
Langkahku terhenti saat seorang Kesatria jatuh ke belakang oleh tendangan yang dilakukan Izumi, “apa yang dilakukan oleh mereka?”
Aku melirik ke arah Amanda yang berdiri di sampingku, “mereka hanya melakukan apa yang harus mereka lakukan untuk tujuan kami,” ungkapku yang kembali melanjutkan langkah mendekati kedua kakakku.
“Panggil Rajamu, katakan … Kami ingin bertemu,” ungkap Izumi, dia mendorong ke belakang tubuh Kesatria lain yang lehernya ia cekik.
Kesatria itu sedikit berguling dengan memegang lehernya. Dia terbatuk-batuk diikuti kepalanya yang tertunduk dengan sebelah tangannya menggenggam tanah. Langkah kaki Izumi yang sebelumnya ingin bergerak mendekati dua Kesatria yang lain, terhenti ketika Haruki berjalan melewatinya dengan menepuk belakang punggungnya.
“Kami, utusan dari Kerajaan Balawijaya. Katakan kepada Raja kalian, kami ingin menemui mereka,” ucap Haruki saat langkahnya terhenti di depan empat Kesatria itu.
Langkahku berhenti, kedua tanganku bergerak membantu seorang laki-laki tua yang sebelumnya sempat disiksa oleh empat Kesatria tadi, “Eneas, bantu aku untuk membersihkan lukanya,” Eneas mengangguk pelan ketika kepalaku mendongak ke arahnya.
“Apa kau baik-baik saja, Kakek?”
“Jangan melawan seseorang yang jelas-jelas tidak sanggup untuk melawan kalian. Pilihlah lawan yang seimbang, kalian Kesatria sialan!” gerutuku sembari melirik tajam ke arah salah seorang Kesatria yang sebelumnya diterjang Izumi.
“Nee-chan, biar aku saja yang mengurusnya.”
“Apa kau yakin, Eneas?” tanyaku dengan kembali menatap ke arahnya.
Aku kembali beranjak berdiri saat Eneas menganggukkan kepalanya. Aku menarik napas dalam sebelum mengembuskannya kembali dengan masih menatap tiga orang kesatria yang tersisa setelah salah seorang dari mereka berlari kembali mendekati gerbang Istana. “Nii-chan, apa kau baik-baik saja?” tanyaku kepada Izumi yang berjalan mendekat.
Izumi menghentikan langkahnya diikuti pandangan matanya yang menoleh ke arah belakang, tepatnya ke arah tiga orang Kesatria tersebut, “aku baik-baik saja. Mereka terlalu lemah untuk ukuran seorang Kesatria,” ucap Izumi sembari melirik kembali ke arahku.
Aku melirik ke arah Amanda yang menatap kami dengan matanya yang terlihat menyimpan banyak sekali pertanyaan. “Bagaimana keadaannya?” Kepalaku sedikit bergerak. menatap Haruki yang telah berjalan mendekat.
__ADS_1
“Dia baik-baik saja. Tidak ada luka serius,” jawab Eneas yang beranjak dengan memapah kakek yang sebelumnya terluka di sampingnya.
“Kakek, apa kau bisa berjalan?”
“Apa kalian pendatang?” Kakek itu balas bertanya saat Izumi meraih lengannya ketika dia hampir jatuh ke samping.
“Kami pendatang.”
Kakek itu langsung mengangkat sebelah tangannya menutup wajah, suara tangis terdengar darinya ketika Haruki mengucapkan kata-kata itu kepadanya. “Terima kasih Deus, terima kasih,” ungkap sang Kakek sambil sesenggukan diikuti kepalanya yang tertunduk menyentuh tangan Izumi.
Aku berbalik saat suara derap langkah mendekat, kutatap sekumpulan Kesatria memakai baju zirah tengah berjalan mendekat. “Yang Mulia, meminta kalian untuk datang menemuinya,” ungkap salah satu laki-laki yang berjalan memimpin Kesatria lainnya.
