
Duduk aku di hadapan cermin, kuraih sebuah sisir kayu yang terletak di atas meja seraya kusapukan sisir tersebut menyusuri rambut cokelat bergelombang yang aku punya...
Kuletakkan sisir kayu yang ada di genggamanku tadi seraya kuraih sebuah kain pita panjang berwarna hijau yang juga terletak tak terlalu jauh dari sisir kayu tadi...
Pita hijau tadi kuarahkan hingga melilit rambutku, kunciran yang ada di rambut semakin membuat leherku jelas terlihat. Kuarahkan telapak tanganku menyentuh cekungan dalam yang mengukir di tulang selangka seraya kugerakkan telapak tanganku tadi ke atas hingga terhenti di belakang telingaku...
Entah kenapa, hatiku terasa sesak setiap kali menyentuhnya. Beberapa kali sudah aku ingin menghapusnya... Jangan lakukan sebelum kau telah mengerti akan dirimu sendiri, perkataan Izumi yang selalu ia katakan berulang-ulang... Seakan seperti sebuah duri merambat yang mengikat tanganku untuk melakukannya.
Beranjak aku berdiri seraya berjalan aku mendekati ranjang, kuangkat kakiku ke dalam sepatu berwarna putih yang ada disampingnya. Kembali aku melangkahkan kakiku mendekati pintu kamar, kubuka pintu kamar tersebut...
Keluar aku seraya kututup kembali pintu yang terbuka tadi. Melangkah aku dengan cepat sembari kuangkat sedikit gaun putih yang aku kenakan agar tak terjatuh...
"Selamat pagi, Nona," ucap dua Kesatria yang berjalan di hadapanku, membungkuk mereka berdua menatapku.
"Selamat pagi," ucapku pada mereka, kembali berjalan aku melewati mereka berdua.
Langkahku bergerak semakin cepat, jatuh aku ke terduduk seraya kupegang kuat hidungku. Kutatap Savon yang berdiri di hadapanku, diulurkannya telapak tangannya padaku.
"Apa matamu tidak berfungsi?" ucapnya menatapku.
"Itu karena kau yang langsung muncul secara tiba-tiba," balasku seraya kuraih telapak tangannya.
"Kau sendirilah yang berlari-lari di Istana," ungkapnya seraya menarik tubuhku berdiri.
"Hidungku sakit sekali, kenapa juga kau harus mengenakan baju zirah di dalam Istana," ucapku berbalik dan berjalan mendahuluinya, tak henti-hentinya kugosok-gosokkan telapak tanganku ke hidung.
"Kita tidak tahu kapan musuh akan menyerang."
"Tidak akan ada, apa kau meremehkan kedua kakakku. Aku lupa, apakah kau melihat mereka?" tanyaku seraya berbalik menatapnya.
"Tidak, aku tidak melihat mereka."
"Begitukah? Kalau begitu, aku pergi dulu," ucapku berbalik dan berlari meninggalkannya.
"Jangan berlarian, apa kau tidak mendengar perkataanku?!" teriaknya menggema di belakangku.
__ADS_1
"Aku tidak berlari, aku hanya berjalan secara cepat!" ucapku balas berteriak, semakin cepat kulangkahkan kaki menyusuri Istana.
Langkah kakiku terhenti di depan puluhan anak tangga yang bersusun rapi di depan Istana, melangkah aku pelan menuruni satu persatu anak tangga tersebut...
"Selamat hari lahir Adikku, selamat berusia lima belas tahun," terdengar suara Haruki dari arah belakangku diikuti sebuah telapak tangan menyentuh dahiku beserta sebuah ciuman di rambutku.
"Nii-chan," ungkapku yang menoleh ke arahnya tanpa sadar.
"Terima kasih, hadiah untukku?" sambungku seraya mengangkat kedua telapak tanganku padanya.
"Jika aku tidak melupakannya," ucapnya seraya mengarahkan telapak tangannya ke dalam jas hitam yang ia kenakan.
"Ambillah," sambungnya seraya menyerahkan sebuah kotak kayu padaku.
"Apa ini?" ucapku, kuarahkan telapak tanganku meraih kotak kayu yang ada padanya.
"Hadiah untukmu tentu saja," ungkapnya seraya berjalan melewati.
