaku.
______________.
NB : Karena, Chapter selanjutnya mungkin rada-rada gimana gitu ya. Jadi, BERSUMPAHLAH PADAKU KALIAN SEMUA! JANGAN MELAPORKAN CHAPTER TERSEBUT DEMI KEPENTINGAN BERSAMA. Kasihanilah mereka, yang sudah menunggu beratus-ratus hari demi saat-saat ini🙏🏻
__ADS_1