Haruki menoleh ke belakang dengan melirik ke arah kami bergantian, dia menganggukkan kepalanya sebelum berjalan menyusul para Kesatria yang telah berjalan ke samping … Memberikan jalan kepada kami untuk kami lewati. Aku menoleh ke belakang, ke arah Amanda yang masih berdiri mematung sebelum langkahku kembali bergerak menyusul mereka yang kian berjalan menjauh.
Kami terus melangkah maju melewati gerbang Istana, dengan salah seorang Kesatria yang memimpin kami di depan. "Lewat sini!" tukas Kesatria tersebut dengan berbelok ke samping hingga kami kembali menemui sebuah pintu besar berdaun dua, setelah sebelumnya kami berlima melangkahkan kaki menyusuri Taman Istana.
Dia membawa kami menyusuri bagian dalam Istana, obor-obor kecil yang menempel di dinding ... Membuat keadaan di sekitar sedikit terang. Sesekali, aku melirik ke dinding, menatap ukiran-ukiran pohon dengan bunga, layaknya hutan yang tercetak di sana.
"Yang Mulia, mereka telah datang."
Pandanganku beralih kepada laki-laki tadi yang telah berdiri di sebuah pintu cokelat dengan sesekali ketukan ikut terdengar menyertai panggilannya. Berselang, laki-laki itu membuka dengan perlahan pintu tersebut, "masuklah!" perintahnya kepada kami ketika pintu itu telah terbuka.
Aku melangkah mengikuti Haruki yang telah masuk ke dalam disusul dengan Eneas yang berjalan di belakangnya. Tubuhku tertegun, menatap sebuah ranjang besar dengan tirai kelambu terbuka yang menempel di tiang penyangga yang ada di sisi kanan dan kiri ranjang.
Aku melirik ke kiri, saat cahaya tiba-tiba masuk ke dalam. Lama kutatap laki-laki Kesatria yang menuntun kami itu, telah berdiri dengan menggenggam tirai jendela yang sebelumnya ia buka di tangannya. "Kemarilah!" Aku kembali menggigit bibirku saat suara laki-laki parau tiba-tiba menyentuh telinga.
__ADS_1
"Apa kalian datang karena menerima surat dariku?" tukas suara parau itu lagi-lagi terdengar.
"Apa surat itu berasal darimu? Siapa kau?" tanya Haruki beruntun kepada laki-laki renta yang terbaring di ranjang.
"Apa kau, Haruki?"
Kedua mataku membelalak saat Kakek tua itu menggerakkan wajahnya menoleh ke arah kami, "lama tidak melihat kalian, Izumi, Sachi," ucapnya kembali dengan melirik Izumi dan aku bergantian.
"Alvaro?" tukasku gemetar, aku melirik ke arah Haruki dan juga Izumi yang telah menoleh ke arahku.
"Senang rasanya kau masih mengingatku, Sachi," ungkapnya sambil tersenyum hingga guratan keriput di wajahnya kian jelas terlihat.
"Aku tahu, kalian akan datang," sambungnya dengan kembali melirik ke arah kami bergantian.
"Apa yang terjadi kepadamu?"
"Izumi!"
Langkah kaki Izumi terhenti saat suara Haruki membentaknya. "Ini bukanlah kutukan nii-chan, aku ... Sama sekali tidak merasakan adanya sihir apa pun di sekitar sini," timpalku menggunakan bahasa Jepang sambil melangkahkan kaki mendekati ranjang.
Aku duduk di samping ranjang, lama kutatap wajahnya yang penuh keriput itu menatapku. "Apa yang terjadi kepadamu?" tanyaku saat mataku kembali terjatuh ke arah rambutnya yang telah memutih.
"Aku pun tidak tahu apa yang terjadi, Hime-sama."
"Tubuhku, tiba-tiba saja berubah menua saat usiaku menginjak dua belas tahun. Aku bahagia," ungkapnya, dengan tersenyum menatapku.
__ADS_1
"Keinginanku untuk melihat kalian kembali sebelum aku mati akhirnya terpenuhi," sambungnya kembali, aku melirik ke samping ketika Izumi sendiri telah duduk berjongkok di sampingku.