Kubuka kotak kayu tersebut, tampak terlihat sebuah kalung dengan sebuah batu permata berwarna hijau di tengahnya. Kuangkat kalung tersebut ke hadapanku...
"Itu dinamakan Alexandrite, jika di tempat terang ia berwarna hijau seperti Zamrud, akan tetapi jika kau letakkan di tempat gelap, ia akan berubah warna menjadi merah layaknya Rubi," ungkapnya seraya terus berjalan ke depan.
"Benarkah?" ucapku seraya meletakkan kotak kayu yang aku pegang ke atas tangga, kuangkat kedua telapak tanganku seraya kuletakkan kalung tersebut di tengah-tengahnya. Kututup sebelah kelopak mataku sembari berusaha mengintip kalung yang berada di genggamanku itu.
"Ini benar-benar berubah warna, terima kasih nii-chan. Aku mencintaimu!" teriakku seraya menatap punggungnya yang masih berjalan menjauh.
"Aku juga mencintaimu," ucapnya tetap berjalan, diangkat serta dilambaikannya telapak tangannya ke arahku.
Membungkuk aku seraya meraih kembali kotak kayu yang aku letakkan sebelumnya, kuletakkan kembali kalung pemberian Haruki ke dalam kotak kayu tersebut. Kembali melangkah aku menuruni tangga lalu berbelok aku sembari mengambil jalan yang berlawanan dari Haruki...
Kuhentikan langkahku menatap para Kesatria yang berbaris rapi di hadapan Izumi, melangkah aku mendekati Izumi yang tampak sibuk bertarung satu lawan lima bersama para Kesatria...
Melangkah aku mendekati Raja Dante yang tengah duduk mengawasi Izumi dengan Gil yang berdiri di sampingnya. Ikut duduk aku di salah satu bangku yang tak terlalu jauh darinya...
"Kakakmu mengagumkan sekali," ucapnya seraya tetap menatap Izumi yang berhasil menerjang dua orang Kesatria sekaligus.
__ADS_1
"Mereka berdua memang mengagumkan, aku sendiripun mengakuinya," balasku seraya tersenyum menatap Izumi yang menoleh ke arahku.
Diangkatnya telapak tangannya seraya berbicara ia kepada para Kesatria tadi, berbalik ia berjalan mendekati kami yang duduk menatapnya...
"Apa yang kau lakukan disini?" ucapnya menatapku seraya berdiri ia tepat di hadapanku.
"Kau tidak melupakan sesuatu bukan?" sambungku, kuangkat kedua telapak tanganku menadah ke arahnya.
"Apa aku terlihat membawa sesuatu sekarang?" ungkapnya seraya mengangkat kedua telapak tangannya ke udara.
"Aku mengerti," ucapku mengalihkan perhatian darinya.
"Aku tidak melupakannya, mana mungkin aku melupakannya... Selamat hari lahir Adikku, aku menyayangimu," ucapnya berjalan mendekatiku, diraihnya kedua pipiku menggunakan telapak tangannya seraya diciumnya dahiku olehnya.
"Aku pikir kau akan melupakannya."
"Aku tidak akan melupakannya," sambung Izumi yang menatapku dengan tatapan mata yang berbinar.
"Berapa usiamu sekarang Nona Sakura?" ucap Raja Dante, menoleh aku menatapnya.
"Lima belas," jawabku singkat padanya.
"Dua tahun lagi, maukah kau menikah denganku dan menjadi Ratu di Kerajaanku?" ucapnya tertunduk.
"Hah? Ulangi perkataanmu wahai Raja," ucap Izumi menatapnya, ditutupnya seluruh wajahnya seakan menghindari tatapan Izumi.
"Kau ingin aku menikah denganmu?" tanyaku, mengangguk ia beberapa kali menanggapi perkataanku.
"Aku tidak masalah. Hanya saja, jika kau berhasil melakukan satu syarat dariku."
"Apa itu?" ucapnya menatapku.
"Aku ingin kau mencium siku lengan kananmu tanpa bantuan apapun maupun bantuan siapapun, jika kau berhasil melakukannya... Aku akan menikah denganmu..."
"Jangankan dua tahun, jika kau dapat melakukannya sekarang... Aku akan menikah denganmu saat ini juga," sambungku lagi seraya tersenyum menatapnya.
__ADS_1